Kerahiman Allah.

[su_dropcap style=”light” size=”5″]I[/su_dropcap]Injil Lukas (Luk 15:1-3,11-32) hari ini mengisahkan anak hilang yang kembali. Kisah anak hilang ini cukup terkenal dan mudah dipahami dengan baik oleh banyak orang. Banyak inspirasi dari kisah tentang anak yang hilang. Dari gambaran Injil hari ini tentang anak yang hilang, terlihat ada suatu gambaran tentang bagaimana kerahiman Allah yang tanpa batas, di mana di dalam terdapat belas kasih Allah yang luar biasa.

Gambaran tentang anak yang hilang dan tentang bapa yang penuh belas kasih mencerminkan bagaimana sejatinya relasi manusia dengan Allah. Anak yang hilang menggambarkan seorang pendosa yang bertobat, walau menurut tradisi pembagian warisan itu akan diberikan setelah bapaknya mati. Namun bapaknya memberikan kemauan anaknya dengan memberikan segala permintaannya. Namun anak itu tidak selamanya hidup bahagia, bahkan betapa ia telah berdosa. Di negeri di mana hidup, ia mengalami kelaparan, sehingga ia harus hidup dengan makanan untuk babi-babi. Betapa hinanya. Untuk itu ia teringat akan bapaknya yang memiliki kekayaan yang berlimpah dan hamba-hamba yang sangat banyak. Akhirnya ia menyesali perbuatannya, dan ingin kembali kepada orang tuanya. Sebelum berangkat pulang, ia telah memberpsiakan sebuah doa, katanya:[su_heading size=”20″ align=”left” margin=”30″]” Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak disebut anak Bapa”[/su_heading]

Ketika ia mau sampai di rumahnya, bapaknya melihat bahwa anaknya yang hilang itu telah kembali, atau bahkan dikatakan anaknya yang telah mati itu hidup kembali. Di sini tergambar betapa Allah yang maharahim itu tidak peduli kepada siapa pun, ia akan diampuni dosanya.

Kerahiman Allah yang memerdekakan demikian Aksi Puasa Pembangunan Keuskupan Agung Jakarta menggambarkan betapa kerahaminan Allah yanga tanpa batas mencintai setiap pendosa yang bertobat. Kerahiman Alla yang tanpa batas membawa manusia menjadi manusia yang merdeka dari belenggu dosa.

Kerahiman Allah adalah kerahiman yang memelihara, yang menghidupi, yang mengampuni, yang mengasihi para pendosa yang bertobat.

Dalam masa Prapaskah ini, dengan kisah anak yang hilang betapa Allah yang rahim akan membebaskan dosa-dosa kita, jika kita mau bertobat. Kerahiman Allah yang tanpa batas sungguh membebaskan siapa saja yang mau bertobat dan kembali kepada jalan Allah yang maha rahim.

Kerahiman Allah tidak pernah berubah dari dulu, sekarang dan selamanya. Pertobatan sebagai pangkal keselamatan menggambarkan betapa kerahiman Allah tidak pernah pudar, dan tidak pernah luntur, bagi siapa pun yang mau bertobat. Suatu kehidupan yang penuh goda dan dosa itu akan menjadi damai suka cita, kalau di dalam hidup ini selalu ada pertobatan.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini tentang ‘kerahiman Allah’, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.