translation services

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Lukas 21:1-4 dengan thema:“persembahan janda miskin dan orang kaya“. Thema ini diangkat dari kisah Yesus yang menyaksikan dua orang yang berbeda dalam memberikan persembahan dalam Bait Allah. Yang seroang adalah janda miskin dan seorang lagi adalah orang kaya. Nampaknya Yesus memperhatikan sejumlah orang-orang yang memberikan persembahan di dalam Bait Allah. Janda miskin memberikan 2 peser. Atas kondisi itu Yesus berkata:” Aku berkata sesungguhnya bahwa janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang. Sebab semua orang memberikan persembahanya dari kelimpahamnya,sementara janda ini memberikan dari kekurangannya, bahkan ia memberikan dari seluruh nafkahnya”.

tangan persembahan Di dalam karyanya, Yesus selau menaruh perhatian kepada orang miskin.
Pesan iman dan moral dari perikopa hari ini antara lain bahwa janda miskin ini dipuji oleh Yesus. Tindakannya menyenangkan hati Allah. Dia memberi bukan dari kelebihannya, tetapi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkahnya.

Orang yang bersahaja dan orang yang rendah hati mudah menerima kehadiran Tuhan dan mudah tergerak hatinya melihat sesama yang menderita. Sebaliknya orang sombong dan tinggi hati, sulit merasakan penderitaan sesama. Tuhan memuji persembahan janda miskin dengan ikhlas hati.

Berbicara tentang persembahan, dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus mengatakan “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7). Rasul Paulus tidak mengatakan sepuluh persen, namun menekankan kerelaan hati dan sukacita.

Yesus mengatakan “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat 23:23)

Yesus menekankan akan hakekat dari pemberian, yaitu keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Yesus tidak menekankan akan persepuluhan, namun apa yang menjadi dasar persepuluhan.

Kaum beriman Kristiani terikat kewajiban untuk membantu memenuhi kebutuhan Gereja, agar tersedia baginya yang perlu untuk ibadat ilahi, karya kerasulan dan amal-kasih serta sustentasi yang wajar para pelayan. Mereka juga terikat kewajiban untuk memajukan keadilan sosial dan juga, mengingat perintah Tuhan, membantu orang-orang miskin dengan penghasilannya sendiri.

Sementara itu, umat beriman hendaknya mendukung Gereja dengan bantuan-bantuan yang diminta dan menurut norma-norma yang dikeluarkan oleh Konferensi para Uskup. Jadi tidak ada yang mengatakan spesifik sepersepuluh bagian.

Gereja tidak perlu mendefinisikan seberapa besar sumbangan yang harus diberikan, namun lebih kepada pemberian sesuai dengan kemampuan dan juga dengan kerelaan hati dan sukacita. Namun itu tidak berarti bahwa bagi yang mampu untuk memberikan lebih dari sepuluh persen kemudian hanya memberikan bagian yang sedikit. Bagi yang mampu, seharusnya bukan hanya sepuluh persen, namun malah lebih pada itu, jika diperlukan. Bagi kaum miskin yang memang tidak mampu untuk memberikan sepuluh persen, mereka dapat memberikan sesuai dengan kemampuan mereka. Persembahan juga tidak hanya berupa uang, namun juga bakat dan waktu. Yang terpenting, semua persembahan harus dilakukan berdasarkan kasih kita kepada Tuhan sehingga kita dapat mengasihi sesama dengan lebih baik.
Demikianlah renungan Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-****

Kuasa Doa,
Bapa di surga, puji dan syukur kupanjatkan kepada-Mu, karena Engkau selalu memelihara hidupku berserta orang-orang lain yang kukasihi. Biarlah kasih setia-Mu mengalir melalui Yesus Kristus, Tuhan dan Penngantaraku, amin.

Tinggalkan Balasan