Yesus mengajar dengan perumpamaan.

engapa Yesus mengajar dengan perumpamaan? Jawabnya tentu gampang-gampang susah. Ternyata untuk mengerti ajaran Yesus membutuhkan karunia yagn luar biasa. Mengapa? Coba perhatikan kata-kata Yesus”:. Wah angel kata orang Jawa. Bagaimana mungkin yang sudah memiliki, malah makin diberi, sementara yang tidak punya malah diambil semuanya. Bukankah itu sangat kejam? Mungkin bisa

Kristus memberi karunia kemampuan para murid.

ristus memberi karunia kemampuan para murid untuk mendengar dan melihat, sementara orang lain hal ini harus disampaikan dengan perumpamaan. Bahkan para nabi dan orang benar ingin sekali melihat dan mendengar apa yang disaksikan oleh para murid, namun mereka gagal untuk memperolehnya. Injil Matius (Mat 13:16-17) hari ini mengatakan:” Berbahagialah matamu

Tanda Yunus menghantar orang Niniwe bertobat.

anda Yunus menghantar orang Niniwe bertobat.Injil Matius (Mat 12:38-42) hari ini mengisahkan tentang orang Farisi dan ahli Taurat meminta tanda dari Yesus. Tanda di sini dimaksudkan mukjizat dari Yesus. Mukjizat yang menyertai karya Yesus telah diperbuat-Nya, namun demikian mereka tetap menolak kehadiran Yesus di tengah mereka. Kehadiran Yesus telah merusak

Yesus merupakan pewahyuan Allah.

Y esus merupakan pewahyuan Allah’ demkian inti Injil Matius (Mat 11:25-27). Tentu saja sulit mengerti tentang Firman Allah ini, bagaimana mungkin Yesus yang anak Maria dan Yusup tukang kayu dari Nazareth merupakan pewahyuan Allah yang sebenarnya. Tentu saja hal ini akan ditolak oleh banyak orang cerdik pandai. Golongan cerdik pandai

Pertentangan dalam keluarga karena Nama Yesus

ertentangan dalam keluarga karena Nama Yesus’ menjadikan suasana keluarga tidak nyaman. Dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus, ikatan keluarga jauh lebih erat dari pada masyrakat moderen pada zaman ini. Tetapi kesetiaan terhadap Yesus dapat menimbulkan perpecahan ikatan ini. Pernyataan ini bukanlah menentang keluarga sebagai keluarga, melainkan bahwa para murid hendaknya

Seeing is believing.

eeing is believing adalah peribahasa yang sangat populer hingga dewasa ini. Artinya ia (mereka) baru percaya, kalausudah melihat dengan mata kepala sendiri. Namun Injil Yohanes (Yoh 20:20-24) hari ini menegaskan kepada kita bahwa ‘berbahagialah mereka yang tidak melihat, namuan percaya”. Firman ini erat kaitannya dengan kata-kata Thomas, salah seorang murid