Kuasa Doa

Kuasa Doa

Media Informasi Iman Katholik online

Mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukan.

Injil Matius (Mat 23:1-12) hari ini memberikan perspektif bagaimana musuh-musuh Yesus makin kehilangan pikiran yang waras. Oleh karena itu Yesus dengan terang-terang melawan mereka. Memang bukan perlawanan fisik, tetapi memberikan argumentasi-argumentasi terhadap mereka. Sabda Yesus:” Mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukannya”, menggambarkan betapa hidup mereka penuh dengan kemunafikan. Mereka selalu mengharapkan pujian dunia dengan gelar-gelar yang disandangnya seperti ‘guru’, ‘rabi’, ‘bapa’. Mereka memang mengajarkan hukum-hukum agama, tetapi mereka tidak melakukannya. Beban kehidupan keagamaan mereka tidak dijalankan dengan baik, sehingga beban itu diberikan kepada orang banyak. Hidupnya penuh dengan kemunafikan. Praktek hidup keagamaan mereka tidak layak kita tiru, seperti mereka berpakaian dengan jumbai panjang. Jumbai panjang itu mengingatkan orang agar selalu mempraktekkan perintah-perintah Allah dan menyembah-Nya. Mereka juga menyombongkan diri dengan duduk di tempat terhormat dalam perjamuan pesta atau bahkan di sinagoga memiliki tempat duduk khusus. Mereka suka sekali menerima penghormatan di tempat umum seperti pasar dan senang dipanggil rabi, guru, atau bapa.

Untuk itu Yesus melarang para murid-Nya menyebut diri rabi (pemimpin), dan menyebut orang lain bapa. Mereka dilarang mengangkat diri sebagai guru sebab Guru mereka hanya satu yakni Yesus. Mereka tidak boleh mengangkat diri sebagai pemimpin, sebab Pemimpin mereka hanya satu yakni Mesias. Mereka dilarang menyebut orang lain bapa, sebab Bapa mereka hanya satu yakni Bapa yang hanya di surga. Dengan demikian, setiap orang yang memangku jabatan dalam Gereja harus menghadirkan yang satu itu yakni Kristus Tuhan. Oleh karena itu, sebagai pengikut Kristus, terutama para pemimpin Jemaat, sudah seharusnya kita bersikap sebagai pelayan yang rendah hati, karena kepemimpinan berarti melayani.

Dalam masa Prapaskah di mana kita berusaha menyalibkan kedagingan kita, maka ajaran Yesus hari ini mengajak kita untuk tidak menjadi sombong, mencari pujian dunia, tetapi hendaknya kita menyalibkan kedagingan kita. Hidup matiraga, banyak doa, membaca Firman Tuhan dan meresapkannya, serta memberikan pelayanan kepada mereka yang membutuhkan itulah tantangan yang harus kita jalankan. Karena hakekat (esensi) seorang pemimpin adalah melayani, bukan dilayani.

Demikian refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

Hendaklah kamu murah hati!!!

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Lukas 6:36-38 dengan tema:” Hendaklah kamu murah hati” Injil Lukas sesuai kalender liturgi Gereja hari ini mengisahkan Yesus yang mengajar para murid-Nya. Dalam ajaran-Nya Yesus mengatakan:” Hendaklah kamu murah hati, sebagaimana Bapamu adalah murah hati”. Kemudian Yesus menegaskan untuk tidak menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.Jangan menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum. Ampunilah, dan kamu akan diampuni”. Berilah dan kamu akan diberi”.

Berkaitan dengan kemurahan hati, apa yang diajarkan Yesus kepada murid-Nya waktu itu, juga berlaku untuk para pengikut-Nya. Mengapa harus murah hati? Kemurahan hati berasal dari Allah Bapa. Murah hati adalah lawan dari kikir/egois. Dalam 1 Kor 13:4, rasul Paulus mengatakan:”Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri”. Dengan kata lain bahwa kemurahan hati itu bagian dari perbuatan kasih. Orang yang bermurah hati tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pernah pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Pastinya tidak dendam. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Tentang kasih, Santo Paulus menegaskan ” sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika akut tidak punya kasih, aku sama saja dengan gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aka memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna”.( 1 Kor. 13:1-13).)

Dengan kata lain, murah hati adalah bagian dari kasih Tuhan yang seharusnya menjadi roh di dalam menjalani kehidupan ini. Namun demikian, tidak semua orang mempunyai jiwa atau semangat kasih di dalam hidupnya. Ada juga yang berjiwa iblis karena tidak suka semangat kasih yang berasal dari Allah.

Demikian refleksi Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

Ada apa dengan Kuasa Doa edisi Maret 2015?

Cover kad mrt 2015

Edisi Kuasa Doa edisi Maret 2015 banyak menampilkan artikel yang menarik.

Rubrik profil, kami tampilkan Ignatius Jonan.

Artikel: asal muasal masa prapaskah, bagaimana sejarah Misa Kudus, mengapa Gereja Katolik menentang hukuman mati, mengapa salib orang Katolik ada corpusnya, dan artikel-artikel lainnya serta kesaksian yang menguatkan iman kita.

Mau berlengganan, hubungi redaksi phone 021 3153866, atau kontak person: 08161357263 (Jus Soekidjo)

Makna Transfigurasi!!!

Renungan Kuasa Doa hari Minggu ini diangkat dari Injil Markus 9:2-10 dengan tema:” Makna Transfigurasi”. Apakah makna Transfigurasi itu? Berikut ini kisahnya! Sesudah Yesus berbicara dengan para murid-Nya tentang bagaimana Ia harus menderita, Ia membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus naik ke sebuah gunung yang tinggi. Ketika mereka sampai di puncak gunung, tiba-tiba Yesus menampakkan kemuliaan-Nya dengan berubah rupa di depan para murid-Nya. Ia berpakaiaan putih mengkilat. Kemudian nampaklah Elia dan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Lalu Petrus berkata kepada Yesus:” Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Elia, dan satu untuk Musa. Tiba-tiba datanglah awan menaungi mereka dan dan dari dalam awan itu terdengar suara:” Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia”. Setelah mendengar suara itu, sekonyong-konyong suasana sekelilingnya sepi, tak ada seorang pun. Sewaktu turun gunung, Yesus berpesan supaya tidak menceriterakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka merahasiakan pesan tadi sambil mempersoalkan apa artinya “bangkit di antara orang mati”.

Transfigurasi Yesus dalam kemuliaan-Nya

Sama seperti Yesus mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes, maka patut diingat juga bahwa Tuhan berfirman kepada Musa untuk naik menghadap Tuhan dengan mengajak Harun, Nadab dan Abihu, walaupun juga disertai dengan tujuh puluh para tua-tua Israel (lih. Kel 24:1). Di kitab Keluaran 24 dikatakan bahwa setelah Musa menerima perintah dari Tuhan, maka dia membacakannya kepada bangsa Israel, dan kemudian bangsa Israel menjawab “Segala firman yang telah diucapkan TUHAN itu, akan kami lakukan.” (Kel 24:3). Dan kemudian berakhir dengan tanda perjanjian dan dikatakan “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.” (Kel. 24:8)

Jika dalam Kel 24 Musa naik bersama dengan Harun, Nadab dan Abihu, maka dalam Transfigurasi, Kristus naik ke gunung bersama dengan Petrus, Yohanes dan Yakobus. Musa naik ke gunung untuk menerima Firman Tuhan. Dalam peristiwa Transfigurasi, Kristus, yang adalah Firman menyatakan Diri-Nya dalam kemuliaan. Perkataan bangsa Israel yang menyatakan bahwa segala firman yang diucapkan Tuhan itu akan mereka lakukan, seolah-olah diberi bobot yang jauh lebih besar, karena pada peristiwa Transfigurasi Allah Bapa sendirilah yang mengatakan “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” (ay. 5) Bukan Musa yang menyatakan perintah Allah kepada bangsa Israel, namun Allah Bapa sendiri yang menyatakannya kepada Petrus, Yohanes dan Yakobus yang mewakili seluruh umat beriman.

Dari sini kita melihat bahwa Transfigurasi bukan hanya merupakan suatu kejadian, di mana Kristus dimuliakan di atas gunung. Namun, lebih daripada itu, Transfigurasi merupakan suatu pengulangan peristiwa dari bangsa Israel, yaitu resolusi ketaatan dari bangsa Israel yang berakhir dengan tanda perjanjian. Kalau dalam Perjanjian Lama, resolusi ketaatan adalah kepada Firman yang tertulis, namun di dalam Perjanjian Baru, resolusi ketaatan adalah kepada Kristus, yaitu Firman yang hidup, Firman yang telah menjadi manusia (lih. Yoh 1:1-5). Dan pada saat yang sama, Firman ini juga menjadi tanda perjanjian, yaitu ketika pada Perjamuan Terakhir, Kristus sendiri mengatakan “Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.

Demikianlah sedikit refleksi Kuasa Doa hari Minggu ini, Tuhan memberkati.-***

Jadilah sempurna seperti Bapa di surga.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Matius 5:43-48 dengan tema:” Jadilah sempurna seperti Bapa di surga”. Mengapa Yesus mengajak kita menjadi hidup sempurna dan apa syaratnya? Dalam Injil Matius itu Yesus mengutip Firman yang mengatakan:” Kasihanilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu”. Tetapi Yesus berkata:” Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Jika demikian, kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.

Pada dasarnya Allah itu menciptakan matahari terbit bagi orang yang jahat dan pagi orang baik. Hujan pun diturunkan oleh-Nya bagi orang benar dan orang yang jahat. Apabila kita hanya mengasihi sesama, apa upahnya? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Orang jahat pun berbuat demikian. Orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian. Dalam penutupnya Yesus menegaskan:” Haruslah kamu menjadi sempurna, sebagaimana Bapa-mu yang di surga sempurna adanya”.

Dari ungkapan itu Yesus mengajarkan agar kita mencintai musuh. Dengan kata lain, Yesus menegaskan tidak hanya mencintai anggota atau kelompok bangsa atau seagamanya saja, tetapi juga musuh-musuhnya. Tuntutan baru tidak berdasar pada kodrat manusiwai, tetapi pada contoh Allah sendiri. Ini sesuai dengan kodrat manusia (yang diwakili para pemungut cukai dan orang yang tidak mengenal Allah) mengasihi mereka yang mengasihi dan memberi salam hanya kepada anggota keluarganya saja.

Tetapi Allah membuat matahari terbit bagi orang baik dan orang jahat, serta menurunkan hujan bagi orang baik dan jahat.Jika kasih dan penyelenggaraan Allah yang ditujukan kepada semua orang dijadikan sebagai ukuran, maka para murid Yesus tidak membatasi kasih kepada kelompok mereka atau bangsa sendiri. Kesempurnaan para murid mencerminkan dan diukur oleh kesempurnaan Allah.

Oleh karena itu, memiliki hidup yang sempurna bukan diukur oleh ukuran duniawi, tetapi dari ukuran kesempurnaan Allah yang direpresentasikan pada diri Yesus. Bagaimana anda ?

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa, Tuhan memberkati.-***

kuasa 28 February, 2015 Leave A Comment Permalink

Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Matius 5:20-26 dengan thema:” Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu”. Mengapa di sini ditekankan makna perdamaian?

Melalui Injil Matius ini, Yesus mengajak kita agar praktek hidup keagamaan kita lebih baik dari para orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka ini bertindak pada hukum keadilan manusia seperti saling membalas, gigi ganti gigi, membenci musuh dan mengasihi saudara.

Yesus berharap agar hidup keagamaan kita jauh lebih baik karena lebih berdasarkan semangat kasih Tuhan. Siapa pun yang marah kepada saudaranya, dan kalau kita sedang mempersembahkan kurban dan belum berdamai dengan saudara kita, kita diminta untuk berdamai lebih dahulu. Dengan kata lain, tidaklah pantas kita menghadap Tuhan, namun dalam hati kita masih tertanam kebencian atau rasa dendam kepada sesama kita. Oleh karena itu, hidup keagamaan harus jauh lebih baik dari pada orang lain yang lebih suka menaati hukum-hukum duniawi. Perintah Tuhan harus diprioritaskan agar kita memiliki damai sejahtera di dalam hidup kita.

Hidup damai itu bukan pada tingkat banyaknya materi, tetapi harus di dalam bathin kita. Orang yang memiliki banyak materi serta kelimpahan harta belum tentu ia mengalami kedamaian yang sejati. Jadi rekonsiliasi menjadi makna penting dalam hidup ini agar kita dapat memasuki damai sejahtera secara batiniah di dalam hidup ini.

Dalam masa Prapaskah ini, ada baiknya kita berani merobek hati kita dan bukan merobek pakaian kita untuk bertobat. Mengutip pernyataan nabi Yehezkiel (Yez 18:21-28):” Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, dan ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi, ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya”. Jika sebaliknya, maka mereka pasti akan dihukum.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 27 February, 2015 Leave A Comment Permalink

Setiap orang yang meminta akan menerima.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Matius 7:7-12 dengan tema:” Setiap orang yang meminta akan menerima”. Injil Matius hari ini meneguhkan iman kita, betapa Tuhan yang kita imani adalah Tuhan yang mahabaik dan mahamurah. Tuhan senantiasa menyediakan rahmat yang melimpah untuk anak-anak-Nya tapi dengan syarat harus meminta, mencari dan mengetuk. “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu”.

Dari sabda Tuhan, kita dapat belajar tiga hal. Pertama, agar kita tidak takut datang kepada Tuhan dan berani mengungkapkan isi hati kita kepada-Nya. Tuhan sebenarnya tahu yang kita butuhkan, tetapi Tuhan juga menghendaaki agar kita berani datang dan mengungkapkannya. Kedua, walau Tuhan itu mahamurah, tetapi Ia menghendaki ada usaha dan perjuangan dai pihak kita. Tindakan untuk mencari, mengetok, dan berjuang menjadi langkah nyata campur tangan kita untuk memperoleh rahmat Tuhan. Iman bukanlah menunggu, beriman berarti berusaha semaksimal mungkin tetapi juga berani berserah kepada Tuhan. Ketiga, kalau kita berani meminta, hendaknya kita juga berani memberi. Tuhan selalu mencurahkan rahmat-NyaPe kepada kita, tetapi rahmat itu tidak pernah hanya untuk kepentingan diri kita saja. Tuhan juga mengharapkan rahmat yang kita miliki mempunyai makna sosial, artinya kita juga mau berbagi kepada sesama kita. Rahmat yang berlimpah tidak semata untuk diri kita sendiri, tetapi kita berani berbagi untuk orang lain. Tidak sedikit di antara kita yang berat untuk berbagi . Hari ini Tuhan mengajak kita untuk belajar berbagi, mulai dari berbagi waktu, tenaga, mungkin juga finansial, atau hati kepada mereka yang membutuhkan uluran tangan kita.

Teman refleksi hari ini “Setiap orang yang meminta akan menerima’, adalah suatu pembelajaran iman bagaimana iman itu harus dinyatakan dalam tindakan nyata, dan pengalaman ini kemudian kita bagikan kepada orang lain.

Demikianlah refleksi singkat hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 26 February, 2015 Leave A Comment Permalink

Tanda Yunus.

Inspirasi Injil Lukas (Luk 11:29-32) hari ini mengangkat tema:” Tanda Yunus”. Tanda Yunus adalah tanda pertobatan bagi warga Niniwe. Kehadiran Yunus di kota Niniwe membawa pertobatan bagi penduduk Niniwe, sebab Allah akan mendatangkan murka bila mereka tidak bertobat.

Yunus mewartakan pertobatan untuk orang Niniwe

Demikian pula Injil Lukas hari ini mewartakan bahwa Yesus tidak akan memberi tanda apa pun kepada para pendengar-Nya khususnya kepada orang Farisi dan ahli Taurat, karena mereka sama sekali tidak percaya dengan apa yang telah diperbuat dan diajarkan oleh Yesus. Lukas telah menulis bahwa posisi Yesus ini lebih dari pada nabi Yunus, tetapi mengapa mereka tetap degil hatinya. Orang Niniwe saja bertobat atas pewartaan Nabi Yunus. Seluruh penduduk Niniwe entah dewasa atau anak-anak bahkan ternak pun diajari untuk berpuasa seperti majikannya. Puasa adalah tanda pertobatan, dan sungguh penduduk Niniwe menjauhkan murka Allah karena pertobatannya. Sesuai kisah Yunus (Yun 3:1-10), penduduk Niniwe sungguh bertobat dan Allah pun berpaling dari murka-Nya.

Tetapi Yesus sangat keheranan dengan angkatan ini (bisa angkatan pada waktu Yesus hidup dan berkarya atau angkatan jaman ini) mengapa mereka tidak mau bertobat atau tidak percaya kepada pewartaan Yesus. Tanda keselamatan telah begitu banyak diperbuat oleh Yesus seperti mencelikkan yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang bisu berbicara, yang mati dibangkitkan, dan banyak tanda lain yang diperbuat oleh Yesus, apakah itu bukan suatu tanda Ilahi. Ini semua karena kedegilan hati mereka.

Dalam masa Prapaskah ini, ada baiknya kita terus berefleksi untuk terus bertobat. Tobat adalah tanda keselamatan, kita ingin mengubah hati dari yang jauh dari Tuhan menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Kita berusaha hidup lebih baik agar kita layak dan pantas di hadapan Tuhan. Kita mau agar Tuhan terus mencurahkan rahmat-Nya ke dalam hati kita, sehingga kita sungguh menjadi orang yang baik. Menjadi orang yang beriman, menjadi orang yang peduli dan suka melayani sebagaimana semangat Aksi Puasa Pembangunan, itulah buah pertobatan kita.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 25 February, 2015 Leave A Comment Permalink

Firman Tuhan itu meneguhkan.

Inspirasi Injil Matius (Mat 6:7-15) hari ini mengajarkan bahwa Firman Tuhan itu meneguhkan. Firman Yesus itu hidup dan memberikan daya yang dahsyat bagi mereka yang sungguh menerimanya dengan hati.

Kutipan dari Kitab Nabi Yesaya (Yes 55:10-11) hari ini begini:” Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih pada penabur dan roti kepada orang yang mau makan. Demikianlah Firman yang keluar mulut-Ku: Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya”.

Pertobatan Paulus

Dengan kata lain, Sabda atau Firman Tuhan itu tidak pernah sia-sia, tetapi akan menghasilkan buah sesuai dengan kehendak Tuhan. Sabda Tuhan akan menghasilkan buah-buah kebaikan sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan. Sebagai contoh tentang daya Firman itu antara lain panggilan Yesus terhadap Saulus orang Farisi yang kemudian menjadi Paulus, rasul agung Gereja. Panggilan Yesus kepada-Nya merupakan Firman atau Sabda yang berdaya pikat yang menghasilkan buah kebaikan.

Sesuai dengan Injil Matius hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita suatu doa yang setiap kali kita daraskan dalam doa-doa kita. Dalam doa itu kita menyebut “datanglah Kerajaan-Mu” (Mat 6:10). Firman itu bukan hanya sekedar deretan huruf, melainkan sebagai daya yang menggerakkan. Yesus mengajarkan agar para murid berdoa ‘datanglah Kerajaan-Mu’, karena Ia sendiri telah menjalankannya sepanjang hidup-Nya sampai Ia menderita sengsara, wafat,dimakamkan dan bangkit di antara orang mati. Yesus juga mewartakan Kerajaan Allah sebagai kerajaan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus (Roma 14:17). Demi damai sejahtera Ia menyatakan bahwa Allah mencintai semua orang, tidak meminggirkan apalagi menghukum. Demi sukacita Ia memberikan harapan kepada orang-orang terpinggirkan dan bahkan tidak mempunyai tempat dalam masyarakat. Itulah inti pewartaan Yesus dalam seluruh Injil.

Sebagai refleksi dalam hidup kita, apa kita berani bertanya kepada diri kita’ datanglah Kerajaan-Mu’ dengan penuh makna?

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 24 February, 2015 Leave A Comment Permalink

Penghakiman Bangsa-Bangsa.

Setiap kehidupan akan berakhir dengan kematian. Dengan kata lain, kematian adalah suatu kepastian. Tapi ke mana setelah kematian itu? Inilah sebuah misteri besar. Namun demikian, kita mengimani bahwa setelah kematian ada suatu kehidupan baru (life after death). Namun tidak banyak orang berbicara tentang kehidupan setelah mati. Karena banyak juga yang tidak percaya adanya kehidupan setelah kematian, maka orang lantas berburu harta sebanyak-banyak di dunia ini karena mereka ini tidak percaya bahwa setelah kematian ada suatu kehidupan baru.

Injil Matius (Mat 25:31-46) hari ini berbicara tentang ‘penghakiman bangsa-bangsa’ melalui suatu wejangan ekskatologis. Yesus akan membagi manusia dalam dua kelompok besar yakni mereka yang melakukan pekerjaan yang baik bagi salah seorang dari Saudara-Ku yang paling hina ini akan diberkati (kelompok domba), dan mereka yang tidak melakukan pekerjaan bagi salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina (kelompok kambing)

Siapakah semua bangsa dan siapakah yang paling hina ini? Tentu maksudnya bahwa semua bangsa adalah setiap manusia, dan mereka yang paling hina adalah mereka yang menderita. Oleh karena itu, pada hari penghakiman nanti, semua orang akan diadili sesuai dengan tindakannya yang baik terhadap orang yang miskin dan menderita.

Setiap orang beriman ingin meraih kebahagiaan abadi di surga. Tapi apakah cukup diomongkan saja? Tidak. Semuanya akan tercapai melalui tindakan nyata (action). Kita semua bercita-cita untuk memasuki Kerajaan Surga, tapi kurang atau tidak ada tindakan nyata. Sabda Yesus harus ini memberikan pencerahan kepada kita semua. Pencerahan-Nya sangat praktis praktis untuk melangkah menuju kepada kehidupan kekal. Seperti itu ? Yaitu dengan menolong orang lain yang sedang menderita dan memerlukan bantuan kita. Misalnya memberi makan orang yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi pakaian kepada yang telanjang, menengok yang di penjara, memberi tumpangan kepada orang asing atau gelandangan, dll adalah tindakan konkrit yang harus diperbuat agar kita meraih kehidupan kekal nantinya.

Melalui Injil Matius hari ini terinspirasi bahwa berbuat baik terhadap orang yang paling hina, malang dan miskin berarti kita telah berbuat nyata dan berbuat baik bagi Yesus. Untuk itu Yesus akan membalasnya dengan kehidupan kekal. Oleh karena itu, kita semua diundang untuk berbuat kebaikan melalui berbagi dan memberikan pelayanan kepada sesama kita. Dan reward yang kita peroleh adalah kehidupan kekal di surga.

Demikianlah refleksi Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 23 February, 2015 Leave A Comment Permalink