(UA-34197703-1)


AKULAH JALAN KEBENARAN DAN HIDUP (Yoh. 14:6)



Permuridan dalam mengasihi Allah dan sesama manusia.

Posted at 9 Oktober, 2017 by kuasa on category Renungan
translation services

Permuridan dalam mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Itulah hukum kasih yang dikarniakan Tuhan kepada setiap manusia. Namun demikian nampaknya sulit untuk dipraktekkan dalam hidup sehari-hari. Ada pertanyaan ‘Siapakah sesama saya?’ Ada banyak konsep tentang siapakah sesama manusia. Ada sebagian yang mengatakan bahwa sesamanya adalah setiap orang yang sesuku, seagama, segolongan, sekomunitas, atau yang seiman saja. Di luar itu ada yang menganggap kafir, atau bukan sealiran dengan dirinya.

Dalam konteks ini, pernah seorang ahli ilmu jiwa namanya Romo Brouwer ofm, seorang dosen di Perguruan Tinggi Parahyangan Bandung mengatakan bahwa ” every body is your brother”. Dengan kata lain, bahwa setiap orang adalah saudara kita. Dengan formula itu, maka setiap orang adalah sesama kita.

Tentang hal ini, dalam Injil Lukas (Luk 10:25-37) hari ini bagaimana Yesus menjelaskan tentang makna sesama manusia. Ketika itu Yesus dicobai seorang ahli kitab hendak mencobai Yesus tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal. Kemudian Yesus balik bertanya:” Apakah yang sudah tertulis di dalam hukum Taurat? Apa yang kau baca di sana”. Orang itu pun menjawab:” Kasihanilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihinilah sesama manusia seperti dirimu sendiri“. Yesus pun tegas mengatakan bahwa jawabannya benar sekali, dan Yesus minta agar berbuat demikian, agar engkau akan memperoleh hidup itu”.

Namun demikian ahli Taurat ini masih penasaran terhadap Yesus, lau bertanya kembali siapakah sesama manusia itu? Yesus pun memberikan perumpamaan tentang nasib seorang yang kena rampok. Baru saja ia turun dari Jeriko menuju Yerusalem. Dalam perjalanannya ia kena rampok habis-habisan. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu. Ia melihat orang itu, tapi ia lewat begitu saja tanpa ada empati terhadap si penderita. Demikian lewatlah seorang Lewi yang melihat peristiwa itu. Lagu-lagi orang ini tidak peduli terhadap penderitaan orang ini. Ia pun lewat begitu saja seperti halnya seorang imam. Lalu datanglah seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan. Ketika melihat hal itu, ia pun turun dari keledainya, membantu menolong si penderita, dan membawa ke tempat ke penginapan. Ia mengobatinya dan ia membayar 2 dinar kepada pengurus penginapan, dan apabila masih dirasa kurang, nanti ia akan datang dan melunasi semua ongkos yang telah dikeluarkannya. Luar biasa bukan? Pada hal orang Samaria dianggap orang kafir yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi. Orang Yahudi ini termasuk orang yang suka beribadat, membaca hukum Taurat, tapi dalam praktek hidupnya masih jauh dari perbuatan baik kepada orang lain.

Injil hari ini Yesus memberikan gambaran yang begitu jelas tentang bagaimana mengasihi sesama yakni tidak semata-mata sealiran atau sesuku agama saja, tetapi termasuk para musuh yang kita benci. Orang Samaria adalah gambaran orang yang sangat dicemooh dan dibenci orang Yahudi. Tentu saja ini juga membuka mata hati kita sendiri bagaimana dalam pelayanan hidup nyata kita tidak hanya semata-mata mengasihi bagi orang yang seiman saja, tetapi bagi siapa saja termasuk para musuh-musuh kita.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang’ permuridan dalam mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia’, Tuhan memberkati.-***







UA-43404914-1