translation services

Renungan Kuasa Doa hari Minggu ini diangkat dari Injil Yohanes 20:19-31 dengan tema:” Damai sejahtera bagi kamu”. Dalam Injil Yohanes hari Minggu ini dikisahkan bagaimana Yesus setelah kebangkitan-Nya menampakkan diri kepada murid-Nya di suatu tempat tertutup, karena mereka takut dengan orang-orang Yahudi. Ketika Yesus bertemu dengan para murid-Nya, maka salam yang disampaikan bagi mereka adalah ” Damai sejahtera bagi kamu”. Kata-kata ” damai sejahtera” ini seringkali disampaikan kepada para murid-Nya. Damai sejahtera atau salom seringkali kita mendengarnya pula dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian damai sejahtera itu digantikan menjadi salam damai, dan yang lain, yang tentunya maknanya kurang lebih sama. Damai sejahtera sebagaimana disampaikan oleh Yesus kepada para murid-Nya dimaksudkan ‘rasa damai’ di hati menjadi sangat penting dalam hidup kita. Banyak orang dalam hidupnya tidak pernah merasa damai. Orang yang selalu membenci kepada sesamanya, maka dalam hatinya tidak pernah akan merasakan kedamaian di hatinya. Oleh karena itu seruan Yesus kepada para murid-Nya tentang ‘damai sejahtera’, adalah kedamaian di hati yang sungguh-sungguh tulus. Setiap orang membutuhkan rasa damai atau ketenangan bathin, karena dengan memiliki ketenangan bathin maka segala sesuatunya dapat dimanajemeni dengan baik.

Hidup tanpa ada rasa suka cita, damai sejahtera, maka hal itu akan menyengsarakan hidup bathinnya. Pusat kehidupan kita bukan pada logika (nalar) tetapi berpusat di hati. Tapi hal itu bukan berarti nalar tidak penting. Nalar (logika) tetap jalan, tapi bathin sebagai pusat kehidupan yang paling menentukan.

Dengan demikian, damai sejahtera itu berpusat pada hati dan bukan pada nalar. Ada yang mengatakan bahwa bathin(hati) dan nalar itu sama, saya katakan tidak. Nalar memang memberi perintah kepada seluruh kehidupan, tapi pusat hidup itu berpusat pada kebathinan kita. Melalui bathin ini pula kita merasakan pahit getirnya suatu kehidupan. Demikian kalau kita berbicara tentang iman, maka bathinlah yang berperan.

Damai sejahtera yang kita peroleh harus kita syukuri. Coba lihat daerah-daerah konflik, tidak ada sedikitoun damai sejahtera dalam hidup mereka. Yang ada adalah perasaan cemas, kuatir dan ketakutan. Semua perasaan ini berpusat di hati mereka.

Oleh karena ‘damai sejahtera’ yang diberikan atau ditawarkan oleh Yesus seharusnya kita syukuri, karena damai sejahtera ini sungguh menjadi kehendak Tuhan sendiri, agar setiap orang ada damai sejahtera secara tulus. Dengan demikian, ‘salom’ (damai sejahtera) dari Tuhan harus kita bagikan kepada sesama, agar kita sungguh-sungguh mengalami kedamaian sejati di dunia ini bersama Tuhan sendiri.

Demikian refleksi Kuasa Doa tentang ‘damai sejahtera” hari Minggu ini, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan