(UA-34197703-1)


AKULAH JALAN KEBENARAN DAN HIDUP (Yoh. 14:6)



Membangun kekeluargaan Allah untuk menjadi sempurna

Posted at 20 Juni, 2017 by kuasa on category Renungan
translation services

MeDembangun kekeluargaan Allah untuk menjadi sempurna merupakan suatu upaya menjadikan setiap orang sempurna di dalam hidupnya. Hukum Taurat pada prinsipnya juga untuk menjadikan seseorang itu baik. Ketika orang jahat dan baik menerima karunia Allah, maka hal ini berarti bahwa Allah dalam karunia-Nya tidak membedakan orang seorang entah dia orang baik atau jahat. Oleh karena itu menjadi keluarga Allah menjadi tujuan hidup manusia. Manusia berasal dari Allah dan harus kembali kepada Allah. Namun oleh karena manusia sering lebih tertarik kepada kodrat manusia seperti membenci, iri hati sombong dan sejenisnya menyebabkan manusia terus berusaha melawan Allah. Semuanya itu karena akibat dosa manusia yang terus menjauh dari Allah sebagai Sumber Keselamatan.

Injil Matius (Mat 5:44-48) hari ini menegaskan kepada kita bahwa Allah telah menetapkan hanya jalan kesempurnaan sebagai jalan satu-satunya untuk berbalik kepada Allah. Tanpa jalan kesempurnaan, manusia tidak akan dapat memasuki Kerajaan Allah. Oleh karena itu jika seseorang membenci sesamanya, mereka harus berdamai. Walau dalam kodratnya mereka sering memberlakukan hukum balas dendam seperti ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi’. Dalam hal ini Yesus juga menegaskan kepada para pengikut-Nya untuk tidak memaksakan hukum Taurat ‘mata ganti mata, atau gigi ganti gigi”. Dapat terbayangkan jika setiap orang melaksanak hukum itu, apa jadinya peradaban bangsa-bangsa ini. Mereka akan saling membenci, saling membunuh, sehingga di dunia ini tidak ada damai. Hukum balas dendam harus dihentikan, karena pada dasarnya balas dendam itu adalah hak Allah. Jadi sekiranya kita sebagai pengikut Kristus, kita memang diajarkan untuk tidak membalasa mereka yang berbuat jahat. Biarlah Allah sendiri yang menyelesaikan masalah itu, tetapi terkadang manusia tidak sabaran dalam kondisi ini.

Ketika kita ingin membangun Kerajaan Allah, maka itu berarti setiap orang ingin membangun suatu keluarga Allah yang penuh dengan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita. Allah menghendaki ini agar manusia mencapai kesempurnaan hidup. Dan untuk mencapai kesempurnaan hidup itu, maka manusia dituntut setia kepada Allah dalam suka dan duka. Barangkali kita mengambil contoh kehidupan Ayub di dalam Perjanjian Lama. Ayub adalah inspirator dalam kehidupan ini yang tidak mengeluh atau menghujat Allah, walau orang-orang yang dikasihi mati atau bahkan teman-teman dekatnya menghujatnya untuk tidak harus taat kepada Allah. Namun demikian Ayub terus berbuat baik dan tidak pernah menghujat Allah sebagai Juru Selamatnya.

Bagaimana dengan diri kita? Sebagai keluarga Allah, apakah hidup kita hanya mengasihi kelompoknya sendiri, atau kita juga mengasihi sesama manusia tanpa melihati siapa dia? Inilah ajaran sekaligus ajakan Yesus untuk selalu mengasihi musuh dan bahkan mendoakannya. Bagi kita sebagai pengikut Kristus, maka ajaran Yesus tentang mengasihi musuh merupakan keharusan (conditio sine qua non), walau mungkin dunia menertawakan perbuatan kita. Sebagai keluarga Allah, kita akan terus belajar dan berbuat baik kepada siapa saja, dan juga mengasihi Allah secara totalitas.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini ‘membangun keluarga Allah’, Tuhan memberkati.-***







UA-43404914-1