Puasa: membuka belenggu kelaliman dan mau berbagi.

[su_dropcap]N[/su_dropcap]abi Yesaya ((Yes 51:1-9a) mengatakan:”Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk; membagi-bagikan rotimu bagi orang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri”. Inilah penggalan makna puasa sebagaimana nabi Yesaya sampaikan kepada bangsa Israel. Tentu saja puasa ini bukan dimaksudkan untuk memperoleh pujian dari dunia, tetapi dengan puasa itu kita memperoleh manfaat untuk kesalehan hidup. Makna puasa itu menjadi hilang atau tidak bermanfaat, kalau kita tidak membuka belenggu-belenggu duniawi seperti kelaliman serta tidak mau berbagi kepada sesama.

Gereja saat ini tengah melaksanakan pantang dan puasa selama masa prapaskah ini, yang diawali pada hari Rabu Abu. Sewaktu kita menerima abu pada dahi atau kepala kita,maka terucaplah dari mulut romo atau pembantunya dengan mengatakan:’ Bertobatlah dan percayalah pada Injil’. Kita sebagai manusia berasal dari debu dan akan kembali kepada debu, dan debu (manusia) itu bermanfaat bagi hati Allah, maka manusia harus hidup bakti kepada Allah. Dengan membaca Firman, dan melaksanakan perintah-Nya, maka hati Allah akan berbunga-bunga. Hati Allah sangat bersukacita, karena kita sebagai manusia dan sebagai gambar (citra) Allah sungguh bakti kepada-Nya melalui pertobatan kita.

Oleh karena itu, pantang dan puasa sangat bermanfaat untuk memperoleh kesalehan hidup. Namun pantang dan puasa itu tidak bermanfaat manakala kita tidak mau membuka belenggu dosa dunia dalam bentuk kelaliman seperti kebencian, irihati, kesombongan, kemarahan, ketamakan, dan naspu-napsu seksual yang kesemuanya mengarah kepada kejahatan.

Injil Matius (Mat 9:14-15) hari ini mengajarkan kepada kita semua bahwa pantang dan puasa memang penting, tapi jangan hanya menjadi simbul untuk mencari pujian dunia. Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis bertanya kepada Yesus mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa, Yesus menegaskan bahwa puasa harus diberikan makna baru. Puasa harus punya makna baru dalam artian kalau setiap hati manusia selalu merindukan kehadiran Tuhan, bukan hanya supaya dilihat orang dan ini berbahaya. Yesus menjelaskan ‘dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka?Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa’. Ungkapan ini dapat diartikan bahwa selama Tuhan hadir bersama kita, tentu kita akan mengalami damai sukacita. Tetapi kita akan berpuasa apabila kita jauh dari Allah. Dengan kata lain, dengan pantang dan puasa, kita ingin dekat dengan Allah. Pantang dan puasa bukan dalam sekedar mengurangi makan dan minum, tetapi sungguh merupakan pertobatan, dengan harapan makin lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Allah.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang ‘puasa: membuka belenggu kelaliman dan berbagi’, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.