translation services

Hari ini Gereja merayakan hari Jumat Agung, sebagai puncak karya keselamatan Yesus terhadap umat manusia. Di kayu salib hina itu, Ia menjadi bahan tertawaan bagi banyak orang. Ia dihina, diolok-olok, dicaci maki.Seperti diketahui bahwa Hukuman mati di salib adalah hukuman yang paling keji yang biasanya diperuntukkan bagi mereka yang betul-betul salah dan sangat besar kejahatannya. Apakah Yesus yang dihukum mati disalib itu identik dengan para penjahat kakap?

Kisah sengsara Yesus Kristus menurut Injil Yohanes (Yoh 18:1-19:42) hari ini berawal dengan penyerahan diri-Nya kepada lawan-lawan-Nya. Ia tampil sebagai tokoh yang penuh wibawa dan kuasa. Ketiak Yesus bertanya:” Siapakah yang engkau cari?”. Mereka menjawab:” Yesus dari Nazareth?”. Jawab Yesus:” Akulah Dia”. Seketika itu mereka jatuh ke tanah. Dari gambaran ini, Yesus masih menunjukkan betapa kuasa-Nya. Setelah Yesus mengatakan:” Jika kamu mencari Aku, biarlah mereka pergi. Hal ini supaya genaplah Firman Tuhan yang telah dikatakan-Nya: dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorang pun yang Kubiarkan hilang. Setelah itu Yesus menyerahkan diri secara total. Sebagai manusia, Ia menjadi orang paling hina di antara penjahat kakap.

Menurut nabi Yesaya( Yes 52:13-53:12), ia menubuatkan sbb: ” Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil. Ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan! Banyak orang tertegun melihat Dia. Rupanya begitu buruk, tidak seperti manusia lagi. Ia tidak nampak seperti anak manusia. Ia akan membuat tercengang banyak bangsa, dan raja-raja akan mengatupkan mulutnya melihat Dia.Dia dianiaya dan membiarkan Dirinya ditindas, dan tidak membuka mulut-Nya seperti anak domba yang dibawa ke tempat pembantaian. Dalam nubuat Yesaya dikatakan pula, bahwa hamba-Ku sebagai orang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmat-Nya, dan kejahatan mereka dipikul-Nya.

Yesus disalibkan
Inspirasi bathin dari kisah sengsara dan wafat Yesus pada hari Jumat Agung itu antara lain bahwa kematian Yesus di salib adalah fakta historis, namun peristiwa itu menjadikan Yesus ditinggikan dan dimuliakan. Hal ini berarti pula bahwa kematian Yesus di salib mengalirkan daya penyelamatan umat manusia.

Untuk memperoleh kemuliaan-Nya, Yesus harus menjalani jalan salib. Sebagai pengikut Kristus Yesus, seharusnya tidak mudah mengeluh dan putus asa dalam menanggung beban penderitaan. Yesus adalah sumber keteladanan dalam menjalani hidup dan beban penderitaan. Nabi Yesaya telah menggambarkan tentang Dia adalah saksi kebenaran. Namun dunia menolak=Nya dan bahkan menyalibkan-Nya ibarat seorang penjahat kelas kakap.

Memang peristiwa itu sudah selesai. Hari Jumat Agung ini merupakan hari kenangan akan sengsara dan wafat-Nya. Kita terus diajak untuk mengenang akan peristiwa-peristiwa itu akan menjadi sumber inspirasi bathin dalam menjalani kehidupan ini. Sekali lagi bahwa Yesus adalah saksi kebenaran, dan bukan saksi palsu atau saksi pembenaran.

Ia tidak takut walau ditolak oleh banyak orang. Kesaksian akan kebenaran harus dinyatakan agar banyak orang percaya bahwa Ia adalah sungguh manusia dan sungguh Allah. Tapi sekali lagi iblis telah menguasai hati banyak orang sehingga Ia ditolak. Sebagai saksi kebenaran, Ia harus menjadi sumber terang bagi dunia. Ia tidak lekang karena waktu. Waktu jugalah yang menjadi saksi kebenaran itu.

Sengsara dan wafat Yesus di salib adalah silih orang berdosa. Dosa kita dihapuskan berkat sengsara dan kematian Kristus. Oleh karena itu Yesus mengatakan:” Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih seseorang yang rela menyerahkan nyawanya demi keselamatan para sahabatnya”. Dan itulah Dia Yesus menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan bagi banyak orang.

Demikianlan refleksi Kuasa Doa tentang perayaan Jumat Agung, Tuhan memberkati.-***

Tinggalkan Balasan