Kuasa Doa:” Manakah Yang Diperbolehkan Pada Hari Sabat, Berbuat Baik atau Jahat”

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari bacaan Injil Lukas 6:6-11, dengan thema:” Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau jahat?”. Thema ini diangkat dari kisah Yesus yang menyembuhkan seorang yang mati tangannya pada hari Sabat.

Seperti diketahui bahwa orang Farisi dan ahli kitab sangat fanatik kepada hukum Taurat. Begitu fanatiknya, sehingga siapa pun yang melanggar hukum itu harus ditegur dan nantinya harus dihukum.

Konflik antara Yesus dan orang Farisi dan ahli Kitab berpusat pada hukum/aturan. Yesus pun menghargai hukum/aturan itu, tapi yang dijalankan Yesus tidaklah kaku.

Di sini ada perbedaan dalam pemahaman tentang hukum. Orang Farisi dan ahli Kitab melihat hukum Sabat secara kaku, sehingga siapa pun yang melanggarnya harus dihukum. Sementara Yesus mengartikan hukum itu secara luwes/fleksibel. Artinya hukum Sabat itu kepentingan manusia, dan bukan sebaliknya. Di sisi lain, Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Yesus juga mengartikan bahwa keselamatan manusia jauh lebih penting dari pada aturan hukum yang kaku dan cenderung tidak manusiawi. Yesus lebih menomorsatukan kasih. Cinta, pembebasan, pengmpunan jauh lebih utama dari pada segala hukum dan aturan.

Penegasan Yesus:” Manakah yang lebih utama, berbuat baik atau berbuat jahat”, memperlihatkan sebuah konfrontasi yang jelas antara Diri-Nya dan kelompok orang Farisi dan ahli Taurat. Yesus dengan jelas dan tegas bahwa belas kasih jauh lebih utama dari pada sekedar menaati aturan yang kaku dan tidak manusiawi. Bagi Yesus keselamatan jiwa manusia jauh lebih utama, dari pada hukum atau aturan yang dibuat oleh manusia. Pengalaman Santo Paulus yang sebelumnya adalah anggota orang Farisi, tetapi setelah dibebaskan oleh Yesus, ia mengalami pencerahan yang luar biasa. Di jalan ke Damsyik, Yesus membebaskan dia dari belenggu aturan dan kepicikan pikirannya. Ia dicerahkan bahwa cinta, pembebasan dan pengampunan jauh lebih utama dari pada segala hukum/aturan. Oleh karena itu rasul Paulus begitu bersemangatnya mewartakan Kristus di luar masyarakat Yahudi, karena menolaknya.
Pesan iman dan moral dari perikopa dari bacaan Lukas hari ini antara lain bahwa ada perbedaan yang besar di dalam mengartikan hukum Sabat. Yesus melihat bahwa orang Farisi dan ahli Kitab sangat sempit melihat hukum/aturan. Barangkali mereka ini menerjemahkan hukum secara harfiah saja. Hukum itu untuk kebaikan manusia, bukan sebaliknya. Bagi Yesus, belaskasih, pembebasan dan pengampunan jauh lebih penting dari penerapan hukum yang kaku dan tidak manusiawi.

Konflik antara Yesus dan ahli kitab dan orang Farisi berakhir pada penyaliban Yesus di kayu salib, karena kedegilan hati mereka. Mereka sudah menutup hatinya terhadap perbuatan baik.

Pertanyaan Yesus:” Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat?”, ternyata tidak menggoyahkan pikiran dan hati mereka, karena hati mereka sudah tertutup.

Bagaimana dengan diri kita? Apakah kita juga terbuka terhadap pertanyaan Yesus untuk berbuat baik atau jahat. Berbuat baik berarti kita sepakat dengan ajakan Yesus, dan sekiranya kita lebih taat atau aturan yang kaku, berarti kita “pro” orang Farisi dan ahli kitab.
Terserah anda untuk menyikpainya. Demikianlah renungan http://kuasadoa.com hari ini, Tuhan memberkati.-***

Doa,

Allah yang penuh kasih, konflik kepentingan sering menghantui dalam hidupku apakah berbuat baik atau jahat. Mohon curahan Roh-Mu yang kudus, agar aku dimampukan karunia pembedaan roh dalam hidupku melalui Yesus Kristus, Tuhan dan pengantaraku, amin.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.