Pesta Kaluarga Kudus: Yesus, Maria dan Yusuf.

Hari ini Gereja merayakan pesta Keluarga Kudus yang terdiri atas Yesus, Maria dan Yusuf. Baru saja kita selesai merayakan pesta kelahiran Yesus, maka minggu pertama setelah Natal, ada perayaan Keluarga Kudus. Gereja selalu memberikan keteladanan hidup keluarga yang terdiri atas Yesus, Maria dan Yusuf. Pesta Keluarga Kudus meryupakan puncak peristiwa Natal. Allah yang penuh misteri menjadi manusia melalui keluarga dunia yakni Maria dan Yusuf. Ia memilih menjadi bagian dari keluarga agar sungguh bisa merasakan kesatuan hidup dengan manusia, tetapi juga untuk menjadikan semua keluarga kudus.

Sejarah kehadiran Yesus di dalam kehidupan manusia membawa harapan dan sukacita bagi banyak orang. Seorang saleh bernama Simeon melihat kehadiran Yesus yang dipersembahkan di dalam Bait Allah, sangat bersyukur, karena ia telah menyaksikan Mesias telah datang. Katanya:” Sekarang, Tuhan biarlah hamba-Mu ini pergi dalam sejahtera sesuai dengan Firman-Mu sebab mataku telah melihat keselamatan yang datang dari pada-Mu”. Demikian, seorang saleh lainnya yakni Hanna, yang hidupnya penuh dan doa dan matiraga di dalam Bait Allah, sangat bersyukur karena telah melihat Juru Selamat datang.

Oleh karena itu kita sungguh bersyukur karena memiliki keteladanan hidup keluarga, dan keluarga baik pasti menghadirkan Tuhan sebagai penyelamatnya.

Keluarga Kudus Nazareth: Yesus, Maria dan Yusuf
Surat Gembala Bapa Uskup Agung, Jakarta, berthemakan “Berjumpa Dengan Allah Dalam Keluarga” . Sebagai tempat perjumpaan dengan Allah, keluarga adalah tempat yang kudus, Istana Allah, Gereja sejati. Karena merupakan tempat kudus Allah, keluarga merupakan tempat penyembahan kepadaNya dan saluran berkat-Nya. Tuhan dalam Perjanjian Lama telah mengatakan tentang berkat di dalam rumah-Nya : “Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu” (Ulangan 12:7).

Kasih dalam keluarga merupakan wujud nyata dari berjumpa dengan Allah karena Allah adalah kasih: “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia ”(1 Yoh 4:16). Kasih terungkap dalam tindakan saling memperhatikan, saling menolong, saling memaafkan, dan meneguhkan. Ketika kasih mewarnai keluarga, kehadiran Allah terjadi di tempat itu. Kehadiran Allah dalam kasih membuat anggotanya rindu untuk berjumpa satu sama lain setiap saat. Kerinduan untuk senantiasa berjumpa dalam keluarga menandakan kasih Allah telah hidup di dalamnya. Allah menciptakan Adam, pria, sesuai dengan gambaran-Nya karena Ia ingin berbagi kasih. Hawa, wanita, diciptakan Allah dari tulang rusuk pria dengan maksud agar wanita menjadi teman sepadan pria dalam berbagi kasih. Jadi, sejak awal keluarga dibentuk Allah dengan kasih-Nya dan keluarga adalah pembawa atau penyalur kasih ke dalam dunia untuk pertama kalinya.

Kasih di dalam keluarga menangkal ancaman terhadap keluarga sebagai Istana Allah. Ancaman itu adalah persaingan yang telah diciptakan di kota metropolitan ini. Perusahaan-perusahaan menuntut para karyawannya untuk bekerja sangat keras karena menghadapi persaingan yang ketat. Banyak karyawan mengalami stres. Mereka mengalami stres karena banyaknya pekerjaan dengan waktu terbatas, tuntutan “deadline” yang membuat hidup terasa terburu-buru, terjadi konflik antar pribadi karena ada yang mempunyai kepentingan tersembunyi. Akibatnya: walaupun mereka berada dalam keluarga, tetapi jiwanya kosong sehingga rumah bagaikan tempat kuburan yang sunyi dan tanpa komunikasi dari hati. Perasaan tersinggung dan terabaikan menjadi makanan sehari-hari. Karena tuntutan hidup yang semakin tinggi, suami dan istri harus bekerja. Suami dan istri yang bekerja bisa memicu persaingan siapa yang mendapatkan posisi dan gaji yang lebih tinggi. Anak-anak pun dikondisikan untuk bersaing mendapatkan kasih sayang. Orang tua lebih menyanyangi anak-anak yang manis, taat, dan pandai daripada anak-anaknya yang kurang dalam kemampuan belajar. Anak-anak jadi terbiasa berlaku pura-pura demi memperebutkan perhatian orangtuanya. Kasih akan mengubah persaingan menjadi dukungan sehingga setiap anggotanya merasa dimiliki dan dicintai sehingga hidupnya berarti. Stres pun akan berubah menjadi kegembiraan hati karena kasih.

Bagaimana kita menjadikan rumah kita sebagai Istana Allah, yaitu tempat perjumpaan kita denganNya dan penyaluran berkat-Nya:

1. Menjadikan rumah kita sebagai Gereja: “Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku” (Mazmur 101:2).

Kita menjadikan perilaku di rumah seperti di Gereja. Rumah kita menjadi tempat menyembah, mengasihi, dan melayani. Ketika kita berhasil menciptakan perilaku itu di rumah kita layaknya di Gereja, rumah kita akan mengalirkan berkat yang luar biasa. Berkat Tuhan itu nyata: “Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu. Istrimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!” (Mazmur 128:2-3). Arti berkat dari rumah dalam ayat-ayat tersebut : a) Kita akan mendapatkan kebahagiaan dan keadaan kita baik, yaitu damai sejahtera; b) Istri akan menjadi seperti pohon anggur, yaitu sumber sukacita dalam keluarga; c) Anak-anak seperti tunas pohon zaitun, yaitu memiliki masa depan yang gemilang seperti tunas yang sedang tumbuh.; d) Suami diberkati Tuhan dengan pekerjaan dan usaha yang maju.

2. Menjadikan rumah kita Altar Tuhan.

Yang dimaksudkan altar Tuhan di sini adalah hati yang dipenuhi kerinduan untuk bersekutu dengan Tuhan. Ketika doa dipanjatkan dalam rumah kita, Tuhan akan hadir. Ketika Tuhan hadir dalam rumah kita, yang susah menjadi sukacita, yang lemah menjadi kuat, yang kekurangan dipenuhi kebutuhannya. Pendek kata, ketika rumah kita dipenuhi dengan kehadiran Allah, rumah kita menjadi tempat yang nyaman dan membuat anggotanya betah tinggal di dalamnya.

Kesimpulan bahwa rumah kita menjadi Istana Allah di mana kita bisa berjumpa denganNya dan menikmati berkat-Nya dapat diresapi melalui puisi saya di bawah ini.

Demikian renungan Hari Minggu ini, Tuhan memberkati.-***(Dari berbagai sumber).

Tinggalkan Balasan