Kuasa Doa:”Mungkinkah Seorang Buta Menuntun Orang Buta?”

Renungan Kuasa Doa hari ini masih bersumber dari Injil Lukas khususnya pada Luk 6:39-42. Thema ini diangkat dari kisah Yesus yang berbicara kepada para murid-Nya.

Thema “ Mungkinkah orang buta menuntun orang buta” merupakan kritikan terhadap orang Farisi, juga peringatan terhadap pengajar-pengajar palsu pada jemaat Kriste perdana. Pengajar Kristen yang sejati akan selalu menjadi murid dari Guru, tidak mengubah atau “melampaui”ajarannya.

Gambaran yang populer mengenai selumbar dan balok digunakan untuk menghindari mengadili orang lain. Orang munafik sangat dibutakan oleh dosanya sendiri, senang menonjolkan kelemahan orang lain.

Pesan iman dan moral dari perikopa hari ini antara lain bahwa jangan terlalu mudah untuk menghakimi orang lain. Kita diajak untuk berefleksi diri apakah diri kita sungguh-sungguh sudah beres. Apakah hati kita tidak ada kekurangan atau kesalahan. Dengan melihat kekurangan diri kita, kita tidak akan begitu mudah untuk menghakimi sesama kita, dan kita harus memperlakukan sesama itu dengan kasih.

Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau kita sering berefleksi diri, memeriksa bathin kita, apakah diri kita ini benar-benar beres. Dengan seringnya diri kita memeriksa batin (refleksi), kita akan lebih obyektif dalam menilai orang lain. Kita juga makin menyadari bahwa kita bukan orang yang sempurna, kita masih sering jatuh bangun dalam menjalani hidup ini. Oleh karena itu, sebelum memberikan penilaian terhadap orang lain, nilailah diri sendiri.

Pesan iman Injil Lukas hari ini sangat reflektif dan sangat berkaitan dengan hidup kita sehari-hari. Kita sering menuduh orang lain tidak jujur, pada hal hidup kita penuh dengan kecurangan. Sering kita omong besar, pada hal itu hanya untuk menutupi segala kekurangan kita.

Thema:” Mungkinkah orang buta menuntun orang buta .”, secara harfiah tentu saja tidak mungkin, karena bisa keduanya akan jatuh terjerembab ke dalam jurang secara bersama-sama. Maksud dari thema ini adalah sebagaimana diungkapkan di atas. Kita diajak untuk tidak mudah menghakimi atau menuduh orang lain lebih jelek dari pada diri kita.

Oleh karena itu, ajakan Yesus untuk menjadi seorang lemah lembut dan rendah hati sebagaiman tertulis di dalam Mat 11:29, dapat menjadi tolok ukur dalam hidup kita. Untuk menjadi seorang yang lemah lembut dan rendah hati perlu proses yang terus-menerus, sehingga akhirnya bersama dengan rahmat Tuhan kita berhasil mengatasi segala bentuk kesombongan. Karena kelemah lembutan dan kerendahan hati adalah suatu kebajikan dari sejumlah kebajikan lainnya.

Ngomong soal kebajikan berarti kita belajar menanggalkan sifat-sifat duniawi manusia sebagaimana terangkum dalam tujuh dosa pokok manusia.

Bagaimana kita menjalani hidup ini, apakah kita dikendalikan oleh kebajikan atau oleh napsu-napsu dunia. Andalah yang mengetahuinya. Mari kita selalu dengan rendah hati, mohon kekuatan kepada Tuhan, agar kita diberi karunia kerendahati dan kelemahlembutan dalam hidup ini. Tuhan memberkati.-***

Doa,

Allah Bapa yang mahakasih, aku mohon Engkau terus mencurahkan Roh-Mu yang kudus ke dalam hidupku, dan aku terus dimampukan untuk belajar lemah lembut dan rendah hati melalui Yesus Kristus Tuhan dan pengantaraku, amin.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.