translation services

Dalam hidup keagamaan kita, sebaiknya kita menjauhkan ragi orang-orang Farisi. Mengapa demikian? Orang Farisi memang berbeda dengan orang-orang Yahudi pada umumnya. Mereka berpakaian yang berbeda. Mereka pada umumnya berpakaian seorang rabi dengan jubah yang panjang-panjang, sebagai bukti mereka ini adalah golongan elite dalam beragama.

Dalam pengajaran-Nya kepada orang banyak, Yesus menegaskan agar menjauhkan ragi orang Farisi. Mereka ini penuh dengan kemunafikan. Mereka menapsirkan hukum Taurat sesukanya sendiri, yang penting menguntungkan secara duniawi.

Tentang hal ini dalam suratnya kepada Timotius, Santo Paulus berkata:” Sebab akan datang waktunya, orang tidak dapat menerima lagi ajaran sehat, tetapi mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng”. Kemudian Santo Paulus menambahkan:” Tetapi engkau, kuasaikah dirimu dalam segala hal, sabarlah dalam penderitaan, lakukanlah pekerjaan pewarta Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu”.

Santo Paulus dalam hal ini mau mengatakan bahwa perbuatan baik itu butuh suatu usaha, termasuk dalam dirinya barangkali harus mengalami penderitaan, apalagi dalam pelayanan pewartaan sukacita Injil. Menjauhkan segala perbuatan jahat sebagaimana banyak dilakukan oleh orang Farisi menjadi penting. Hidup yang penuh dengan kemunafikan tidaklah membawa damai sukacita, karena kebohongan -kebohongan yang diwartakan bagi banyak orang. Mereka hanya mencari pujian dunia, bukan sebaliknya.

Injil Markus (mrk 12:38-44) hari ini mengajarkan betapa kecewanya Yesus terhadap sikap orang Farisi yang penuh dengan kemunafikan. Kecenderungan mereka secara umum antara lain menjurus kepada tingkah laku bermegah-megah, keserakahan dan kemunafikan. Jadi wajarlah kalau Yesus mengingatkan orang banyak terhadap agama yang semacam itu. Kekuaan moril dan rohani jauh lebih berharga dari pada apa yang nampak dari luar seperti jubah panjang dan perkara-perkawa duniawi.

Injil Markus hari ini juga mengisahkan tentang persembahan antara seorang janda miskin dan orang kaya. Yesus mengisahkan bagaimana janda miskin ini telah memberikan persembahan dari seluruh hidupnya, sementara orang kaya memberi dari kelimpahannya. Gambaran itu mau disampaikan bahwa hakikat dari suatu persembahan bukan dilihat dari banyaknya persembahan tapi dari nilai kejujuran dan ketulusan hatinya untuk berbagi. Hal-hal seperti ini barangkali tidak dijumpai pada hati orang-orang Farisi yang selalu bermegah dan penuh dengan kemunafikan itu. Jadi wajarlah kalau Yesus menasehati kepada kita semua untuk menjauh dari ragi orang Farisi.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini tentang’ menjauhkan ragi orang Farisi’, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan