Orang kaya dan Lazarus,si miskin.

[su_dropcap style=”light” size=”5″]K[/su_dropcap]isah orang kaya dan Lazarus, seorang yang miskin merupakan kisah Injil yang menarik dicermati. Selain cukup terkenal, kisah ini juga merupakan suatu ajaran mengenai kondisi orang kaya dan miskin di dunia dan setelah kematian mereka. Kisah itu juga bagaimana ajaran Yesus mengenai penggunaan semestinya atas kekayaan yang dimiliki dan nasib orang miskin. Seorang kaya mengetahui jelas kebutuhan pengemis di pintu gerbangnya.

Dewasa ini tidak banyak orang yang tidak menyadari seriusnya kesempatan sekarang ini untuk mempersiapkan hidup kekal di masa yang akan datang. Bukan kekayaan yang menjauhkan seseorang dari pangkuan Abraham, melainkan pengelolaannya yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Kehidupan dua orang itu sungguh berbeda baik dunia maupun setelah keduanya mati. Lazarus si miskin dibawa pergi oleh para malaikat, sementara orang kaya hanyalah dikuburkan. Orang kaya berada di ‘dunia bawah’, atau ‘Syeol atau Hades. Tempat ini benar-benar terpisah dari tempat kebahagiaan Abraham. Tempat ini memang tidak sama dengan neraka. Orang kaya itu dapat melihat Lazarus, si miskin. Orang kaya itu masih berpikir mengenai Lazarus sebagai hambanya. Untuk itu ia meminta Lazarus memberi setetes air untuk mendinginkan lidahnya. Kemudian si kaya itu meminta supaya Lazarus pergi memperingatkan saudara-saudaranya. Lazarus barangkali terkejut disebut namanya. Abraham juga menjelaskan kepada orang kaya, mengapa kenyataannya begitu terbalik. Meskipun orang kaya itu menyebut Abraham sebagai bapanya, ia hanyalah anak Abraham berdasar hubungan darah, bukan karena hubungan spiritual yang membuahkan keselamatan.

Bahwa orang kaya yang menginginkan Lazarus pergi ke sanak-saudaranya adalah tanda bahwa ia memperhatikan orang lain, tetapi terlambat. Ini menjadi tidak ada gunanya. Terkadang Kristus mengritik keras orang Farisi dan ahli Taurat bahwa pelaksanaan lahiriah hukum dan ketelitian dangkal atas pelaksanaan hukum tidak berarti mendengarkan Sabda Allah. Yang dibutuhkan adalah mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah.

Pesan yang dapat ditangkap dari bacaan Injil Lukas (Luk 16:19-31) hari ini antara lain juga bahwa kesaksian Musa dan para nabi seharusnya menjadi acuan dalam hidup ini. Sekiranya mendengarkan dan melaksanakan ajarannya, maka tidak ada kata terlambat.

Dalam masa Prapaskah Minggu II ini marilah kita mendengarkan ajaran Yesus dan melaksanakannya. Jangan sampai kita mempunyai nasib seperti orang kaya yang sudah terlambat. Setelah kematian tidak lagi kesempatan untuk bertobat. Pertobatan hanya terjadi selama di dunia. Oleh karena itu, jangan sampai kita mennjadi orang kaya yang bodoh, karena terlambat melaksanakan ajaran Tuhan melalui para saksinya di dunia ini. Dengan demikian, marilah kita terus mencoba mengelola kehidupan ini menjadi lebih baik untuk menyongsong hari depan yang cerah di dalam Kerajaan Surga.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang ‘orang kaya dan Lazarus, si miskin’, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.