Harta kekayaan telah menjadi ilah-ilah baru.

[su_dropcap]K[/su_dropcap]ini harta kekayaan telah menjadi ilah-ilah baru. Banyak manusia telah kehilangan nalar dan hatinya, dan Allah yang sesungguhnya telah tidak lagi berperan. Sebagai ilah-ilah baru, harta kekayaan telah berubag fungis sebagai alat untuk memuliakan Tuhan, tetapi telah menjadi sumber berhala dalam hidup ini. Injil Markus (Mrk 10:17-27) hari ini bagaimana Yesus menasehati kita semua jangan sampai kita terjebak di mana harta milik menjadi sumber kehancuran dalam hidup ini.

Dalam Mat 19:21 tertulis:” Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin”. Dari gambaran ini, bagi orang yang mau mengikuti Yesus harus merelakan semua yang miliki, memberikan hasilnya kepada orang miskin, dan kemudian mengikuti Dia.

Namun betapa kecewanya seorang pemuda yang datang kepada Yesus hari ini, karena ia mendapatkan jawaban yang cukup mengecewakan. Betapa tidak kecewanya. Sebagai pemuda Yahudi, ia telah melaksanakan hukum Taurat dengan baik seperti tidak membunuh, berzinah, dan lain-lainnya. Ketika Yesus mengatakan untuk menjual segala harta miliknya dan kemudian mengikuti Yesus, ia sangat kecewa. Hal ini terjadi karena pemuda ini sangat kaya, banyak sekali hartanya. Akhirnya ia meninggalkan Yesus, karena ia sangat kecewa.

Dari gambaran ini, Yesus mau menekankan betapa harta kekayaan bisa menjadi batu sandungan untuk memperoleh Kerajaan Surga. Banyak orang memiliki harta kekayaan yang luar biasa, sehingga kekayaannya telah menjadi ilah yang baru. Peran Allah tidak menjadi penting, karena di mana harta kekayaan itu di situlah hati manusia.

Oleh karena itu Yesus menasehatkan kepada kita sebagai murid-murid Yesus pada jaman ini betapa harta dunia menjadi batu sandungan yang luar biasa. Banyak orang berpikir bhawa harta dunia yang dimilikinya merupakan hasil usaha kerasnya. banyak orang lupa bahwa kekayaan yang dimiliki hanya sebagai titipan saja. Bukankah segala apa yang kita miliki semuanya milik Allah. Sekiranya kita berpikir sederhana seperti, maka harta dunia yang menempel pada kita adalah milik Allah. Sekiranya Tuhan mengambil harta dengan cara Tuhan, kita pun harus merelakannya. Kita tidak perlu merasa kawatir terhadap apa yang kita miliki. Sekiranya berpikir sesederhana itu, maka kita akan lebih mudah menerima segala resiko yang kita hadapi, karena apa yang kita miliki adalah milik Tuhan. Artinya Tuhan yang memberi, dan Tuhan pula yang mengambil.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang ‘harta kekayaan telah menjadi ilah-ilah baru’, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.