Kuasa Doa:”Imanmu Telah Menyelamatkan Dikau”.

Yesus dan perempuan pendosaRenungan Kuasa Doa hari ini diambil dari bacaan Lukas 7:36-50, dengan thema:” Imanmu telah menyelamatkan dikau”. Thema ini diangkat dari kisah Yesus yang mendapat undangan orang Farisi yang kaya bernama Simon. Selama perjamuan makan itu, datanglah seorang wanita pendosa. Ia datang membawa buli-buli minyak wangi. Ia menangis dan membasuh kaki Yesus dengan minyak wangi. Tentu saja peristiwa ini mengguncangkan hati tuan rumah, karena Yesus bergaul dengan para pendosa.

Baik Simon mau pun orang banyak lainnya masih mempunyai “sisi gelap”, tentang siapakah Yesus itu? Mereka berpendapat sekiranya Yesus itu seorang nabi atau orang baik, tentunya tidak akan bergaul dengan para pendosa. Karena mereka dianggap “najis”, dan tidak layak bergaul dengan mereka para pendosa.

Baik Simon mau pun orang banyak sampai saat ini masih belum paham akan “visi dan misi”, kehadiran Yesus di tengah bangsa manusia.

Walau kehadiran-Nya sudah dinubuatkan para nabi sebelumnya, banyak orang masih meragukan-Nya bahkan menolak-Nya mentah-mentah. Banyak orang lebih suka mengandalkan nalarnya dari pada iman.

Bagaimanakah iman menumbuhkembangkan iman?
Iman yang bertumbuh adalah iman yang tahan uji terhadap kesukaran dan penderitaan, dengan menempatkan hal-hal spiritual di atas segala yang bersifat duniawi, untuk menilai segala sesuatu.

Beberapa prinsipnya adalah:
Pertama, melihat Tuhan selalu dalam terang iman, tanpa mendahulukan cinta diri atau pandangan diri sendiri. Orang bertumbuh imannya percaya bahwa Tuhan itu selalu sama (lih. Ibr 13:8), Ia baik dan penuh belas kasihan, dalam keadaan apapun, pada saat kita sehat maupun sakit, kelimpahan ataupun kekurangan.
Adalah lebih mudah untuk mengatakan kita beriman, pada saat tidak ada hidup dalam kelimpahan. Namun justru ketahanan iman itu harus dibuktikan, pada saat kita mengalami ujian hidup. Adakalanya Tuhan mengizinkan kita mengalami mukjizat dan berkat-berkat-Nya saat kita menghadapi ujian ini, namun adakalanya, Ia mengizinkan penderitaan itu tetap kita alami. Ujian hidup itu dapat berhubungan dengan diri kita, misalnya penyakit, ataupun bermacam pergumulan hidup. Sebagai contohnya, seseorang memang dapat mengalami mukjizat kesembuhan jasmani, namun mukjizat ini ada batasnya, dan tidak selalu jika kita sakit maka pasti kita akan menerima mukjizat kesembuhan. Akan tiba saatnya bahwa Tuhan mengizinkan penyakit itulah yang menghantar kita pulang ke rumah-Nya. Maka di sini kita ketahui bahwa yang terpenting adalah kita memiliki iman yang kokoh, akan segala yang menjadi kehendak Tuhan, bahwa situasi apapun tidak akan memisahkan kita dari-Nya. Jika kita disembuhkan, “Puji Tuhan”, namun jika Tuhan memutuskan tidak demikian, kitapun harus tetap mengatakan, “Puji Tuhan!” Kelapangan hati yang demikian itulah yang menunjukkan kedewasaan iman, iman yang menunjukkan kepercayaan penuh kepada Tuhan yang mengasihi kita dalam situasi apapun. Kita melakukan apa yang bisa kita lakukan, namun selebihnya kita serahkan kepada Tuhan.
Sikap ini tidak untuk dikacaukan dengan sikap apatis, yang tidak percaya bahwa Tuhan dapat menyembuhkan/ melakukan mukjizat. Orang yang bertumbuh imannya, tetap percaya bahwa Tuhan dapat melakukan melakukan mukjizat-Nya, namun ia dengan kelapangan hati tidak “memaksakan” bahwa Tuhan harus melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Maka di sini, kita meneladani sikap Bunda Maria, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” (lih. Luk 1:38), yang juga sesuai dengan perkataan doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus (lih. Mat 6:10).
Kedua, menilai segala sesuatu di dalam hidup dalam terang pengajaran iman, dan tak berkompromi dengan ajaran dunia. Sebagai contohnya, orang yang bertumbuh dalam iman yakin bahwa kemiskinan di hadapan Allah, kerendahan hati, kelemahlembutan, pertobatan, belas kasihan, kemurnian hati, damai sejahtera (lih. Mat 5:3-10) adalah lebih berguna bagi kehidupan kekal daripada semua yang ditawarkan dunia.
Ketiga, teguh beriman di tengah-tengah ujian hidup dan penganiayaan dari mereka yang menentang iman kita kepada Yesus. Hal ini kita lihat dari perjuangan para rasul yang demi iman dan kasih mereka kepada Allah, mereka rela menderita demi mengabarkan Injil (Kis 5:41).
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:
KGK 1816 Murid Kristus harus mempertahankan iman dan harus hidup darinya, harus mengakuinya, harus memberi kesaksian dengan berani dan melanjutkannya; Semua orang harus “siap-sedia mengakui Kristus di muka orang-orang, dan mengikuti-Nya menempuh jalan salib di tengah penganiayaan, yang selalu saja menimpa Gereja ” (Lumen Gentium 42) Bdk. DH 14. Pengabdian dan kesaksian untuk iman sungguh perlu bagi keselamatan: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga” (Mat 10:32-33).
Keempat, iman yang sempurna pada jiwa-jiwa orang yang sempurna adalah yang iman yang dilengkapi oleh rahmat pengertian, pengetahuan yang telah mencapai tingkat yang sempurna untuk melihat dan memahami Allah dalam arti yang sesungguhnya di surga (1 Yoh 3:2). Pandangan surgawi ini dialami oleh Stefanus (lih. Kis 7:54-60) sebelum ia menyerahkan nyawanya karena imannya. Maka, kesempurnaan iman juga tampak dari perjuangan para rasul, martir dan para misionaris yang demi iman dan kasih mereka kepada Allah, mereka rela mengorbankan segala sesuatu termasuk mengorbankan nyawa mereka dengan lapang hati dan suka cita. Dengan demikian mereka menjadi sungguh serupa dengan Kristus.
Mari kita berjuang untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Allah, dengan disertai perbuatan- perbuatan kasih, seperti yang diajarkan dan dicontohkan oleh Tuhan Yesus dan para rasul.
Kita harus menyadari bahwa kita semua memang pendosa. Oleh karena itu, kita membutuhkan rahmat Allah, sehingga kita dapat benar-benar menjadi anak-anak-Nya, yang kudus. Dan kekudusan adalah suatu perjuangan. Oleh karena itu, adalah hal yang wajar kalau kita mengalami jatuh dan bangun. Yang paling penting adalah kita harus benar-benar berjuang dalam kekudusan dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan kita. Dan ini sekaligus menjadi bukti bahwa kita mengasihi Allah, bukan hanya dengan kata-kata, namun dengan menuruti segala perintah-Nya. Mari, kita bersama-sama mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita. Dan langkah paling awal adalah “PERTOBATAN“.

Pesan iman dan moral dari perikopa bacaan Injil Lukas hari ini antrara lain adalah bahwa dengan iman yang mengatasi segala logika manusia akan membawa kepada keselamatan.

Dalam menjalani hidup ini sebagai pengikut Kristus, kita memang membutuhkan iman yang terus bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan itu kita jaga dengan cara antara lain: doa yang tiada putus, membaca Kitab Suci, hidup askese, rekonsiliasi, dan Ekaristi. Dan kelima hal ini merupakan pesan dari Bunda Maria Medjugorje.

Apakah dengan iman kita? Apakah kita juga berusaha menumbuhkembangkan keimanan kita. Cukupkah hanya berdoa saja? Tentu saja tidak!!! Andalah yang menjawabnya.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa tentang iman sebagaimana pertobatan wanita pendosa itu karena iman, Tuhan memberkati.-***

Doa,

Allah Bapa di surga, curahkan Roh Kudus-Mu ke dalam hatiku, agar aku dimampukan pertumbuhan imanku untuk mengenal Engkau lebih dalam melalui Yesus Kristus, Tuhan dan pengantaraku, amin.

Tinggalkan Balasan