Pergilah Berdamai dahulu dengan saudara-mu.

Injil Matius hari ini (MAT 5:20-26) mengajak kita dengan mengatakan:” Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu”. Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda:” Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga”. Bagaimana kehidupan ahli Taurat dan orang Farisi itu? Mereka hidup beragama dengan penuh kemunafikan. Mereka menindas rakyat atas nama agama, sehingga kehadiran Yesus di tengah mereka, merupakan angin baru dalam hidup beragama. Terjadilah di situ konflik – konflik dalam menjalani kehidupan keagamaan. Yesus mengajarkan sesuatu yang sama sekali baru dari pada hukum Taurat yang terbatas pada mperaturan-peraturan. Ada ratusan peraturan hukum Taurat, tapi tidak semua peraturan itu berasal dari Tuhan. Hampir semuanya berasal dari aturan manusia. Oleh karena itu ketika Yesus memberikan pengajaran baru, mereka sebenarnya tidak mampu menolaknya. Tapi karena itu tertulis di hukum Taurat, mereka melaksanakan dengan “buta hati”.

“Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu” adalah semacam perintah baru. Hidup kita harus dipenuhi dengan damai sukacita. Yesus tidak mengajarkan “mata ganti mata”, tapi cintakasih sebagaimana Hukum Tertinggi pengikut Kristus. Hukum itu begitu besarnya, sehingga setiap langkah dan tindak tanduk kita harus berdasarkan kasih. Karena kalau selalu mendengungkan hukum kasih, maka yang terjadi adalah damai sukacita. Yesus tidak menghendaki kehidupan kita ini penuh dengan kegaduhan, tapi penuh kasih dan sukacita yang akan membawa damai di mana pun kita berada.

Ketika Yesus bangkit di antara oeng mati, Yesus selalu menyerukan “syalom”, yang berarti damai sukacita. Sebenarnya ketika terjadi konflik dengan ahli Taurat dan orang Farisi, Yesus tidak menghendakinya. Yesus ingin memberikan pengajaran baru kepada mereka. Tapi karena hati mereka sudah tertutup, maka Yesus membiarkan mereka dengan mengatakan;”Hendaknya yang punya telinga, mendengarkan”. Kita dikaruniai telinga, tapi jarang kita tidak pergunakan untuk mendengar Firman Tuhan. Kita lebih cenderung hal-hal yang sifatnya sangat duniawi. Bukan kita tidak butuh dunia ini, kita butuh duniayang ramah dan penuh damai sukacita. Karena pada dasarnya kita ini adalah debu ciptaan Tuhan, yang sewaktu-waktu akan kembali kepada debu. Tapi roh kita akan kembali kepada Sang Ilahi. Oleh karena itu, hidup damai sukacita adalah sebuah perjuangan tanpa akhir. Artinya setiap waktu harus berjuang untuk menciptakan hidup damai sukacita dimana saja dan kapan saja.

Demikianlah reflkesi www.kuasadoa.com, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.