translation services

Banyak dalam hidupnya banyak meminta tanda. Tanda itu sebagai alat bukti apakah orang yang kita hadapi itu jujur atau tidak. Orang yang meminta tanda tidak hanya dimonopoli oleh orang Yahudi khususnya kaum Farisi dan ahli Kitab, tapi oleh orang jaman ini sering meminta tanda.

Injil Mateus (Mat 12:38-44), orang Farisi meminta tanda apakah Yesus itu sungguh Mesias atau bukan. Yesus mengetahui hati busuknya, sehingga Ia tidak akan memberikan “tanda” apa pun selain tanda Yunus. Yunus adalah salah Stu tokoh nabi dari Perjanjian Lama yang mempertobatkan orang -orang non Yahudi yakni orang-orang Niniwe. Banyak pertobatan terjadi setelah mendengarkan kotbah Yunus.

Orang Farisi dan ahli kitab sudah mendengar atau bahkan menyaksikan “tanda Ilahi” yang telah diperlihatkan oleh Yesus ketika Ia menyembuhkan banyak atau bahkan membangkitkan orang yang sudah mati. Tapi karena hati mereka sudah degil, maka mereka terus berusaha mencobai Yesus. Oleh karena itu Yesus menegaskan bahwa Diri-Nya tidak akan memberikan tanda kepada mereka selain tanda Yunus.

Seharusnya tanda-tanda Ilahi sebagaimana diperlihatkan oleh Yesus mampu mempertobatkan mereka. Namun demikian, mereka sama sekali menolak-Nya sehingga Yesus enggan untuk memberikan tanda Ilahi kepada mereka.

Sementara itu ratu Syeba dari Selatan pergi ke Yerusalem. Mereka jauh-jauh datang untuk melihat kehebatan Salomo dengan kebijaksanaannya atau mungkin dengan kemewahan Salomo. Ratu Syeba beranggapan bahwa Salomo adalah raja yang keren, yang patut diteladaninya. Namun dalam perikop ini Yesus menegaskan bahwa Diri-Nya lebih dari Salomo mau pun Yunus. Walau demikian, mereka tidak menangkap kata-kata Yesus bahwa Diri-Nya melebihi dari pada Salomo atau pun Yunus.

Apa yang ingin disampaikan oleh Yesus dalam perikop ini antara lain tentang pertobatan. Orang Farisi dan ahli Kitab sering kali menyaksikan perbuatan-perbuatan Yesus dengan menyembuhkan banyak orang seperti yang kerasukan roh jahat, yang lumpuh disembuhkan, yang buta disembuhkan, dan yang mati dibangkitkan. Itu semua adalah tanda Ilahi yang tiada duanya. Tapi karena orang Yahudi memang sudah membenci Yesus, maka tanda Ilahi itu tidak akan diberikan kepada mereka.

Dalam hidup ini, seringkali kita minta tanda tidak hanya kepada sesama, tetapi terkadang kepada Tuhan, kita minta tanda. Dalam keseharian hidup kita, tanda itu banyak sekali kita dapatkan. Tapi seringkali tidak itu dianggap sebagai yang lumrah, bukan dianggap tanda Ilahi. Seolah tanda Ilahi harus sesuatu yang spektakuler. Contoh: jika mata kita masih berkedip-kedip, itu tanda yang luar biasa. Kita menyukuri tanda itu, karena bosa dibayangkan sekiranya mata kita tidak berkedip lagi.
Oleh karena itu, syukurilah tanda kehidupan yang ada dengan tanda syukur yang terus dikaruniakan dalam hidup kita.
Demikianlah refleksi “Kuasa Doa” hari ini, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan