(UA-34197703-1)


AKULAH JALAN KEBENARAN DAN HIDUP (Yoh. 14:6)



Kotbah di bukit sebagai pesan moral Yesus.

Posted at 12 June, 2017 by kuasa on category Renungan
translation services

Kotbah di bukit sebagai pesan moral Yesus tentang bagaimana memasuki Kerajaan Surga. Nama lain dari kotbah di bukit adalah tentang ‘sabda bahagia’. Sabda bahagia merupakan pesan moral bagaimana memasuki Kerajaan Surga. Banyak orang berpikir bahwa Kerajaan Surga adalah suatu keadaan di mana orang tidak lagi menderita, semuanya serba bahagia dengan segala napsu-napsu dunia yang menyenangkan.

Santo Paulus menulis dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengatakan:” Kerajaan Surga itu bukan soal makan dan minum, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam terang Roh Kudus ” (Roma 14:17). Dari Firman ini, mau dikatakan bahwa yang akan dapat memasuki Kerajaan Surga adalah mereka yang menjalani hidupnya dengan benar. Benar di sini dimaksudkan benar di hadapan Allah, bukan benar secara duniawi. Kebenaran yang menjadi tolok ukur adalah kebenaran moral tentang yang baik dan buruk.

Kalau Santo Paulus mengatakan bahwa Kerajaan Surga itu bukan soal makan dan minum artinya tentang hal-hala yang bersifat duniawi, tetapi tentang moralitas dan hidup rohani. Oleh karena itu, Kerajaan Surga adalah soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam terangn Roh Kudus.

Kerajaan Allah sering dibahas dalam Injil (Markus 1:15, 10:15, 15:43; Lukas 17:20) dan bagian lain dalam Perjanjian Baru (Kisah 28:31; Roma 14:17; 1 Korintus 15:50). Kerajaan Allah sama artinya dengan kerajaan surga. Konsep kerajaan Allah mengandung berbagai makna tergantung pada penempatannya.

Secara umum, kerajaan Allah adalah pemerintahan Allah yang kekal dan berdaulat atas seluruh alam semesta. Beberapa bagian Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah adalah Raja atas segenap ciptaan: “TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu” (Mazmur 103:19). Dan, sebagaimana diungkapkan oleh Raja Nebukadnezar, “Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang kekal” (Daniel 4:3). Setiap otoritas yang berkuasa telah ditetapkan oleh Allah (Roma 13:1). Jadi, dalam pemahaman tertentu, kerajaan Allah mencakup segala sesuatu yang ada.

Jika lebih diteliti, kerajaan Allah adalah pemerintahan rohani di atas hati dan kehidupan mereka yang secara sukarela tunduk kepada otoritas Allah. Mereka yang menentang otoritas Allah dan menolak tunduk kepada-Nya bukanlah bagian dari kerajaan Allah; sebaliknya, mereka yang mengakui ketuhanan Kristus dan dengan sukarela berserah pada pemerintahan Allah dalam hati mereka, merekalah yang merupakan bagian dari kerajaan Allah. Dalam pengertian tersebut, kerajaan Allah bersifat rohani – Yesus berkata bahwa kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (Yohanes 18:36), dan Ia menyerukan bahwa pertobatan diperlukan untuk masuk ke dalam kerajaan Allah (Matius 4:17). Bahwa kerajaan Allah berkaitan dengan keselamatan telah diutarakan dengan cukup jelas dalam Yohanes 3:5-7, dimana Yesus berkata bahwa kerajaan Allah hanya dapat dimasuki oleh mereka yang telah lahir baru. Baca juga 1 Korintus 6:9.

Adapula pengertian lain dimana kerajaan Allah digunakan dalam Kitab Suci: pemerintahan Kristus secara harafiah di bumi selama seribu tahun. Daniel bernubuat bahwa “Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya” (Daniel 2:44; baca juga 7:13-14), dan adapun nabi lain yang bernubuat serupa (Obaja 1:21; Habakuk 2:14; Mikha 4:2; Zakharia 14:9). Beberapa teolog membahas perwujudan kerajaan Allah di masa depan yang nyata sebagai “kerajaan yang mulia” dan perwujudan yang tersembunyi pada saat ini sebagi “kerajaan kasih karunia.” Kedua wujud itu berhubungan; Kristus telah mendirikan pemerintahan rohani-Nya dalam gereja di bumi ini, dan suatu hari Ia akan mendirikan pemerintahan jasmani-Nya di Yerusalem.

Kerajaan Allah memiliki berbagai sisi. Tuhan adalah yang Berdaulat di atas alam semesta, jadi dalam pengertian itu kerajaan-Nya bersifat global (1 Timotius 6:15). Pada waktu yang bersamaan, kerajaan Allah melibatkan pertobatan dan kelahiran baru, dimana Allah memerintah di dalam hati para anak-anakNya dalam dunia ini sebagai persiapan bagi kehidupan yang akan datang. Pekerjaan yang dimulai di bumi ini akan menemui penyempurnaannya di surga (baca Filipi 1:6).

Oleh karena itu, kotbah di bukit merupakan beberapa pesan moral bagaimana hidup baik secara rohaniah, dan memasuki Kerajaan Surga (Allah) dengan damai sejahtera dan sukacita bersama Allah.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang ‘kotbah di bukit sebagai pesan moral Yesus’, Tuhan memberkati.-***







UA-43404914-1