(UA-34197703-1)


AKULAH JALAN KEBENARAN DAN HIDUP (Yoh. 14:6)



Penolakan akan Yesus di tengah kampung-Nya sendiri.

Posted at 31 Januari, 2018 by Justinus on category Renungan
translation services

Penolakan akan Yesus di tengah kampung-Nya sendiri memang sungguh mencengangkan banyak orang. Yesus membuat mukjizat di mana-mana dan diterima oleh banyak orang, tetapi Ia ditolak di kampung-Nya sendiri. Mengapa demikian? Mungkin mereka pikir bahwa Yesus itu kan hanya anak tukang kayu Jusup dan Maria, bagaimana Ia memiliki hikmah yang luar biasa itu. Orang-orang sekampung-Nya telah merasa heran bagaimana mungkin Yesus orang Nazareth anak tukang kayu bisa mengajar yang penuh kuasa dan membuat mukjizat? Mereka sangat heran dan tidak percaya akan hal itu?.

Injil Markus (Mrk 6:1-6) hari ini telah mengisahkan bagaimana orang-orang Nazareth tempat asal Yesus telah menolak kehadiran-Nya. Mengapa mereka berbuat demikian? Masalah yang mendasar yang terus bergelora dalam hidup manusia adalah iri hati. Mereka tidak senang kalau seseorang seperti Yesus berhasil dalam hidup-Nya. Sebab Dia hanya Anak seorang tukang kayu, bagaimana mungkin Ia memiliki hikmah dan mampu mengajarkan Kitab Suci dengan penuh kuasa. Hal inilah yang menyebabkan Ia ditolak di kampung-Nya sendiri.

Dalam hidup manusia ini selalu melekat 7 dosa pokok manusia. Ke tujuh dosa pokok manusia itu antara lain iri hati, benci, marah, sombong, malas, tamak dan napsu seksual. Ketujuh dosa pokok manusia ini merupakan sumber kejahatan. Kisah Injil Markus hari ini adalah salah satu contoh. Karena orang banyak iri hati, menyebabkan mereka menolak kehadiran Yesus. Akibat penolakan-Nya, maka Yesus pun tidak berbuat mukjizat di kampung-Nya dan mungkin hanya beberapa orang saja yang disembuhkan.

Bagi orang beriman kehadiran Yesus selalu membawa damai sukacita dan bahkan juga membawa kesembuhan secara jasmani mau pun rohani. Namun demikian tidak semua orang menerima-Nya. Wabah iri hati inilah yang telah memblokir hati sehingga mereka dengan mudah menolak kehadiran Yesus. Kehadiran Yesus di masa yang lalu dan masa now mempunyai nilai sama yakni membawa kepada persatuan manusia dengan Allah. Dengan cara ini, maka manusia itu akan memperoleh damai sukacita. Jika demikian, kita sudah mencicipi Kerajaan Allah yang ada di dunia ini. Karena seperti Santo Paulus katakan kepada Jemaat di Roma:” Kerajaan Allah itu bukan soal makan dan minum, tetapi damai sejahtera dan sukacita dalam terang Roh Kudus” (Roma 14:17).

Dengan secara ekskatologis, tujuan hidup manusia adalah mencapai damai sejahtera bersama Allah Bapa di Surga. Namun untuk mencapai tempat yang penuh damai sejahtera harus dimulai dengan perjuangan selama hidup di dunia. Jadi tidak hanya cukup percaya saja, tetapi juga harus berjuang untuk mencapai kekudusan hidup. Karena pada dasarnya untuk memasuki Kerajaan Surga, harus ditempuh melalui jalan yang sempit.

Dengan demikian, sebagai pengikut Yesus kita mengimani bahwa Yesus itu adalah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 6:14). Dengan itu pula, arah pandangan hidup kita, harus kita pusatkan pada diri Yesus sebagai Juru Selamat. Kalau kita menolak keselamatan yang ditawarkan Yesus, maka kita pun akan ditolak oleh Bapa di Surga, dan dengan cara itu maka kita akan mengalami kebinasaan.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang’Penolakan akan Yesus di tengah kampung-Nya sendiri’, Tuhan memberkati.-***







UA-43404914-1