Yesus ditolak di Nazareth.

[su_dropcap style=”light” size=”5″]Y[/su_dropcap]esus yang banyak sekali dihormati di banyak tempat, kecuali  di kampungnya sendiri, Ia ditolak.  Orang sekampung-Nya, menilai bahwa Yesus itu hanyalah  anak Maria dan Yusuf, tukang kayu. Bagaimana mungkin Anak tukang kayu bisa memperoleh hikmat kebijaksanaan yang luar biasa itu. Mereka hanya melihat yang nampak saja, maka mereka akan  keliru  menilai seseorang. Dengan kata lain, mereka tidak obyektif dalam menilai orang lain. Seharusnya kita menilai segala sesuatu dengan berbagai kaca mata, sehingga tidak ada yang tertinggal, sehingga kata orang kita mencapai nilai yang obyektif.

Bagaimana kita menilai Injil Markus (Mrk 6:1-6) tentang diri Yesus hari ini? Jika dinilai secara lahiriah yang nampak, benar bahwa Yesus itu adalah anak  Maria dan Yusup, tukang kayu dari Nazareth.  Tentu saja pemahaman ini keliru.  Kita menilai  sangat dibatasi secara lahiriah duniawi.

Yesus ditolak di Nazareth menggambarkan  betapa banyak orang hanya melihat  dari sisi lahiriah (yang nampak). Ada begitu banyak sisi lain, yang tidak kita lihat. Kita tidak/belum melihat bahwa Yesus itu sungguh Allah dan sungguh manusia. Yesus membuat begitu banyak mukjizat dalam karya-Nya adalah membuktikan bahwa  kehadiran Yesus membawa terang hidup yang lebih baik bagi banyak orang. Yesus telah mengajarkan soal jalan, kebenaran dan hidup. Ia tidak pernah berbuat dosa seperti kita.  Dalam ajaran-Nya, Yesus menekankan  tentang kesucian hidup, keadilan, kebenaran, kasih, serta kemurahan dibandingkan dengan ketaatan seremonial.  Ia juga mengajarkan  pentingnya pertobatan  dan juga akan penghakiman Allah.

Yesus dalam kenyataan-Nya tidak hanya ditolak di Nazareth, tapi juga di berbagai tempat di dunia. Tapi semuanya dibiarkan karena  setiap orang mempunyai kehendak bebas (free will) dalam menentukan pilihan hidupnya.  Sebagai orang beriman, kita melihat bahwa karya Yesus adalah karya Allah, ajaran yang utamanya adalah tentang kasih,  baik kasih kepada Allah mau pun kepada sesama manusia.

Inspirasi tentang Yesus ditolak di Nazareth  sangat berkaitan pula dengan  nubuatan Simeon seorang yang saleh yang hidupnya menantikan keselamatan dari  Allah.  Dalam nubuatannya Simeon mengatakan bahwa Yesus  akan menjadi tanda perbantahan bagi banyak orang. Oleh karena itu, Yesus ditolak di Nazareth dapat dianalogikan dengan nubuatan Simeon, artinya Yesus menjadi tanda perbantahan bagi banyak orang.

Kita boleh bersyukur karena Tuhan telah memanggil dan memilih kita menjadi bagian dari anak-anak-Nya untuk terus memuji dan meluhurkan Nama-Nya  dan Yesus adalah Juru Selamat kita.

Demikianlah refleksi  singkat Kuasa Doa hari ini tentang ‘Yesus ditolak  di Nazareth’, Tuhan memberkati.-***

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.