(UA-34197703-1)


AKULAH JALAN KEBENARAN DAN HIDUP (Yoh. 14:6)



Penjelasan Yesus tentang najis.

Posted at 6 Februari, 2018 by Justinus on category Renungan
translation services

Penjelasan Yesus tentang najis ditolak oleh orang-orang Yahudi. Terjadi miskonsepsi tentang pemahaman hal ini. Orang Yahudi sangat berpegang teguh pada tradisi dan adat-istiadat. Dengan kata lain tradisi ini adalah adat-istiadat yang sudah berlaku turun-temurun. Adat-istiadat ini bukan yang berasal dari hukum Allah, tapi buatan manusia. Menurut adat-istiadat, seseorang yang mau makan, harus membasuh tangannya. Jadi, jika tidak membasuh tangannya, maka dia menjadi najis.

Namun Yesus mempermasalahkan tentang najis. Yesus melihat najis dari sisi kebathinan. Yang najis itu bukan sesuatu yang masuk ke dalam mulut, tetapi justru sebaliknya. Maksudnya yang keluar dari hati dan pikiran manusia itulah yang menajiskan. Orang yang menfitnah, membenci, berkata kasar, memaki orang, dll, itulah yang menajiskan seseorang.

Berkaitan dengan ini nabi Yesaya bernubuat: “ Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, pada hal hatinya tetap jauh daru Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Aku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang“.

Oleh karena itu, orang Yahudi berusaha mempertahankan adat-istiadat, sementara Firman Allah mereka abaikan. Dengan kata lain, mereka lebih suka menjalankan hukum manusia dari pada hukum Allah. Pada hal hukum Allah jauh lebih tinggi dari pada hukum buatan manusia. Barangkali kondisi saat ini juga masih berlaku.

Injil Markus (Mrk 7:1-13) hari ini mau mengajarkan kepada pendengar Yesus bahwa terjadi miskonsepsi tentang pemahaman najis. Namun hal ini sudah salah kaprah, banyak orang berlaku seperti orang-orang Yahudi, di mana adat-istiadat itu dibakukan menjadi suatu norma yang kedudukannya lebih tinggi dari pada hukum atau Firman Allah. Banyak orang terjebak dengan kondisi ini, sehingga mereka yang seperti ini adalah para munafik. Mereka memutarbalikkan suatu kondisi dan mencoba melegalkannya.

Jadi jika nabi Yesaya menubuatkan segaimana di atas, banyak orang mendaraskan doa-doanya, tetapi sebenarnya hati dan pikirannya tidak fokus pada doanya. Mulutnya memang komat-kamit, tapi hati dan pikirannya tidak mengarah kepada Tuhan. Mereka hanya berfokus pada hal-hal yang sifatnya duniawi. Mungkin saja itu juga terjadi pada diri kita sendiri dalam hidup ini, di mana kita lebih mementingkan hal-hal yang duniawi dari pada hal-hal yang sifatnya rohani.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang ‘ Penjelasan Yesus tentang najis’, Tuhan memberkati.-***







UA-43404914-1