Kuasa Doa

Kuasa Doa

Media Informasi Iman Katholik online

Pengurapan minyak atas Yesus.

Hari ini (Senin) dalam Pekan Suci. Suasana bacaan-bacaan Injil sangat terasa menuju pada penderitaan Yesus. Pengurapan minyak atas Yesus oleh Maria saudara Marta melambangkan hari pemakaman-Nya. Sebuah ungkapan penghormatan kepada Tuhan yang menyelamatkan.

Jikalau Maria, Marta dan Lazarus adalah orang-orang baik yang berada di sekitar Yesus, namun di luar sana, sudah berkumpul orang-orang berhati jahat yang tidak hanya ingin memusnahkan Yesus, tetapi jua Lazarus yang pernah dibangkitkan oleh Yesus. Menurut mereka kebangkitan Lazarus telah menyebabkan banyak orang datang dan mendengarkan ajaran Yesus. Bahkan salah seorang murid Yesus yakni Yudas Iskariot mencela sikap Maria yang mengurapi kaki Yesus dengan minyak yang sangat mahal harganya.

Maria meminyaki kaki Yesus

Inspirasi batin dari Injil Yohanes (Yoh 12:1-11) hari ini mau mengatakan bahwa hidup kita selalu dikelilingi oleh orang-orang baik, tetapi juga tidak sedikit oleh orang-orang yang jahat. Betapa tidak mudahnya bagi kita yang hidup jujur selalu dihadapkan dengan mereka yang berhati jahat dan tidak jujur.

Oleh karena itu, marilah kita menjadi orang yang senantiasa sadar bahwa kebaikan tidak selalu diterima oleh lingkungan. Tetapi seperti kata Yesus kita harus tetap menjadi pelita untuk menerangi sekeliling kita atau menjadi garam untuk mengasini lingkungan kita dengan kebaikan dan kejujuran kita. Apa yang diperbuat Maria adalah tindakan visioner, tindakan terhadap yang akan terjadi, suatu tindakan penghormatan akan Tuhan yang wafat dan karena wafat dan kebangkitan-Nya manusia diselamatkan. Dengan demikian kita juga tidak perlu mengurangi kasih dan kebaikan hati kita kepada sesama, walau barangkali tindakan kita itu ditolak oleh lingkungan kita. Ingat dalam nyanyian kasih, bahwa segalanya akan musnah, dan yang tinggal hanyalah kasih. Oleh karena itu, kita memang harus menyebarkan virus kasih kepada sesama.

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

Makna Minggu Palma.

Hari ini, kita merayakan hari Minggu Palma. Menurut kebiasaan liturgis, pada hari ini disiapkan daun palma untuk diberkati dan digunakan oleh umat dalam perarakan menuju gereja untuk merayakan Ekaristi. Daun palma yang dipegang umat itu dapat dilambai-lambaikan sambil menyanyikan lagu-lagu yang mengenangkan sorak-sorai khalayak ramai menyambut kedatangan Yesus di atas seekor keledai hendak memasuki kota Yerusalem sebagai raja damai. Apakah daun palma adalah satu satunya yang dapat digunakan untuk ritus pemberkatan dan perarakan? Apakah bisa digunakan daun selain palma, misalnya janur, atau ranting-ranting pohon lain?

Sebenarnya dalam Kitab-Kitab Injil terdapat variasi cerita tentang Yesus dielu-elukan oleh para murid atau orang banyak ketika masuk kota Yerusalem. Variasi itu nampak antara lain dalam bahan yang digunakan orang banyak untuk mengelu-elukan Yesus. Coba kita perhatikan:

Mt 21:8 “Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan”.

Minggu palma bersama Yesus

Mrk 11:8 “Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang”.

Injil Matius dan Markus menceriterakan bahwa orang banyak itu menghamparkan pakaiannya di jalan. Tetapi Matius dan Markus tidak menceritakan bahwa orang banyak itu memegang daun palma. Yang menarik juga adalah bahwa ranting-ranting pohon itu disebarkan di jalan, bukan dipegang dan dilambaikan.

Luk 19:36 “Dan sementara Yesus mengendarai keledai itu mereka menghamparkan pakaiannya di jalan”. Lukas tidak menceriterakan bahwa para murid Yesus yang mengiringi-Nya menyebarkan ranting-ranting hijau dan memegang daun palma.

Satu-satunya Injil yang menyebut pemakaian daun palma adalah Yohanes 12:13 “Mereka (orang banyak) mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Yohanes tidak menceritakan bahwa orang banyak itu menyebarkan ranting-ranting pohon atau menghamparkan pakaiannya di jalan.

Jadi nama Hari Minggu Palma dan tradisi upacara pemberkatan serta perarakan dengan daun palma sebenarnya berdasarkan cerita dari Injil Yohanes. Arti dari daun palma itu menjadi jelas dari konteks ceritanya, yaitu peristiwa Yesus dielu-elukan, disoraki, disalami sebagai raja, yang datang dalam nama Tuhan untuk membawa damai. Maka daun palma yang dilambai-lambaikan merupakan tanda pujian dan kemuliaan, kemenangan dan damai. Arti simbolis yang sama dari daun palma ini dapat kita temukan dalam Kitab Wahyu: “Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” (Why 7:9-10).

Menurut catatan Egeria mengenai liturgi di Yerusalem sekitar abad ke-empat, sudah ada perarakan dengan ranting palma dan zaitun pada Hari Minggu Palma untuk mengenangkan peristiwa Yesus dielu-elukan ketika memasuki kota Yerusalem. Biasanya pada sore Hari Minggu itu umat berkumpul di bukit zaitun dan sekitar jam 5 sore di atas bukit itu mereka mendengarkan pemakluman Injil mengenai masuknya Yesus secara mulia ke kota Yerusalem. Setelah itu mereka berarak menuju pusat kota Yerusalem. Anak-anak juga turut serta dalam perarakan sambil membawa ranting palma dan zaitun. Kemudian cara perayaan seperti ini mulai dibuat juga di Spanyol (abad ke-lima), di Gallia (abad ke-tujuh) dan di Roma (abad ke-sebelas). Berdasarkan tradisi ini, dapatlah dimengerti mengapa sebaiknya daun palma dipakai meskipun bukanlah satu-satunya yang diberkati dan digunakan dalam perarakan. Dapat pula dipakai ranting zaitun atau ranting hijau lain (terutama kalau di wilayah bersangkutan tidak ada tumbuhan palma) dan boleh juga janur, bila ada kemiripan makna simbolisnya.
Khusus mengenai pemakaian janur, yang biasanya dibuat dari daun kelapa (sebangsa palma) menandakan pesta atau hari raya. Hiasan seperti ini digantungkan pada pintu (gerbang) dan dapat dipakai sebagai hiasan pada pagar sepanjang jalan menuju tempat pesta dan di tempat pesta itu sendiri. Dapat pula janur dipakai sebagai hiasan oleh para penari pembawa persembahan. Bahkan ada keranjang janur berupa wadah untuk bahan sesajen.

Nah, janur mana yang hendak dipakai pada perayaan Minggu Palma? Apakah digunakan oleh umat atau oleh penari? Ataukah dipakai lebih sebagai hiasan di jalan menuju tempat perayaan dan di dalam ruang ibadat itu sendiri? Sebagai hiasan di jalan mungkin serasi dengan makna penggunaan daun palma. Sebagi hiasan di jalan atau sarana yang dipegang oleh umat (dan dipakai oleh penari), janur dapat memperlihatkan kegembiraan dan sorak-sorai menyambut kedatangan Yesus sang Raja Damai ke tengah umat-Nya. Namun sebagai hiasan di dalam gereja perlu dipertimbangkan baik-baik, karena janur yang terbuat dari daun kelapa muda berwarna kuning terang (nur) dengan nuansa meriah dapat mengurangkan arti kenangan akan penderitaan Yesus yang dimaklumkan dalam Kisah Sengsara dan dirayakan dalam Ekaristi Minggu Palma. Rasanya jauh lebih cocok bila janur sebagai hiasan dalam gereja dipakai pada malam Paskah terutama sekeliling lilin Paskah sehingga memperkuat makna lilin Paskah sebagai Terang Kristus yang menghalau kegelapan dosa dan maut. Pada kesempatan istimewa ini janur menjadi simbol terang, kemuliaan, dan kemenangan.

P. Bernardus Boli Ujan, SVD (Mjalah Liturgi oleh KWI)

Nubuat Kayafas.

Injil Yohanes (Yoh 11:45-56) hari ini mengisahkan bagaimana orang-orang Yahudi yang terdiri atas orang Farisi dan ahli Taurat makin cemas dengan hadirnya Yesus. Untuk itu orang Farisi dan ahli Taurat memanggil Mahkamah Agama bagaimana menghadapi Yesus. Mereka berkata:” Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan, maka semua orang akan percaya kepada-Nya, lalu orang-orang Roma akan datang, dan merampas tempat suci kita serta bangsa kita”. Adalah seorang di antara mereka seorang imam besar tahun itu namanya Kayafas. Ia bahkan bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk seluruh bangsa; bukan untuk bangsa ini, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang terceraiberaikan. Mulai hari itu, mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Inspirasi Injil Yohanes hari ini antara lain mengingatkan kepada kita betapa kehausan akan kekuasaan sungguh akan membawa seseorang untuk berbuat jahat. Ini tidak terjadi pada waktu orang Yahudi bersekongkol jahat untuk membunuh Yesus. Pada jaman sekarang pun itu terjadi di mana-mana. Haus akan kekuasaan akan menghalalkan segala cara termasuk membunuh mereka yang dianggap lawan-lawannya.

Tetapi mengapa Yesus tidak lari jauh-jauh dari para lawan-lawannya? Mengapa Yesus tetap mengajar? Pertama saatnya belum tiba. Rencana Allah berbeda dengan rencana manusia. Di samping itu banyak di antara kita yang tidak paham siapakah sosok Yesus itu. Mengapa satu orang begitu dimusuhi oleh orang sedemikian banyak. Dari sisi manusia, Yesus tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Ia bukan orang kuat, dan mempunyai pasukan yang terus mengelilingi agar tidak tersentuh orang lain. Di mana-mana Ia terus membuat mukjizat. Mukjizat Yesus ini seharusnya dimengerti sebagai kehadiran Allah yang menyembuhkan, bukan dimengerti untuk meraih kekuasaan seperti pandangan orang-orang duniawi. M Mukjizat Yesus harus dimengerti sebagai kemuliaan Allah, dan mukjizat Yesus juga harus dimengerti sebagai epipani (penampakan) atau kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat-Nya.

Nubuat Kayafas hari ini memberikan makna bagi kita bahwa Yesus mati bagi seluruh bangsa, dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-beraikan. Nubuat Kayafas itu memberi makna bagaimana Yesus akan mati bagi keselamatan banyak orang.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

Kedegilan hati.

Injil Yohanes (Yoh 10:31-42) hari mengisahkan bagaimana perseteruan Yesus dan orang Yahudi makin memuncak. Kemarahan orang Yahudi sudah tak terbendung dan ingin melempari Yesus dengan batu. Dalam dialog antara Yesus dan orang Yahudi, dikatakan oleh Yesus sbb:”Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah kamu percaya kepada-Ku. Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa ada di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa”. Atas sikap ini, mereka mencoba menangkap Yesus, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Bahkan Yesus masih sempat pergi lagi ke sebarang sungai Yordan, ke tempat Yohanes dulu membaptis orang, lalu ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata:” Yohanes memang tidak membuat tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini benar. Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.

Inspirasi batin dari Injil Yohanes hari tentang perseteruan Yesus dan orang Yahudi berawal dari suatu anggapan bahwa Yesus telah menghujat Allah dengan menganggap diri-Nya sama dengan Allah. Dalam dialog ini terungkap bahwa apa yang dikerjakan Yesus adalah melakukan kehendak Bapa-Nya yang mengutus Diri-Nya. Namun lawan-lawan Yesus tidak percaya terhadap pernyataan karya Ilahi Yesus, bahwa Ia dan Bapa adalah satu bahwa Bapa di dalam diri-Nya dan Ia di dalam Bapa. Namun mereka sulit menerima Yesus juga dengan perbuatan-Nya yang semuanya baik. Mereka sulit membuka hati pada Yesus bahwa Dia adalah Mesias, bahwa Dia adalah yang dijanjikan Allah sendiri. Hati mereka sudah tertutup rapat bagi warta gembira keselamatan. Itulah karena kedegilan hati mereka.

Kalau hati sudah tertutup, membeku dan membatu, tidak mudah untuk berubah meskipun melihat tanda-tanda dan juga kebaikan orang lain. Hati yang degil sulit membuka diri dan menerima pendapat orang lain. Namun ketika Yesus berada di seberang sungai Yordan, ternyata banyak orang yang percaya kepada Yesus.

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah kita juga memiliki kedegilan hati seperti orang Yahudi? Sebagai umat beriman, tentu kita selalu membuka hati atas Firman yang hidup. Firman yang hidup itu adalah Yesus sendiri.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

Sebelum Abraham jadi, Aku ada

Injil Yohanes (Yoh 8:51-59) hari ini mengisahkan tentang kesaksian Yesus baik tentang diri-Nya, Bapa-Nya dan juga tentang Abraham. Tentang Abraham, Yesus mengatakan bahwa :”Sebelum Abraham jadi, Aku ada”. Mengenai hal yang terakhir ini, orang Yahudi marah besar kepada Yesus. Kemarahan yang begitu meluap-luap menjadi mereka mengambil batu untuk melempari Dia: anehnya, Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.

Yesus mengajar di Bait Allah

Inspirasi dari bacaan Injil Yohanes hari ini dengan tema:” Sebelum Abraham jadi, Aku ada” menjadikan suatu kesaksian bahwa Yesus itu lagi-lagi bukan seperti gambaran manusia pada umumnya sebagai anak manusia biasa. Dengan mengatakan “Sebelum Abraham jadi, Aku ada”, membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang merendahkan diri-Nya menjadi manusia. Namun hal ini tidak diterima oleh manusia. Secara umum pasti banyak orang akan sepaham dengan orang Yahudi memangnya umur Yesus berapa tahun bahwa diri-Nya ada, sebelum Abraham ada. Dan hal ini menjadikan orang Yahudi marah besar.

Sebagai orang beriman kita menerima bahwa Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Sebagai Allah, dengan segala kemahakuasa-Nya, Ia mampu berbuat apa saja, termasuk Ia merendahkan diri-Nya menjadi manusia. Sebagai manusia, Ia sama seperti kita dengan merasa haus, lapar, merasa ngeri menghadapi dunia, dll.

“Sebelum Abraham jadi, Aku ada” merupakan tantangan iman kita. Apakah kita mengimani bahwa Yesus itu memang sudah ada sebelum Abraham atau pun para nabi yang sudah meninggal. Jika kita mengimani bahwa Yesus itu sungguh Allah, maka persoalan kita tentang Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia sudah ‘selesai’, artinya kita tidak mempersoalkan kembali. Tapi jika menolak-Nya, maka kita akan mengalami pemikiran-pemikiran yang tidak pernah selesai. Kita sering lupa bahwa iman itulah yang mengatasi segala pemikiran-pemikiran kita.

Walau Yesus mau dilempari batu untuk dirajam oleh bangsa Yahudi, namun karena belum saatnya, Yesus bisa menghilang di tengah-tengah mereka dan pergi tanpa cedera sedikitpun. Itu semua karena karya Allah yang tidak mungkin atau sulit diselami oleh hati dan nalar manusia.

Hari ini Yesus menyatakan diri-Nya siapa Dia. Dari bacaan Injil Yohanes hari ini kita menyimpulkan bahwa Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Dialah Allah yang merendahkan Diri-Nya menjadi seperti seorang manusia. Pada kesempatan ini Yesus juga berkata:”Sungguh barangsiapa menuruti Firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya”.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

Campur tangan Allah.

Hari ini Gereja merayakan pesta Hari Raya Kabar Sukacita “Maria menerima kabar dari malaikat Gabriel. Injil Lukas (Luk 1:26-38) mengisahkan bagaimana malaikat Gabriel yang diutus oleh Allah ke sebuah kota di Galilea yang bernama Nazaret kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang laki-laki bernama Yusuf dari keluarga Daud. Nama perawan itu adalah Maria. Ketika masuk ke rumah Maria, malaikat itu berkata:”Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau”. Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya dalam hati hatinya, apakah arti salam itu. Kemudian malaikat itu berkata kepadanya:” Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya tahta Daud, bapa leluhur-Nya.Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan”.

Maria menerima khabar dari Malaikat Gabriel

Inspirasi batin dari pesta Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel yang hari ini kita rayakan, menjadi tonggak penting dalam karya keselamatan Allah. Pada saat Maria menerima pesan dari Malaikat Gabriel, maka Maria mengandung dari kuasa Roh Kudus. Sebagai seorang yang sangat sederhana, Maria tentu saja sangat terkejut menerima kabar sukacita itu. Saat itu Maria berefleksi diri ‘siapakah dirinya sehingga Tuhan memberikan kasih karunia yang sedemikian besar? Dan apa artinya semua itu?

Dalam diri manusia selalu ada misteri yang tidak terselami. Maksudnya, ada bagian dalam hidup ini yang tidak mudah dimengerti seolah ada sisi yang gelap. Pengalaman Maria sebagai orang kampung yang menerima khabar sukacita bahwa dirinya akan mengandung dari kuasa Roh Kudus adalah hal-hal yang tak mudah diselami dan dimengerti.

Bercermin dari pengalaman Maria, maka kita diajak untuk melihat pengalaman diri kita dalam hal panggilan atau pun perutusan kita masing-masing. Apakah kita mampu melihat bahwa di dalam setiap pengalaman hidup itu Allah sungguh menyertai hidup kita. Apakah Allah sungguh ikut campur tangan dalam hidup kita. Atau kita sepenuhnya mengandalkan kekuatan diri sendiri atau kekuatan dari Allah?. Oleh karena itu, dalam hidup ini kita tak mungkin mengenyampingkan peran iman kita. Kita tidak selamanya mengandalkan logika (nalar ) kita. Ada keterbatasan dalam diri kita, sehingga kita ini pada dasrnya sangat tergantung kepada ‘penyelenggaraan Ilahi”.

Sebagai orang beriman, marilah kita bersyukur atas penyelenggaraan Ilahi dalam hidup kita masing-masing. Semoga peziarahan hidup kita ini selalu diberkati, karena ‘campur tangan Allah’.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

Aku dari atas, kamu dari bumi.

Injil Yohanes (Yoh 8:1-11) hari ini menegaskan tentang siapa diri Yesus. Bahwa bukan dari bumi ini, tetapi Ia berasal dari atas, sementara kita berasal dari dunia ini. Kita semua akan mati karena dosa kita. Terlebih kalau kita tidak percaya kepada-Nya. Pada kesempatan ini, Yesus juga bersaksi tentang siapa yang mengutus-Nya, dan tentang Dia tak seorang pun yang tahu.  Kemudian Yesus mengatakan bahwa apabila kita meninggikana Anak Manusia (Yesus), barulah kamu bahwa Akulah Dia, dan  Aku tidak dapat berbuat apa-apa dengan diri-Nya sendiri.  Dan Ia yang telah mengutus Aku, menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya”.  Itulah ringkasan  Injil Yohanes hari ini.

Inspirasi batin dari bacaan Yohanes tersebut antara lain bahwa Yesus itu tidak seperti diperkirakan oleh  mereka yang tidak percaya kepada-Nya. Gambaran Yesus itu berbeda dengan pandangan para musuh-Nya bahwa Ia hanyalah Anak Maria dan Yusuf tukang kayu dari Nazareth. Kesaksian Yesus melalui Injil Yohanes  hari menegaskan kepada kita bahwa Yesus bukan berasal dari dunia ini. Atau dengan kata lain, Yesus bukan Anak biologis dari kemauan dari dua manusia yakni Maria dan Yusuf. Ia terlahir dari Kuasa Roh Kudus melalui rahim Maria. Agar  Yesus diterima sebagai Anak Manusia, maka Maria harus bersuami dan hal ini Yusuflah yang menjadi suaminya. Namun semuanya ini terjadi karena rencana Allah dalam menyelamatkan dunia.

Yesus adalah Allah yang menjadi manusia dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia dari dosa dan maut. Ia telah datang sebagai terang, tetapi manusia lebih mencintai kegelapan agar perbuatan-perbuatannya tidak terlihat. Ketika kita dipanggil dan bersedia menerima panggilan itu, kita telah ditetapkan sebagai anak-anak-Nya. Kita telah memperoleh gelar sebagai anak-anak terang. Oleh karena itu kita harus menjadi terang bagi sesama, agar lingkungan sekitar kita memperoleh terang. Walau kita berasal dari bumi, tetapi kita telah dipilih menjadi anak-anak terang, dan mudah-mudah tidak menjadi budak dosa agar kitaa terhindar dari maut yang mematikan itu.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkatii.-***

Pergilah, jangan berbuat dosa lagi.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Yohanes 8:1-11 dengan tema:” Pergilah, jangan berbuat dosa lagi”. Injil Yohanes hari ini mengisahkan tentang Yesus yang hendak dicobai oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka membawa seorang perempuan yang tertangkap basah melakukan perzinahan. Mereka berkata kepada Yesus, sambil menempatkan perempuan itu di tengah-tengah mereka,katanya:” Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zina. Menurut hukum Taurat, Musa memerintahkan kita untuk melempari dengan batu perempuan-perempuan yang demikian. Apa pendapat-Mu tentang hal ini?”. Lalu Yesus menulis di tanah, dan inilah jawaban Yesus:” Barangsiapa di antara kamu tidak berbuat dosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu”. Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah. Yesus menyaksikan mereka satu demi satu dari mulai orang yang tertua pergi. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri bersama perempuan itu. Kemudian Yesus bangkit dan berdiri dan berkata kepada perempuan itu:” Hai perempuan, di manakah mereka?Tidak ada seorang pun yang menghukum engkau? Aku pun tidak menghukum engkau. pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi”.

Inspirasi batin dari bacaan Injil Yohanes yang bertemakan:” Pergilah, jangan berbuat dosa lagi”, dimaksudkan bahwa Tuhan selalu memberi kesempatan menjadi manusia baru setelah kita mau bertobat dan tidak berbuat dosa. Walau menurut hukum Taurat, perempuan yang tertangkap basah harus dirajam sampai mati, tapi tidak demikian dengan halnya Yesus. Hukuman mati itu hanya menjadi hak Allah, bukan hak manusia. Manusia tak berhak sedikitpun atas kematian seorangpun. Inilah perbedaan yang hakiki antara manusia lama dalam Perjanjian Lama dan manusia baru dalam Perjanjian Baru. Banyak orang masih hidup dalam Perjanjian Lama karena mereka masih mempertahankan hukum “mata ganti mata dan gigi ganti gigi”. Perilaku manusia dewasa ini mempertontonkan wajah manusia lama yang garang serta suka menghakimi orang lain.

Wajah Yesus adalah wajah yang penuh damai. Dalam kesempatan ini, Ia mengatakan:” Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi. Dengan kata lain, Yesus tidak menghukum saat ini, tapi masih memberi kesempatan kepada perempuan untuk membuktikan ia tidak akan mengulangi perbuatan itu dan berusaha untuk hidup lebih baik. Oleh karena itu sebagai pengikut Kristus, kita juga tidak mudah menghakimi orang lain. Yesus mengajarkan betapa penting untuk refleksi diri dalam hidup ini. Intinya juga, kita untuk terus menjadi manusia baru melalui pertobatan dan penyesalan yang terus – menerus dalam hidup ini.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

Aku akan menarik semua orang.

Renungan Kuasa Doa hari Minggu ini diambil dari bacaan Yohanes 12:20-33, dengan tema:” Aku akan menarik semua orang”. Injil Yohanes ini mengisahkan banyak hal, tapi intinya adalah ketaatan Yesus kepada Bapa-Nya dan ketaatan-Nya sampai mati di kayu salib. Dalam kesempatan ini Yesus juga menegaskan bahwa sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini. Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila sudah ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang yang datang kepada-Ku. Sabda Yesus ini menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati”.

Inspirasi batin dari bacaan Injil Yohanes ini dengan “Aku akan menarik semua orang” dimaksudkan bahwa Yesus melalui Gereja-Nya hadir di dunia. Secara fisik memang Yesus tidak kelihatan, Ia sudah mati dan sudah dimuliakan oleh Bapa-Nya, tetapi juga oleh manusia yang percaya kepada-Nya. Ketika Ia mengatakan sekarang juga penguasa dunia akan dilemparkan ke luar, betapa Ia terharu. Sebagai penguasa dunia, tetapi ditolak oleh banyak orang, dan tega menghakimi-Nya tidak dengan jujur. Namun Yesus berjanji apabila Ia sudah ditinggikan dari bumi dalam artian mati di kayu salib dan dimuliakan, Yesus akan menarik semua orang datang kepada-Ku. Walau Yesus mau menarik orang datang kepada-Nya, tidak semuanya tentu mau menerima-Nya. Bahkan mereka memperolokkan-Nya sebagaimana dialami oleh para pengikut-Nya. Tentang hal ini Yesus pernah mengatakan jika kalian dihina atau diolok-olok itu bukan karena kamu, tetapi karena Diri-Ku.

Yesus akan menarik semua orang untuk datang kepada-Nya. Yesus akan menyebar undangan untuk datang kepada-Nya, tetapi tidak semua orang tertarik untuk datang kepada-Nya dengan berbagai alasan. Semuanya karena Allah telah memberikan kehendak bebas kepada manusia untuk menentukan pilihan hidupnya. Mau menerima Yesus dan melaksanakan perintah dan ajaran-Nya akan selamat, sementara yang menolak akan dihukum. Itulah kehendak bebas yang dimiliki oleh setiap orang dalam menentukan pilihan hidupnya. Menerima berqarti selamat, menolak berarti binasa.

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari Minggu ini, walau sedikit terlambat, Tuhan memberkati.-***

Ia ini Mesias.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Yohanes 7:40-53 dengan tema:” Ia ini Mesias”. Bagaimana kisahnya? Ketika Yesus mengajar di Betlehem, banyak orang berkata:” Dia ini benar-benar nabi yang akan datang”. Sementara yang lain mengatakan:” Ia ini Mesias”. Yang lain lagi berkata:” Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan bahwa mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud tinggal”. Sejak itu terjadilah pertentangan di antara mereka karena Yesus. Bahkan di antara mereka ada yang mau menangkap Yesus, tapi tak seorang pun yang berani menyentuh-Nya. Ketika para penjaga ditugaskan oleh orang Farisi dan para imam kepala berkata kepada mereka:” Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Apakah kamu juga disesatkan?”. Adalah seorang Yahudi bernama Nikodemus, salah seorang dari mereka yang pernha datang malam-malam kepada Yesus, berkata kepada mereka:” Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang sebelum Ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya? Jawab mereka:” Apakah engkau orang Galilea? Bahwa tidak ada nabi dari Galilea?” persekongkolan mereka untuk menangkap Yesus hari itu gagal.

Inspirasi dari bacaan Injil Yohanes hari ini meneguhkan kepada kita bahwa kita sependapat bahwa Yesus adalah Mesias, utusan Allah. Baik perbuatan mau pun sabda-Nya yang penuh kuasa menunjukkan bahwa segala sesuatu yang dibuat-Nya merupakan pekerjaan-pekerjaan Ilahi. Dari kesaksian banyak orang yang membuka hatinya, bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup di tengah umat-Nya. Walau Ia rela menderita dan mati bahkan mati di kayu salib, merupakan kesetiaan kepada Bapa-Nya. Jika saatnya belum tiba, maka tak seorang pun dapat menyentuh-Nya. Dengan demikian segala daya upaya dan tipu muslihat orang Yahudi tetap tidak bisa, karena belum saatnya.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***