translation services

[su_dropcap style=”light” size=”5″]K[/su_dropcap]ehadiran Yesus di dunia merupakan kegenapan wahyu Perjanjian Lama. Injil Matius (Mat 5:17-19) hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengajarkan tentang hukum Taurat dan para nabi. Kata-kata Yesus:” Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Jika kita menyimak kata-kata Yesus di atas, Ia datang bukan untuk membuang atau meniadakannya, tetapi menggenapinya. Namun demikian, orang-orang Yahudi khususnya orang Farisi dan ahli Taurat gagal paham tentang hal ini. Mereka melihat Yesus bukan sebagai sosok penapsir hukum Taurat atau para nabi yang istimewa tapi justru memusuhi-Nya.

Menurut St. Thomas Aquinas,hukum itu dibagi menjadi tiga yakni hukum moral, hukum seremonial, dan hukum yudisial. Ketiga hukum ini terdapat dalam Kitab Hukum Taurat. Hukum moral merupakan sebagian hukum kodrat, yang di dalamnya terdapat 10 perintah Allah. Hukum ini mengikat dan berlaku sepanjang sejarah umat manusia. Kedatangan Yesus bukan untuk meniadakan hukum ini, melainkan untuk menggenapinya. Sementara itu, hukum seremonial merupakan hukum yang mengatur hukum mengenai kesucian dari hal-hal duniawi seperti tata cara persembahan, kurban, cara berpakaian, tingkah laku dll. Hukum ini bisa ditiadakan (dihapus) dan digantikan oleh persembahan (kurban) Yesus yang paling agung. Sedangkan hukum yudisial mengatur tentang hukuman atau sangsi dalam pelaksanaan aturan sehingga aturan itu dapat dijalankan dengan baik. Hukum ini banyak berbicara tentang hubungan dengan sesama seperti seorang pencuri harus mengembalikan 4 kali lipat atau mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Namun kehadiran Yesus menyempurnakan dengan pengampunan, tetapi sepenuhnya menyerahkan kebijakan itu pada peraturan pemerintah yang berlaku.

Sementara itu untuk Gereja Katolik, Gereja memiliki kewenangan untuk membuat hukum yudisial yaitu aturan atau disiplin yang dapat berubah mengikuti perkembangan zaman.

Intinya, Yesus tidak menghilangkan hukum moral, melainkan menggeapinya. Sementara hukum seremonial dan yudisial merupakan suatu sarana yang dipakai untuk menyambut kedatangan Yesus yang sempurna.

Dengan adanya penjelasan dari St. Thomas ini, maka, kita mengetahui bahwa memang Kristus merupakan penggenapan Hukum Taurat Musa. Dan dengan peranNya sebagai penggenapan, maka Kristus tidak mengubah hukum moral, namun hukum seremonial dan yudisial yang dulu tidak berlaku lagi, karena hukum- hukum tersebut hanya merupakan ‘persiapan’ yang disyaratkan Allah agar umat-Nya dapat menerima dan menghargai kesempurnaan yang diberikan oleh Kristus. Di sinilah arti bagaimana penggenapan Hukum Taurat memberikan kepada kita hukum kasih yang baru. Yesus tidak membatalkan hukum Taurat, sebab dengan mengenal hukum Taurat, kita akan dapat lebih memahami Hukum Kasih yang diberikan oleh Kristus. Yesus menggenapi hukum Taurat dalam Perjanjian Lama, namun penggenapannya dalam Perjanjian Baru tidak harus sama persis dengan apa yang tertulis dalam kitab Perjanjian Lama tersebut.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang’ Yesus sebagai kegenapann wahyu Perjanjian Lama’, Tuhan memberkati.-*** (Sumber: katolisitas.org)

Tinggalkan Balasan