Kebencian membuat manusia menjadi jahat.


[su_dropcap]K[/su_dropcap]ebencian membuat manusia menjadi jahat tersirat dalam peristiwa penyembuhan seorang yang lumpuh oleh Yesus di kolam Betesda. Injil Yohanes (Yoh 5:1-16) hari ini mengisahkan bagaimana seorang yang lumpuh selama 38 tahun menunggu di pinggir kolam Betesda sewaktu kolam itu ada riak gelombangnya dapat menuju kolam itu dan nyemplung dan dengan demikian ia akan sembuh. Konon kisahnya siapa saja dengan penyakit apa pun akan sembuh bila masuk ke dalam kolam itu. Si lumpuh ini telah menunggu selama 38 tahun, tapi bila air kolam bergerak, ia tidak mampu untuk masuk ke dalam kolam, karena orang lain telah mendahuluinya, sehingga ia terus mengalami kegagalan masuk ke dalam kolam, sampai akhirnya Yesus hadir di dekatnya.

Tawaran Yesus kepada si lumpuh apakah ia mau sembuh, tentu suatu tawaran yang luar biasa. Pengalamannya sebagai orang yang lumpuh selama 38 tahun adalah suatu pengalaman penderitaan seolah tanpa berkesudahan. Tawaran Yesus untuk sembuh tentu sebuah penyejuk hati, walau ia sendiri belum tahu siapakah sosok Yesus itu. Ajakan serta tawaran yang menyembuhkan membuka sebuah harapan baru akan kesembuhan dari kelumpuhan secara jasmani tetapi kelumpuhan rohaninya.

Kesediaan menerima Yesus untuk disembuhkan menjadi harapan, dan memang terjadilah demikian. Si lumpuh itu sembuh dan berjalan seabgaimana orang sehat pada umumnya. Sayang, hari itu adalah hari sabat, hari yang dikuduskan oleh umat Yahudi, sebagai hari untuk memuliakan Tuhan. Dengan demikian, baik itu hanya mengangkat tikar atau menyembuhkan orang sakit sebagaimana Yesus lakukan dianggap melanggar hukum Taurat di mana hari sabat orang tidak boleh bekerja. Ketika para pemuka Yahudi bertanya siapakah yang menyembuhkan si lumpuh, ia tidak tahu orangnya. Suatu kali ia bertemu dengan Yesus di Bait Allah, ia pun menunjuk Yesuslah yang menyembuhkan dirinya. Kata-kata Yesus kepada si lumpuh: Ingat engkau sudah sembuh, jangan berbuat dosa lagi, supaya jangan terjadi yang lebih buruk lagi padamu” (Yoh 1:14)Apakah maksud pernyataan Yesus itu? Apakah kelumpuhan orang itu berkaitan dengan kelumpuhan moralnya atau kelumpuhan rohaninya. Tentu saja apa yang disampaikan oleh Yesus kepada si lumpuh itu juga disampaikan kepada kita. Bahwa bisa jadi penyakit phisik terjadi akibat moral kita yang buruk atau kelumpuhan rohani kita.

Ajaran Yesus hari ini memberikan pencerahan rohani kepada kita bahwa segala penderitaan, sakit penyakit dll itu terjadi akibat kita kurang paham tentang hidup rohani, sehingga hidup kita ngawur tanpa tujuan. Tapi Yesus sendiri mengatakan:’ Sakit penyakit itu tidak membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, supaya melalui sakit penyakit itu Anak Allah dimuliakan” (Yoh 11:4).

Tak dipungkiri bahwa dalam hal berbuat baik, Iblis selalu hadir. Iblis ini tergambar pada pemuka agama Yahudi sebagai pemangku kepentingan di dalam menegakkan hukum agama. Mungkinkah Allah yang baik itu melarang orang berbuat baik pada hari Sabat. Orang Yahudi masih gagal paham tentang sosok Yesus. karena hatinya yang beku, mereka kehilangan cahaya terang akan kebenaran. Yesus Sang Terang menyinari siapa saja, tetapi kalau orang itu tidak membuka hati, dan kebencian terus menyinari hatinya, maka ia telah kehilangan cahaya kebenaran itu.

Demikian juga kalau hidup kita penuh dengan kebencian, maka kita akhirnya akan masuk dalam perangkat kejahatan, dan menjadi pendosa-pendosa berat.

Oleh karena itu, dalam masa Prapaskah ini kita belajar dari pengalaman hidup Yesus yang penuh dengan belas kasih dan pengampunan kepada orang yang bertobat. Tawaran keselamatan itu diberikan kepada siapa saja, ia menolak atau menerima. Menerima berarti selamat, menolak berarti binasa.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang’ kebencian membuat manusia menjadi jahat’, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.