Yesus Marah di dalam Bait Allah.

Renungan Kuasa Doa hari Minggu ini diangkat dari bacaan Injil Yohanes 2:13-22, dengan thema:” Yesus marah di dalam Bait Allah”. Mengapa Yesus begitu marah di Bait Allah? Inilah kisahnya. Ketika sudah dekat Hari Raya Paskah orang Yahudi, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati dan penukar-penukar uang duduk di situ. Maka Yesus pun membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka dari Bait Suci dengan semua kambing-domba dan lembu mereka; uang para penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpat Ia berkata:” Ambil semuanya ini dari sini, jangan membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan”. Kata-kata Yesus ini pedas sekali, bahwa Yesus cenderung marah sekali di dalam Bait Allah. Mengapa?

Bait Allah adalah bangunan di mana Allah bertahta atau meraja. Semasa berkarya, Yesus beberapa kali mengajar di Bait Allah. Dengan kata lain, Bait Allah dimanfaatkan sebagai tempat untuk mengajar. Oleh karena itu, Bait Allah dianggap sebagai tempat kudus dan sebagai tempat yang kudus, maka Bait Allah tidak boleh dipakai sebagai lokasi untuk berjualan. Bait Allah harus menjadi tempat yang kudus, bukan menjadi sarang penyamun atau tempat berdagang. Jadi wajarlah kalau Yesus marah di dalam Bait Allah, karena banyak orang tidak menghormati suatu tempat yang kudus. Oleh karena itu, kemarahan Yesus dalam Bait Allah bukanlah tanpa alasan.

Hari ini Gereja merayakan pesta pemberkatan Basilika Lateran. Basilika agung ini didirikan oleh Kaisar Konstantinus Agung, putera Santa Helena, pada tahun 324. Dalam konteks sejarah Kristiani, Basilika ini merupakan Basilika agung yang pertama, yang melambangkan kemerdekaan dan perdamaian di dalam Gereja setelah tiga-abad lebih berada di dalam kancah penghambatan dan penganiayaan kaisar-kaisar Romawi yang kafir. Pemberkatannya yang kita peringati pada hari ini merupakan peringatan akan kemerdekaan dan perdamaian itu.

Memang semenjak zaman para rasul, sudah ada tempat-tempat berkumpul untuk merayakan Ekaristi serta mendengarkan Firman Tuhan. Namun karena ketenteraman Gereja selalu diselingi dengan aksi-aksi pengejaran dan penganiayaam terhadap orang Kristen, maka gereja-gereja pada waktu itu hanyalah berupa sebuah ruangan di dalam rumah-rumah tinggal orang Kristen. Selama berkobarnya penganiayaan, upacara-upacara keagamaan biasanya dirayakan di katekombe-katekombe, yaitu kuburan bawah tanah di luar kota.

Basilika Lateran merupakan Tahta Paus, bukan Basilika St. Petrus sebagaimana yang anda kira selama ini. Ketika Paus menetapkan dogma, Beliau berbicara dari Tahtanya di Basilika Lateran ini. Di Basilika Lateran inilah Kursi Petrus berada.

Mula-mula pesta ini hanya dirayakan di Roma, namun lama kelamaan menjadi pesta bagi seluruh gereja. Dalam pesta ini, selain kita mengenang dan memperingati kemerdekaan dan perdamaian yang dialami Gereja, kita juga mau mengungkapkan cinta kasih dan kesatuan kita dengan Uskup Roma, yang sekaligus menjabat sebagai Paus, pemersatu seluruh Gereja dalam cinta kasih Kristus. Gereja, tempat kita berkumpul merupakan tanda dan lambang Gereja, Umat Allah. Inilah sedikit gambaran tentang Basilika Lateran.

Bait Allah itu sekarang tidak ada lagi, hanya tersisa tembok yang luput dari penghancuran. Namun yang paling penting adalah Bait Allah itu adalah diri kita sendiri. Kita menjadi Bait Allah yang hidup, yang disebut Gereja, yang adalah persekutuan Umat Allah karena beriman kepada Kristus yang bangkit. Sebagai anggota Gereja, kita dipanggil untuk mengalirkan kasih Allah kepada sesama dalam bentuk rahmat kasih. Seperti dalam bacaan Yeheskiel, tentang air yang mengalir dari Bait Allah dan memberi kesegaran serta kehidupan, begitulah tugas kita. Ke mana sja kita pergi, hendaklah kita membawa kesegaran dan menghadirkan Kristus yang hidup.

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari Minggu ini, Tuhan memberkati.-***



Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.