translation services

Kisah Santo Yosep memang tidak banyak disebut di dalam Kitab Suci. Tidak banyak disebut bukan BERARTI tidak mempunyai nilai dalam hidupnya dan juga di dalam kehidupan keluarga-keluarga kita. Santo Yoseph adalah teladan keluarga kudus Nazareth. Keluarga kudus Nazareth adalah simbol keluarga Kristiani di muka bumi.

St Yosef pertama kali muncul dalam Injil dalam kisah awal mula kelahiran Yesus. Sementara Injil St Lukas memberikan penekanan pada kabar sukacita kepada Maria, Injil St Matius memberikan penekanan pada St Yosef. Dikisahkan bahwa St Yosef bertunangan dengan Maria ketika ia mendapati bahwa tunangannya itu mengandung. Patut diingat bahwa dalam masyarakat Yahudi, apabila sepasang muda-mudi telah bertunangan secara resmi dan memaklumkan niat mereka di hadapan dua saksi, mereka dianggap telah menikah sebagai suami isteri. Biasanya setelah satu tahun masa pertunangan, mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita dalam suatu upacara meriah dan memboyong mempelai wanita ke rumahnya di mana mereka melangsungkan pernikahan dan hidup bersama sebagai suami isteri. Karena St Yosef belum tahu akan rencana Allah, tetapi mendapati bahwa tunangannya telah mengandung bukan dari dirinya, Injil mengatakan bahwa “ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (Mat 1:19). Menurut Hukum Taurat, St Yosef dapat mengajukan Maria agar dihukum rajam hingga tewas karena perzinahan (bdk Ulangan 22). Jika St Yosef saja mengetahui bahwa Maria mengandung, apakah gosip di kota kecil itu tidak membicarakannya? Orang hanya dapat membayangkan betapa malu dan terlukanya hati St Yosef. Betapa ia pastilah patah hati!

Tetapi, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada St Yosef dalam mimpi, mengatakan kepadanya bahwa Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus, dan memintanya untuk mengambil Maria sebagai isterinya dan Yesus sebagai Putranya sendiri. Tanpa banyak tanya ataupun ragu-ragu, St Yosef melakukan seperti yang diperintahkan malaikat. Lagi, di sini kita melihat pentingnya peran St Yosef: Ia harus mengambil Yesus sebagai Putranya sendiri dan memberinya nama, dengan demikian memberi-Nya pengakuan sah sebagai Puteranya dan menjadikan-Nya pribadi yang sah.

Patut dicatat bahwa pemahaman akan Kabar Sukacita seperti di atas merupakan pemahaman menurut tradisi Gereja. Sebagian orang beranggapan bahwa St Yosef telah mengetahui bahwa Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus dan karenanya merasa tak layak, bahkan takut, untuk menikahinya dan menerima tanggung-jawab ini; sebab itulah, ia bermaksud untuk menceraikannya secara diam-diam. Tetapi, jika demikian, mengapa kemudian malaikat mengatakan kepada St Yosef dalam mimpi bahwa Maria telah mengandung dari kuasa Roh Kudus? Karenanya, pemahaman menurut tradisi Gereja masih tetap merupakan tafsiran yang terbaik.

St Yosef menunaikan tugas kewajibannya dengan gagah berani. Sepanjang Injil, ia dengan setia dan tanpa ragu mentaati perintah-perintah Tuhan: membawa keluarganya ke Mesir agar aman dari murka Raja Herodes; kembali ke Nazaret; membawa Puteranya ke Bait Allah untuk disunatkan dan dipersembahkan kepada Allah; dan menempuh perjalanan ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Paskah.

St Yosef menerima tanggung-jawab panggilannya – dengan menjadi seorang suami dan ayah yang setia. Ia memberikan yang terbaik yang dapat dilakukannya bagi keluarganya, entah itu berarti kandang di Betlehem ataupun rumah di Nazaret. Walau Injil tidak banyak memberikan informasi mengenai kehidupan Keluarga Kudus di Nazaret, kita dapat menyimpulkan bahwa mereka adalah orang-orang sederhana: ketika St Yosef dan Bunda Maria mempersembahkan Yesus di Bait Allah, mereka mempersembahkan dua ekor anak burung merpati sebagai korban, suatu pengecualian yang diperuntukkan bagi keluarga-keluarga miskin yang tak mampu mempersembahkan kurban anak domba seperti yang diwajibkan.

Guna menghidupi keluarganya, St Yosef bekerja sebagai seorang tukang kayu.

Meskipun St Yosef bukanlah ayah Yesus secara fisik, namun di luar itu ia adalah seorang ayah dalam arti sepenuhnya. Lagipula, sebagai seorang ayah Yahudi yang baik, ia bertanggung-jawab atas pendidikan religius Putranya, termasuk mengajari-Nya membaca Kitab Suci. St Yosef pastilah seorang teladan yang baik hati dan gagah bagi Yesus, mengingat bahwa Allah Bapa telah mempercayakan PutraNya ke dalam pemeliharaannya.

Menurut tradisi, St Yosef wafat sebelum Yesus memulai pewartaan-Nya di depan publik. Keyakinan ini didasarkan pada dua pokok pikiran utama: pertama, St Yosef tidak pernah muncul selama pewartaan Yesus di depan umum seperti yang dilakukan Bunda Maria, misalnya saat perjamuan nikah di Kana; dan kedua, dari salib, Yesus mempercayakan pemeliharaan BundaNya kepada St Yohanes Rasul, menunjukkan bahwa BundaNya telah menjadi janda tanpa adanya anak-anak lain untuk memeliharanya. Juga menurut tradisi, St Yosef wafat dengan didampingi Yesus dan Bunda Maria. Karena alasan inilah, St Yosef biasa dimohon bantuan doanya untuk kematian yang bahagia. Meskipun tidak didefinisikan oleh Magisterium, St Fransiskus de Sales (wafat thn 1622) yakin bahwa St Yosef diangkat jiwa dan raganya ke surga: “Adakah yang dapat kita katakan sekarang selain daripada, tak mungkinlah kita ragu bahwa santo yang mulia ini menikmati ganjaran di dalam Kerajaan Surga.

Para paus selama abad-abad Gereja juga mengakui peran penting St Yosef: Paus Pius IX memaklumkan St Yosef sebagai Pelindung Gereja Katolik (1870).
Paus Leo XIII dalam “Quamquam Pluries” (1889) menulis, “St Yosef adalah pelindung, penyelenggara, pembela yang sah dari rumah tangga ilahi yang dipimpinnya. Dengan demikian, wajarlah dan sudah sepantasnyalah bagi St Yosef bahwa, seperti ia di masa silam senantiasa memenuhi segala kebutuhan Keluarga Nazaret yang ia naungi dalam perlindungannya yang kudus, juga sekarang ia menaungi dengan perlindungan surgawinya serta membela Gereja Yesus Kristus.”

Paus Yohanes Paulus II dalam “Redemptoris Custos” (1989) mendorong umat beriman untuk memandang St Yosef dalam abad kita yang sulit ini: “Perlindungan ini sepatutnyalah dimohonkan karena senantiasa diperlukan Gereja, bukan hanya sebagai pembela melawan segala mara bahaya, melainkan juga, dan sungguh terutama, sebagai daya dorong bagi komitmennya yang telah diperbaharui untuk evangelisasi di dunia dan evangelisasi kembali di tanah-tanah dan bangsa-bangsa di mana “agama dan kehidupan Kristen dahulunya berkembang dan … sekarang dihadapkan dengan ujian yang berat” …. Kiranya St Yosef menjadi bagi kita semua seorang guru yang luar biasa dalam melayani misi keselamatan Kristus, suatu misi yang merupakan tanggung jawab dari setiap dan masing-masing anggota Gereja: para suami dan para isteri, para orangtua, mereka yang hidup dengan bekerja dengan tangan mereka atau dengan pekerjaan lain apapun, mereka yang dipanggil ke dalam kehidupan kontemplatif dan mereka yang dipanggil ke dalam karya kerasulan.”
Yang harus kita imani tentang Santo Yosep, ia adalah penjaga keluarga sebagai pengayom. Jadi tidak ada salahnya kita berdevosi kepadanya untuk mohon perlindungan para keluarga kita di mana pun kita berada. Tuhan memberkati kita semua.-***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.