(UA-34197703-1)


AKULAH JALAN KEBENARAN DAN HIDUP (Yoh. 14:6)



Berpuasa berarti mau berubah.

Posted at 15 Januari, 2018 by Justinus on category Renungan
translation services

Berpuasa berarti mau berubah. Banyak orang mengerjakan puasa dengan berbagai maksud dan tujuan tertentu. Mungkin dengan puasa, biar badannya menjadi langsing, bisa jadi ingin mencapai tujuan tertentu dalam hidupnya.

Hari ini Injil Markus (Mark 2:18-22) berbicara tentang teguran orang Farisi kepada Yesus di mana murid-murid Yohanes menjalankan puasa, sementara murid-murid Yesus tidak melakukannya. Tentang hal ini, Yesus antara lain berkata kepada mereka:” Dapatkah sahabat-sahabat pengantin pria berpuasa selagi pengantin itu bersama mereka? Selama pengantin itu ada bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa…?

Apa yang mau disampaikan oleh Yesus antara lain bahwa menjalankan puasa itu tidak hanya sekedar tidak makan dan tidak minum, tetapi kepada bentuk pertobatan. Pertobatan sering dikatakan sebagai pangkal keselamatan. Karena tidak ada keselamatan tanpa pertobatan. Dengan kata lain pula bahwa puasa itu seharusnya membawa perubahan hidup yang berarti. Misalnya dari yang suka marah-marah, menjadi suka senyum, dari sombong menjadi rendah hati, dari benci menjadi suka damai-damai. Inilah yang sering disebut metanoia. Artinya adanya perubahan sika hidup kita.

Pertobatan lebih menunjukkan perubahan pikiran, yang dalam bahasa Yunani disebut metanoia. Kata ini terbentuk dari dua kata yaitu meta yang artinya “berubah” (change) dan nous yang artinya “pikiran” (mind). Metanoia berarti perubahan pikiran. Kata inilah yang sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan seseorang yang ditandai dengan perubahan pikiran. Kata metanoia lebih sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan yang sejati. Kata inilah yang digunakan beberapa kali oleh Yohanes Pembaptis dan juga digunakan oleh Tuhan Yesus. Pertobatan Kristiani lebih menekankan perubahan pikiran daripada berorientasi pada perbuatan fisik yang kelihatan. Namun, sangatlah jelas, kalau pola berpikir seseorang berubah, maka perbuatannya dan seluruh gaya hidupnya pun juga berubah.

Pertobatan pada umumnya menyangkut dua aspek, antara lain: Pertama-tama, perubahan tingkah laku atau perbuatan. Pertobatan ini adalah pertobatan moral. Pertobatan seperti ini juga dimiliki oleh agama-agama pada umumnya.

Pertobatan dalam Kekristenan adalah perubahan yang didorong oleh kesadaran terhadap kebenaran. Kebenaran di sini bukan hanya menyangkut kesadaran moral, tetapi juga meliputi pemahaman hidup secara menyeluruh (ekstensif). Kesadaran moral memang akan membangkitkan penghargaan pada nilai-nilai etika dan mengubah perilaku. Tetapi, kesadaran atau pemahaman tentang kebenaran akan membangkitkan penghargaan kepada nilai-nilai spiritual dan kenyataan kekekalan. Kesadaran atau pemahaman terhadap kebenaran inilah yang membangkitkan pertobatan yang sejati, pertobatan yang benar atau yang ideal di hadapan Tuhan. Tentu pertobatan yang sejati akan mengubah bukan saja perilaku seseorang, tetapi juga seluruh filosofi hidupnya. Sehingga seluruh gaya hidupnya pun akan berubah dan semakin radikal sampai menjadi sempurna seperti yang Allah kehendaki.

Orang percaya harus selalu merasa miskin di hadapan Allah, artinya kesadaran bahwa dirinya belum berkeadaan seperti target yang harus dicapai sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah (Mat. 5:3). Dengan demikian seseorang harus selalu memperbaharui pikirannya supaya semakin mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah. Pembaharuan pikiran dalam teks aslinya adalah metanoia. Inilah yang dimaksud dengan pertobatan itu. Seiring dengan pembaharuan pikiran, orang percaya mengalami pertumbuhan dalam pengenalan akan Allah sehingga lebih mengerti kehendak Allah. Hal ini tidak berlangsung hanya satu kali, tetapi harus terus terjadi atau berlangsung setiap hari. Dengan demikian perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan dari pertobatan ke pertobatan (metanoia) demi menuju kesempurnaan seperti yang dikehendaki oleh Allah.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang ‘berpuasa berarti mau berubah’, Tuhan memberkati.-***







UA-43404914-1