(UA-34197703-1)


AKULAH JALAN KEBENARAN DAN HIDUP (Yoh. 14:6)



Keteladanan doa seorang kusta.

Posted at 11 Januari, 2018 by Justinus on category Renungan
translation services

‘Keteladanan doa seorang kusta’ hari ini memberikan contoh bagaimana seharusnya kita berdoa. Injil Markus (Mrk 1:40-45) hari ini antara lain mengatakan:Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Seharusnya kita berdoa seperti orang kusta. Jadi jika berdoa dan memohon kepada Tuhan, jangan berdasarkan mauku atau kehendakku, melainkan kehendak Tuhan. Inilah suatu bentuk kerendahan hati di dalam berdoa. Ketika orang kusta itu memohon kepada Tuhan, ia berlutut di hadapan Yesus dan mohon bantuan-Nya” Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”. Dan pada saat itu, hati Yesus tergerak dengan belas kasihan, lalu mengulurkan tangan-Nya dan menjamah orang itu, dan seketika itu pula orang kusta itu sembuh dan menjadi tahir.

Dalam adat dan budaya Yahudi, orang kusta adalah orang yang terkutuk, dan orang itu harus dijauhkan dari masyarakat lingkungannya. Hidupnya dari minta-minta dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Dan apabila sudah dan dinyatakan tahir oleh imam, maka yang bersangkutan boleh kembali ke dalam lingkungan masyarakat semula.

Ketika seorang terjangkit kusta, kala itu belum ada obatnya seperti jaman saat ini. Penyakit kusta dianggap sebagai kutukan Tuhan. Tak seorang pun sembuh sebelum kehadiran Yesus, karena tak seorang tabib pun dapat mentahirkannya. Namun ketika Yesus hidup di tengah bangsa-Nya dan sambil mewartakan khabar suka cita Injil, Ia menyembuhkan segala sakit penyakit dan mengusir roh-roh jahat. Oleh karena itu, banyak orang berpendapat bahwa saat ini telah hadir Mesias utusan Allah dengan pengajaran yang penuh kuasa. Ajaran-Nya sangat berbeda dengan para ahli Taurat maupun orang-orang Farisi.

Tentu saja kehadiran Yesus dengan pengajaran serta mukjizat-Nya menjadikan kagum bagi banyak orang. Ajaran-Nya yang penuh kuasa menjadi bukti bahwa Yesus itu sungguh manusia dan sungguh Tuhan yang sangat berbelas kasih. Banyak orang disembuhkan, roh-roh jahat ketakutan, dan bahkan yang mati pun dibangkitkan. Tentu saja hal ini selain menimbulkan ketakutan bagi sebagian orang, tapi sukacita bagi sebagian yang lain karena Tuhan telah melawat umat-Nya dengan belas kasih.

Doa adalah sarana bagaimana kita berkomunikasi dengan Tuhan. Hal ini bermakna bahwa hidup manusia ada ketergantungan kepada Sang Pencipta. Kematian adalah tanda bukti bahwa ada yang kuasa atas kehidupan ini. Dengan demikian, komunukasi kita dengan Tuhan adalah melalui doa dan permohonan. Namun demikian segala sesuatunya harus diawali dengan ketulusan dan kerendahan hati. Dengan rendah hati seperti diteladankan oleh si kusta, maka kita berharap Tuhan tergerak hati-Nya sehingga Ia akan mengabulkan doa dan permohonan kita.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang ‘keteladanan doa seorang kusta’, Tuhan memberkati.-***







UA-43404914-1