Apa gunanya memiliki dunia, tapi kehilangan nyawanya?

Hari Penginjil Lukas ( Luk 9:22-25) mengatakan antara lain:”

Apa gunanya memiliki dunia, tapi kehilangan nyawanya?

“. Suatu refleksi yang menarik bagi kehidupan kita. Banyak di antara kita yang terus berburu harta benda, sampai melupakan tugas kemanusiaannya dan lupa akan keselamatan jiwanya. Ada yang bekerja mati-matian, agar mampu menumpuk harta benda sampai ia/mereka melupakan kesehatannya baik kesehatan jiwa mau pun kesehatan raganya. Apa itu tidak boleh dan melanggar aturan? Tentu saja tidak. Boleh saja kita mencari harta benda dengan leluasa dan dengan jujur. Sama sekali tidak ada larangan. Yang menjadi masalah apakah kita hidup ini hanya untuk mencari harta benda semata. Kita hidup untuk mencari makan, atau kita makan agar kita bisa hidup? Seringkali pertanyaan itu dilontarkan kepada kita untuk dijadikan sebuah refleksi kehidupan.

Sebagai pengikut Kristus, kita akan merefleksi bahwa kita makan agar kita bisa hidup. Artinya bahwa kita harus bekerja, agar makan tercukupi bagi kehidupannya. Kalau kita terus mencari harta benda dan melupakan kesehatan rohani, maka kita akan kehilangan segalanya. Di mana letak kehilangannya? Secara duniawi, memang kita harus bekerja keras agar terkumpul harta benda yang banyak. Tapi seperti Jesus sabdakan “Apa gunanya memiliki dunia, tapi kita kehilangan nyawanya. Kita mati kita tidak membawa harta benda kita,. Kita mati hanya membawa kain penutup badan kita, kita tidak membawa apa-apa lagi. Kalau nasib bagus, Tuhan akan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, kalau tidak sempat kita akan kehilangan segalanya.

Kita semua dikarunia, nafas kehidupan serta kesehatan, dan apa yang kita dapat kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Kita dapat banyak, kita harus pertanggungjawabkan banyak juga. Kalau sedikit, kita pertanggungjawabkan ya sedikit, sesuai dengan kemampuan kita. Tuhan sangat mengharapkan bahwa kita yang sudah terlahirkan di dunia ini, pada akhirnya selamat.

Di masa Prapaskah 2021, Gereja lebih menitik beratkan kepada pertobatan kita. Jadi kita mengurangi asupan jasmani dengan pantang dan puasa, tetapi memberikan asupan yang lebih bergizi untuk kesehatan rohani kita melalui pertobatan kita. Tentu tidak hanya pertobatan semata, tapi juga lebih banyak doa, membaca Kitab Suci untuk menerima pencerahan dari Tuhan tentang kehidupan ini, juga menerima Sakramen Ekaristi. Marilah dalam masa Prapaskah ini, jangan lupa juga berbagi kepada sesama kita.

Demikianlah refleksi www.kuasadoa.com hari ini, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.