Kemartiran Yohanes Pembaptis.

[su_dropcap style=”light” size=”5″]K[/su_dropcap]ematian Yohanes Pembaptis sebagai martir memang cukup mengenaskan. Ia mati dengan cara dipenggal kepalanya. Ia mati sebagai martir karena kurban sakit hati (kebusukan hati) oleh seorang raja yang berkonspirasi dengan isterinya yang bernama Herodias. Kemartiran Yohanes menggambarkan bahwa seorang yang baik bisa mengalami nasib buruk karena kurban sakit hati seseorang.

Herodes berkhayal dan mengira Yesus itu adalah Yohanes Pembaptis yang telah dibunuhnya telah bangkit kembali. Bayang-bayang ketakutan dalam dirinya membuatnya ia bersumpah untuk membunuhnya. Namun demikian, ia sebenarnya juga mengagumi Yohanes seorang yang saleh. Tetapi karena ia berkonspirasi dengan isterinya Herodias, dan melalui puterinya ia bersumpah untuk memberikan apa yang diminta anaknya. Herodes berkarakter lemah, karena ia mudah terguncang oleh orang dekatnya, sehingga ia pun rela membunuh Yohanes yang sudah dipenjarakannya.

Sebenarnya kemartiran Yohanes menggambarkan kemartiran Kristus juga karena konspirasi orang Farisi dan ahli Taurat dan imam-imam kepala. Baik Yohanes dan Kristus adalah dua sosok yang baik dan saleh, tapi nasib hidup keduanya harus mengalami penderitaan dengan cara yang mengenaskan bagi orang moderen saat ini.

Kemartiran Yohanes adalah gambaran orang saleh yang harus mati secara jantan karena imannya. Hari ini Gereja juga merayakan pesta orang kudus yakni St. Agata, perawan dan martir. Agata adalah puteri seorang bangsawan kaya raya di Palermo atau Katania, Sisilia. Kemartirannya terjadi pada masa pemerintahan kaisar Decius. Penderitaan itu berawal dari peristiwa penolakannya terhadap lamaran Quintianus, seorang pegawai tinggi Kerajaan Romawi. Ia menolak lamaran itu karena ia telah berjanji untuk hidup suci di hadapan Tuhan. Karena penolakannya, ia ditangkap dan dipenjarakan dengan maksud untuk mencemari kesuciannya. Dengan pertolongan Tuhan, Agata tetap teguh dan menolak lamaran Quintianus. Bahkan dengan kejamnya Quiatianus menyiksanya sampai mati. Agata akhirnya menerima mahkota kemartiran sebagai perawan suci. Bahkan St. Agata dikenal sebagai pelindung manusia dari ancaman-ancaman api.

Baik kemartiran Yohanes Pembaptis dan St. Agata adalah akibat kebusukan hati manusia. Kebusukan dan kesrakahan yang sangat kuat dapat mengalahkan kebaikan dan kesalehan seseorang. Banyak orang mati sia-sia, karena kebusukan hati manusia. Memang manusia dapat membunuh tubuh manusia, tetapi manusia tidak dapat membunuh jiwa manusia.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini tentang ‘kemartiran Yohanes Pembaptis’, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.