Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?

Injil Matius (Mat 9:14-15)mengisahkan bagaimana Yesus dan orang Farisi berselisih paham tentang “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMU tidak?”. Orang Yahudi (khususnya) orang Farisi dan ahli Taurat berselisih pandang tentang “puasa”. Puasa bagi orang Yahudi sifatnya keharusan dan wajib bagi setiap orang untuk berpuasa. Dalam kaitan ini, Jesus menjawab:”Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berduka cita selama mempelai itu bersama mereka? Pada waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka berpuasa”. Tentu mereka tidak paham akan sabda Jesus yang disampaikan kepada mereka. Mereka selama ini berpuasa hanyalah soal makan dan minum. Jawaban Jesus kepada mereka mengindikasikan bahwa puasa tiu terjadi ketika mereka (para murid) tidak bersama dengan Jesus. Ketika Jesus disalib berarti Jesus ditarik dari antara mereka, maka para murid merasa kehilangan Gurunya, di saat itulah mereka berpuasa.

Dalam hidup kita, berpuasa setiap tahun kita jalani. Bukan soal makan dan minum yang kita fokuskan, tetapi tentang hidup rohani yang lebih baik. Kita berusaha menjauhkan dari perilaku dosa dan menjalankan pertobatan yang terus-menerus. Kita berpuasa artinya kita tidak bersama Jesus, dan kalau hidup kita terus bersatu dengan Jesus Tuhan dan Juru Selamat kita, maka kita akan mengalami sukacita dan bukan dukacita. Jika hidup kita selalu bersatu dengan Kristus, maka hidup kita juga akan dipenuhi dengan kekuatan yang datang dari Roh Kudus, agar hidup kita selalu bersama Jesus.

Pada masa Prapaskah ini, mari kita tingkatkan pertobatan kita. Kita lebih banyak memberikan asupan kepada hidup rohani, dari pada asupan makanan. Makan memang dibutuhkan agar kita kuat dan sehat. Gereja meminta kepada kita khusunya di masa Prapaskah ini lebih intens dalam membangun dunia rohani kita dengan banyak beribadah dan pertobatan. Pertobatan adalah pangkal keselamatan. Pertobatan adalah jalan menuju keselamatan kekal di surga. Oleh karena itu, marilah kita menerima ajakan Gereja agar dalam masa Prapaskah itu lebih banyak menjalankan laku pertobatan kepada Tuhan. Semoga kita dilapangkan hidup kita agar dalam masa Prapaskah ini kita dimampukan untuk meningkatkan hidup rohani kita.

Demikianlah refleksi www.kuasadoa.com hari ini, Tuhan memberkati kita semua.-***

Tinggalkan Balasan