translation services

Melalui Injil Lukas hari ini, Yesus menasihati kita semua agar menjadi hamba yang selalu rendah hati. Permintaan Yesus ini dimaksudkan agar kita menjadi seperti hamba, bukan untuk menindas kita, melainkan supaya dari karya-karya kita, tidak muncul rasa pamrih atau rasa ingin dihormai dan disanjung. Yesus yang penuh kasih, mengajaki kita untuk memiliki hati sebagai hamba, melayani sesama dengan tulus. Menjadi hamba bagi sesama, bukanlah hal yang hina yang menempatkan kita menjadi orang yang rendah hati di mata orang lain.

Kerendahan itu ialah semata demi kemuliaan Tuhan. Sebagai hamba, Tuhanlah yang kita layani dan Tuhan hadir dalam diri orang-orang di sekitar kita.

Dalam Injil Lukas (Luk 17:7-10), Yesus bersabda:” Demikian jugala kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepada kamu, hendaklah kamu berkata ‘ kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan’.

Ajakan Yesus ini kiranya bersumber dari pribadi-Nya. Ia telah mengalami sendiri bahwa sikap kerendahan hati layaknya ‘seorang hamba’, merupakan salah satu sikap yang paling baik untuk kita hayati supaya kita menjadi semakin tulus dan murah hati.

Selain itu, mari kita melihat jauh tentang layaknya seorang hamba. Bagaimana Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai orang yang tidak berguna. Bagaimana Bunda Maria menyatakan dirinya seorang hamba ketika ia bertemu dengan Malaikat Gabriel. Bagaimana Bunda Maria menyatakan kepada Malaikat Gabriel:” Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu ” (Luk 1;38).

Tentu menjadi seperti seorang hamba, tidak sama seperti seorang hamba. Ini dimaksudkan agar sikap hidup sebagai seorang hamba menjadi sumber inspirasi untuk bagaimana menjadi seorang yang rendah hati.

Tuhan telah memberikan pada kita contoh yang sempurna dalam hal kerendahan hati, yaitu Yesus Kristus, PuteraNya. Kerendahan hatiNya tercermin dalam dua hal utama: Pertama, untuk menyelamatkan kita, Yesus yang adalah Tuhan mau menjelma menjadi manusia, tergantung sepenuhnya kepada Allah Bapa. Kitab Suci mengatakan bahwa Yesus, “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia… Dan Ia merendahkan diriNya dan taat sampai mati di kayu salib”(Fil 2:5-8).

Kedua, Yesus merendahkan diri dengan ketaatan-Nya untuk melaksanakan tugas misi yang diterima-Nya dari Allah Bapa, yaitu untuk menyelamatkan kita, para pendosa (Rom 5:8), termasuk dengan segala keadaan yang berkaitan dengan tugas penyelamatan itu. Seluruh hidup-Nya adalah cerminan kerendahan hati yang sempurna: lahir di kandang hewan, hidup miskin sepanjang hidupNya di dunia (2 Kor 8:9), dipukuli, dihina, difitnah padahal tidak bersalah, dilucuti pakaian-Nya, dianiaya sampai akhirnya wafat di Salib.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang ‘menjadi hamba yang selalu rendah hati’, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan