translation services

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari bacaan injil Lukas 7:31-35, dengan thema:”Hikmat Allah dibenarkan oleh orang yang menerimanya”. Thema ini diangkat dari kisah kegeraman Yesus terhadap mereka yang menolak Diri-Nya. Kegeraman hati Yesus itu diungkakan sbb:”Dengan apakah akan Kuumpamakan orang dari angkatan ini? Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru ‘Kami meniup seruling bagimu, tapi kalian tidak menari.Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis’. Kemudian Yesus menambahkan:” Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang, dan ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur, kalian berkata ‘ia kerasukan setan’. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, kalian berkata’ Lihatlah, seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa’. Yesus mengakhiri penutup perikopa Injil Lukas hari dengan mengatakan:” Hikmat Allah dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya”.

Apa makna perikopa hari ini? Orang-orang Israel khususnya orang Farisi dan ahli kitab selalu beranggapan bahwa apa yang disampaikan oleh Yesus dianggap berseberangan dengan hukum Taurat. Mereka mengeraskan hatinya untuk menolak kehadiran Yohanes mau pun Yesus sendiri. Penolakan terhadap Yesus itu diungkapkan dengan kata-kata ‘ ketika meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari, ketika kidung duka dinyanyikan, kalian tidak menangis!!!… Gambaran itu membuktikan ketidakpedulian mereka terhadap kebenaran yang ada.

Kita tidak seharusnya meniru perbuatan mereka yang tidak sepaham dengan dengan sabda Yesus. Kita menyaksikan banyak orang yang tidak menerima Yesus lalu mencari-cari keselahan. Yohanes Pembaptis dipersalahkan karena ia menerapkan hidupnya yang sangat keras dengan matiraga. Demikian pula, mereka mempersalahkan Yesus, karena Ia sering berkumpul bersama para pendosa, dan para pemungut cukai. Dari dulu hingga sekarang, yang tidak mampu mengimani sabda Yesus, kerjanya hanya mencari-cari kesalahan.

Pada kesempatan ini kita diundang untuk terbuka dan menerima cara Allah bertindak di dalam menyelamatkan umat-Nya. Yohanes Pembaptis yang datang dengan menawarkan hidup askese (matiraga), dicap sebagai kerasukan setan. Kemudian Yesus yang datang dengan menawarkan jalan kesetiakawanan bagi yang lemah, dicap sebagai pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan pendosa. Walau demikian, baik Yohanes maupun Yesus tidak kendor untuk mewartakan hikmat Allah. Hikmat Allah dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya, karena hikmat Allah membawa damai sukacita. Hikmat Allah tidak membawa kepalsuan, tetapi suatu kebenaran.

Pesan iman dan moral dari perikopa ini antara lain bahwa rencana Allah tidak sama dengan rencana manusia. Terkadang kita terlalu memaksakan kehendak kita yang tidak sesuai dengan rencana Allah. Sering apa yang dianggap baik Allah, sering tidak sesuai dengan kehendak manusia.

Oleh karena ini konsep kerendahan hati seharusnya menjadi tindakan bijak dalam hidup ini, agar kita tidak terjerembab dalam dosa kesombongan. Bolehlah kita mencontoh sabda Yesus yang mengatakan:” Belajarlah kepada-Ku karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29).

Bagaimana anda sendiri? Masihkah anda meragukan sabda Yesus yang penuh hikmat? Andalah yang menjawabnya.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

>Doa,

Allah Bapa yang mahakasih, betapa besar kasih-Mu kepada umat manusia termasuk kepadaku. Engkau telah menyatakan diri-Mu dengan hikmat yang membawa damai sejahtera melalui Yesus Kristus, Tuhan dan Pengantaraku, amin.

Tinggalkan Balasan