Siapakah yang terbesar di antara kita?

[su_dropcap]P[/su_dropcap]ertanyaan Yesus kepada para murid-Nya ‘siapakah yang terbesar di antara kalian?’. Pertanyaan ini disampaikan kepada murid-Nya ketika Yesus mengetahuinya bahwa mereka sedang bertengkar di antara mereka. Pertengkaran itu mungkin terjadi karena adanya hak-hak istimewa yang diberikan kepada ketiga murid yang dipilih untuk menyaksikan pemuliaan Tuhan di gunung Tabor.

Demikianlah dalam tabiat manusia, bahwa juga hak istimewa dalam rohani yang tertinggi dapat menimbulkan ketinggian hati. Salah satu dosa pokok adalah ketinggian hati. Ketinggian hati adalah lawan kerendahan hati, yang menjadi perhiasan para malaikat, dan ketinggian hati adalah ciri khas setan-setan.

Kerendahan hati begitu penting, sehingga sering dikatakan bahwa kerendahan hati adalah segalanya, sebab seperti perkataan St. Agustinus, kerendahan hati menarik perhatian Allah yang Maha Tinggi. Kerendahan hati menjadi jalan keselamatan bagi manusia yang berdosa. Sebagai nilai kebajikan yang pertama, dan dasar semua nilai kebajikan yang lain, menurut St. Thomas, kerendahan hati menjadi sesuatu yang diperlukan untuk mencapai Kerajaan Surga, sebab kerendahan hati menghapuskan semua penghalang untuk menerima rahmat Tuhan.

Namun demikian, kerendahan hati bukanlah segalanya, sebab kerendahan hati bukan kebajikan yang terbesar. Tempatnya tidak setinggi kebajikan ilahi seperti, iman, pengharapan dan kasih (KGK 1812-1829), kebajikan akal dan kebajikan moral seperti kebijaksanaan, agama dan hukum keadilan. Kerendahan hati bukanlah akhir dari kesempurnaan kehidupan rohani, namun hanya merupakan sarana untuk mencapai hal itu. Kerendahan hati adalah langkah pertama dan langkah seterusnya untuk mencapai kesempurnaan kasih kepada Tuhan dan sesama, yang menjadi tujuan akhir panggilan hidup kita. Saat kita berjuang untuk menjadi semakin rendah hati setiap hari, marilah kita mempercayakan diri kita ke dalam tangan Tuhan dan berdoa, “Yesus, yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu.”

Selain Kristus, Bunda Maria adalah contoh yang sempurna tentang kerendahan hati dan kesempurnaan kasih. Kerendahan hati Maria-lah yang mendorong Allah untuk memilihnya sebagai ibu Putera-Nya Yesus. Bunda Maria menyadari bahwa ia dikaruniai oleh rahmat yang istimewa dengan menjadi Bunda Allah yang MahaTinggi, namun ia tetap rendah hati, dengan menganggap dirinya sebagai hamba di hadapan Allah. Ia hanya mencari kehendak Tuhan, dengan berkata, “Jadilah padaku menurut perkataanmu (Luk 1:38).” Melalui kidung Magnificat, kita mengetahui bahwa Maria menganggap segala yang baik pada dirinya sebagai karunia belas kasih Tuhan. Dengan rahmat Tuhan, Bunda Maria hidup dengan rendah hati, menyerahkan diri secara total kepada Tuhan dan sesama, dan bekerja sama dengan misi Keselamatan Kristus.

Dengan demikian, untuk menjadi yang terbesar kita harus belajar banyak dari Yesus sebagai keteladanan yang paling sempurna, dan juga dapat belajar dari Bunda Maria, bagaimana ia sepenuhnya menyeahkan hidupnya kepada kerahiman Allah.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang’siapakah yang terbesar di antara kita”, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.