Kuasa Doa

Kuasa Doa

Media Informasi Iman Katholik online

Allah Telah Mengunjungi Umat-Nya.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Lukas 7:11-17 dengan thema:” Allah telah mengunjungi umat-Nya”. Injil Lukas hari ini mengisahkan tentang Yesus yang telah membangkitkan seorang pemuda dari Nain. Ketika Yesus bersama murid-Nya mendekati pintu gerbang kota, ada seorang anak laki-laki yang merupakan anak tunggal seorang janda. Oleh karena belas kasihan-Nya, maka Yesus membangkitkan anak itu. Yesus pun berkata kepada janda itu:” Jangan menangis”. Sambil menghampiri usungan itu, Yesus pun menyentuhnya, dan berkata kepada para pengusung sambil berkata:” Hai, anak muda, Aku beerkata kepadamu, bangkitlah!”. Maka bangunlah anak itu dan mulai berkata-kata serta menyerahkan kepada ibunya. Menyaksikan peristiwa yan tidak biasa itu, semuanya ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil brkata:” Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita”, dan Allah telah melawat umat-Nya”.

Sesuai dengan thema Kuasa Doa hari ini yakni “Allah telah mengunjungi umat-Nya”, artinya ‘Allah telah hadir di antara umat-Nya. Namun demikian kehadiran Allah tidak selalu fenomenal. Pada dasarnya Allah hadir dalam diri kita, kalau kita juga terus membuka pintu hati kita agar Allah mau berdiam diri kita. Allah kiranya akan ‘betah’ dalam diri kita, kalau kita terus menghadirkan Dia, dan kita hidup dalam keadaan tidak berdosa. Walau kita jtuh daam dosa, pada dasarnya Allah terus mengulurkan tangan-Nya agar kita bertobat dan kembali kepada-Nya, maka Allah akan terus melawat kita.

Bagaimana kita tahu bahwa Allah itu melawat diri kita. Tentu rahmat Allah yang dicurahkan ke dalam hati kita dengan maksud agar kita hidup baik bersama Allah. Dengan cara ini pula, maka Allah pun telah melawat umat-Nya.

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini (walau terlambat), karena adanya masalah. Tuhan memberkati.-***

kuasa 16 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Via Dolorosa

Hari ini Gereja merayakan Santa Perawan Maria berdukacita. Kuasa Doa hari ini membawa thema yang berjudul:” Via dolorosa”, yang diangkat dari Injil Yohanes 19:25-27. Peristiwa di bawah salib menjadi bukti nyata bahwa Maria telah diangkat menjadi ibu kita dan kita telah diangkat menjadi anak-anak Maria. Bagaimana ini? Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya disamping-Nya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya:” Ibu, inilah anakmu!” . Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya:” Inilah ibumu”. Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya. Selama Yesus mengalami penderitaan, Yesus selalu ditemani oleh Maria ibu-Nya. Sebagai seorang ibu, Maria mengikuti peristiwa sengsara dan wafat Putera-Nya dengan cermat, dan ia tidak pernah menolak atau bahkan menyangkal-Nya. Kesetiannya sebagai seorang ibu ini sekarang diserhakn untuk murid-murid-Nya.

Tak kalah menariknya bahwa kedukaan Maria ini telah dinubuatkan oleh nabi Simeon. Simeon telah menubuatkan bagaimana Maria akan mengalami kedukaan yang luar biasa atas sengsara dan wafat Putera-nya. Bagaimana itu? Ketika Maria dan Yusuf mempersembahkan Kanak Yesus di Bait Suci, mereka amat heran mendengar pernyataan Simeon tentang Kanak Yesus. Lalu Simeon memberkati mereka, dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu. “sesungguhnya Anak ini dintentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang Israel dan untuk menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan- dan suatu pedang akan menembus jiwanya sendiri- supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang”.

Kedukaan Maria luar biasa. Mengikuti Yesus bukan tanpa resiko. Bahkan mungkin resiko itu sangat tinggi. Hal ini telah disampaikan kepada kita yakni via dolorosa (jalan penderitaan). Yesus mengatakan:” Kalau mau mengikuti Aku, kalian harus menyangkal diri dan memanggul salib, barulah ikut Aku”. Dengan kata lain, mengikuti Yesus, adalah via dolorosa, sebagaimana juga dialami oleh Bunda Maria. Melalui via dolorosa itulah, ada jalan keselamatan. Memang tidak banyak orang yang suka dengan ‘via dolorosa’. Oleh karena itu, seperti dinubuatkan oleh nabi Simeon bahwa kehadiran Yesus akan menimbulkan banyak perbantahan. Dan baik tanda perbantahan atau pertentangan tentang sosok Yesus itu terjadi hingga saat ini dan bahkan sampai yang akan datang.

Kita sebagai orang beriman yang tekun dan setia mengikuti Yesus, via dolorosa adalah suatu kondisi yang tak bisa dihindari (conditio sine qua non). Apakah kita juga siap untuk itu?

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 15 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Makna Tanda Salib.

Hari Minggu ini kita merayakan pesta Salib Suci, untuk mengenang Tuhan Yesus Kristus yang disalibkan untuk kita. Gereja merayakannya sambil juga mengenang St. Helena yang menurut tradisi Gereja, telah turut berjasa menemukan kembali salib suci Kristus di Yerusalem. Sehubungan dengan ini, ada juga fakta sejarah yang perlu kita ketahui, agar semakin memantapkan iman kita.

Pemberontakan bangsa Yahudi di abad awal mendorong Hadrian, Kaisar Romawi yang berkuasa saat itu (117-138), untuk menghapus nama Yudea, dan menamakan daerah itu menjadi Syria Palestina. Hadrian juga mengubah nama ibukota Yerusalem menjadi Aelia Capitolina dan melarang orang Yahudi untuk masuk ke sana. Saat itu Yerusalem, termasuk bait Allah, memang sudah menjadi reruntuhan akibat revolusi di tahun 70. Kaisar Hadrian meluluh-lantakkan apa yang masih tersisa di sana, dengan maksud menghabisi agama Yahudi. Hal serupa dilakukannya untuk menumpas pengaruh agama Kristiani. Ia meratakan bukit Kalvari dan membangun sebuah kuil dewa Yupiter di atasnya. Ia juga meratakan bukit di mana kubur Yesus terletak, dan membangun kuil bagi dewi Venus di atasnya. Ironisnya, bangunan- bangunan tersebut malah kemudian menjadi tanda dan bukti sejarah akan keberadaan tempat- tempat suci, di mana Tuhan Yesus sungguh telah disalibkan, dikuburkan dan bangkit dari mati.

Setahun setelah Kaisar Konstantin naik tahta di tahun 312, ia melegalkan agama Kristiani di wilayah kekuasaan Romawi. Pada waktu itu, ibunya, St. Helena, juga menjadi Kristen. Dengan kuasa dari puteranya, di tahun 324 St. Helena pergi ke Palestina untuk menemukan tempat-tempat kudus sehubungan dengan Kristus dan mengabadikannya dengan membangun gereja di tempat- tempat itu. Demikianlah, ia membangun gereja Nativity di Betlehem, dan gereja Ascencion di bukit tempat Yesus naik ke Surga. Dua tahun berikutnya, kuil Yupiter dan kuil Venus dirobohkan. Para pekerja menggali lokasi tersebut dan menemukan kubur Yesus. Mereka lalu membangun gereja atasnya yang terus dilestarikan di sepanjang sejarah, dan yang sekarang kita kenal dengan nama the Church of the Holy Sepulchre di Yerusalem. Demikian pula, dengan dibongkarnya kuil tersebut, tersingkaplah lokasi penyaliban Tuhan Yesus di Kalvari/ Golgota. Di sebelah timur lokasi itu, di dalam sebuah sumur batu, ditemukan tiga buah salib dan plakat kayu yang bertuliskan INRI (Iesus Nazaranus Rex Iudaeorum). Menurut tulisan para Bapa Gereja, ketiga salib dan plakat itu kemudian dikeluarkan dari sumur. Seorang wanita yang sakit parah dan dalam sakrat maut dibawa ke sana. Wanita itu menyentuh ketiga salib itu satu persatu. Setelah menyentuh salib yang ketiga, ia sembuh seketika, dan dengan demikian orang-orang mengetahui salib yang mana di antara ketiga salib itu, yang adalah salib Kristus.
Apa gunanya kita mengetahui kisah ini? Pertama, kita dapat mengetahui lokasi otentik bukit Golgota dan kubur Yesus, sebab dewasa ini di Yerusalem ada lokasi lain yang diprediksikan oleh sejumlah orang di abad ke-19, sebagai lokasi Golgota dan kubur Yesus. Namun biar bagaimanapun, prediksi baru tersebut tetaplah tidak cukup didukung oleh fakta historis. Kedua, ditemukannya lokasi penyaliban Kristus dan kayu salib-Nya membuat kita semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh pernah mengambil rupa manusia dan telah disalibkan untuk kita. Ketiga, perayaan Salib Suci mengingatkan kita akan begitu besarnya makna Salib itu bagi kita umat-Nya. Salib itu disebut suci, karena Kristus Tuhan kita, pernah tergantung di sana saat menyerahkan nyawa-Nya demi menebus dosa-dosa kita. Sebab jika tidak demikian, maka salib tidak memiliki arti apapun bagi kita selain daripada dua palang kayu yang disatukan yang menjadi tempat penghukuman bagi para narapidana di zaman penjajahan Romawi di abad-abad pertama. Namun justru karena Kristus pernah disalibkan untuk kita, maka salib tidak lagi menjadi tanda keaiban, tapi sebaliknya menjadi tanda keajaiban kasih Allah yang menyelamatkan. Karena itu, salib bukanlah tanda kelemahan Allah, namun sebaliknya, kekuatan-Nya. Sebab hanya kekuatan Allah-lah yang menjadikan Kristus tetap mengasihi dan mengampuni orang- orang yang menyalibkan-Nya. Dan hanya dengan kekuatan Allah-lah, Kristus dapat merendahkan diri dan mengosongkan diri-Nya sedemikian rupa demi menyelamatkan kita. Kini dengan memandang kepada salib Kristus itulah kita pun dikuatkan untuk terus mengasihi dan mengampuni sesama; dan juga untuk bertumbuh dalam kerendahan hati, sebab itulah jalan yang dipilih Allah untuk menghantar kita kepada keselamatan kekal. Betapa dalamnya makna Salib itu, sehingga layaklah Tanda Salib itu melekat di batin kita, dan tidak semata kita buat di awal dan akhir doa secara tergesa-gesa.

Oleh karena itu, setiap orang Katolik mempunyai identitas original yakni tanda salib, yang selalu diidentikan dengan ‘tanda kemenangan’. Dengan tandasalib itu, kita mengenangkan akan Yesus Tuhan yang wafat di kayu salib hina. Yesus yang merendahkan diri meskipun Dia sehakikatnya adalah Allah.Dia berkenan menjadi manusia dan tersalib untuk keselamatan umat mansuia. Dengan salib Kristus, kita diselamatkan oleh pengurbanan Diri-Nya. Oleh karena itu, dengan salib suci, kita berani menjadi saksi Kristus dengan membuat tanda salib.-*** (Sumber:katoliisitas.org dan sumber lainnya).

kuasa 14 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Pohon dikenal dari buahnya

Kuasa Doa hari ini ingin memberikan renungan yang bertemakan:”Pohon dikenal dari buahnya”, yang diangkat dari Injil Lukas 6:43-49. Inti dari Injil Lukas hari ini antara lain adalah bagaimana Yesus memberikan wejangan (ajaran) kepada para murid-Nya. Wejangan yang disampaikan oleh Yesus antara lain tentang ‘pohon yang baik’. Dikatan-Nya begini:” Tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Orang yan baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharan hati yang baik. Tetapi orang yang jahat mengluarkan barang yang jahat dari perbendaharaan hatinya yang jahat. Sebab yang diucapkan mulut itu meluap dari hati”.

Buah-buah yang baik yang terungkap dalam tindakan sehari-hari tentu berasal dari hati yang baik. Kebaikan itu diperoleh dari sang sumber kebaikan yakni Allah sendiri. Oleh karena itu, sangatlah perlu untuk selalu menjalin persekutuan dengan sumber kebaikan kebaikan. Ini semua bisa dikerjakan dengan mengisi hati kita dengan Firman Tuhan.

Berbicara tentang pohon yang baik tergantung dengan kualitas bibitnya. Jika pohon itu berasal dari bibit yang unggul, tentu akan menghasilkan buah yang baik pula. Mengutip sang mulut emas yakni Yohanes Krisostomus adalah satu bibit unggul dalam gereja. Kotbah-kotbahnya yang menyentuh dan menggerakkan adalah bukti bahwa perbendaharaan hatinya sangat baik. Kotbah-kotbah dan wejangannya menjadikan banyak orang untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Bagaimana agar kita menghasilkan buah yang baik. Ibarat sebuah pohon, jila bibitnya sudah baik, maka harus juga dipupuk yang baik baik pula. Untuk menjadi pohon (orang) yang baik, maka harus terus dipupuk yang baik yakni Firman Tuhan, karena Firman Tuhan adalah ajaran Tuhan sendiri sebagaimana tertuang di dalam Kitab Suci. Firman Tuhan seharusnya tidak kita pakai sebagai ‘senjata rohani’, tetapi juga sebagai ‘pupuk’ rohani bagi kehidupan kita.

“Pohon dikenal dari buahnya’, harus dimaknai bahwa sebuah kehidupan itu harus menghasilkan buah yang baik. Dan buah yang baik itu akan berdampak dalam seluruh kehidupannya. Dalam buah yang baik itu melekat sumber kabaikan yakni Tuhan sendiri. Kita harus yakin bahwa kebaikan itu berasal dari Tuhan sendiri, karena tak mungkin Tuhan mengajarkan hal-hal yang tidak baik. Oleh karena itu, ada baiknya hidup kita harus selalu bersumber pada ajaran Tuhan sendiri (Firman Tuhan). Berkaitan dengan hal ini, Yesus juga menegaskan:”Mengapa kalian berseru kepada-Ku, “Tuhan, Tuhan”, pada hal kalian tidak melakukan apa yang Ku-katan?. Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan sabda-Ku serta melakukannya, maka orang seperti itu ibaratnya mendirikan rumah di atas batukarang, dan bukan di atas pasir.

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 13 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Melihat kesalahan orang lain.

Kuasa Doa hari ini menyampaikan renungan yang diangkat dari Injil Lukas 6;39-42 dengan thema:” Melihat kesalahan orang lain”. Berkaitan dengan thema renungan Kuasa Doa hari ini, Injil Lukas antara lain memberikan perumpamaan dengan mengatakan:” Mengapa engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kauketahui?Bagaimana mungkin engkau berkata kepada saudaramu ‘saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar dalam matamu, pada hal balok dalam matamu tidak kau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu”.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita tergoda atau cenderung menyalahkan orang lain, sementara dalam dirinya ada masalah yang lebih besar dari pada orang lain. Sekali lagi kita mempunyai mata yang jernih untuk melihat orang lain dan cenderung menghakimi atau menyalahkan orang lain.

Melalui Injil Lukas hari ini, Yesus menegur mereka yang bersifat menufik seperti halnya orang-orang Farisi. Orang munafik dibutakan oleh dosanya sendiri, dan suka sekali menonjolkan kelemahan orang lain. Oleh karena itu, belajar dari keteladanan Yesus melalui kerendahan hati merupakan suatu proses yang terus-menerus. Dalam Matius 11:29 dikatakan:” Belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati”.

Belajar meneladani Yesus adalah sebuah keutamaan Kristiani. Bagi orang Kristen, Yesus adalah “segalanya”, dan ini adalah sumber kebajikannya. Ini adalah fokus pesan Paus Fransiskus saat Misa Senin pagi [17/06/2013] di Domus Sanctae Marthae. Paus juga menegaskan bahwa kebenaran Yesus melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat, yang lebih unggul dibandingkan dengan keadilan semacam “mata ganti mata, gigi ganti gigi” itu.

“Seorang Kristen adalah seorang yang membuka hatinya dengan semangat kebajikan, karena ia memiliki “segalanya”: Yesus Kristus. Hal-hal lain “tidak ada apa-apanya”. Beberapa ada yang baik, mereka memiliki tujuan, tapi dalam momen harus memilih dia selalu memilih “segalanya”, dengan kelemah lembutan itu, kelemahlembutan Kristiani yang merupakan tanda murid-murid Yesus: kelemahlembutan dan kebajikan. Untuk hidup seperti ini adalah tidak mudah, karena kalian benar-benar akan menerima tamparan!

“Seorang Kristen sejati” – Paus melanjutkan – “tahu bagaimana memecahkan oposisi bi-polar ini, ketegangan yang ada antara “segalanya” dan yang “tidak ada artinya samasekali”, sama seperti Yesus telah mengajarkan kita: “Cari dulu Kerajaan Allah dan keadilannya, yang lainnya akan datang sesudahnya”.

“Kerajaan Allah adalah “segalanya”, yang lainnya adalah sekunder. Dan semua kesalahan orang Kristen, semua kesalahan Gereja, semua kesalahan kita berasal dari saat kita mengatakan “yang tidak berarti” adalah “segalanya”, dan “segalanya” itu kita katakan tidak masuk hitungan … Mengikuti Yesus tidak mudah, namun tidak sulit juga, karena pada jalan kasih Tuhan melakukan hal-hal sedemikian rupa sehingga kita dapat melangkah maju; Tuhan sendiri yang membuka hati kita”.

Oleh karena itu thema ‘melihat kesalahan orang lain’, tentu tidak sejalan dengan semangat Kristiani’ sebagaimana diajarkan oleh Yesus. Kita tetap harus fokus pada Kristus sebagai jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6).

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 12 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Hukum Kasih.

Hukum kasih yang menjadi thema Kuasa Doa hari ini diangkat dari Injil Lukas 6:27-38. Dalam Injil Lukas itu antara lain dikisahkan, ” kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membencinya. Mintalah berkat bagi mereka yang mengutuk kalian. Berdoalah bagi orang yang mencaci kalian. Bila orang menampar pipi yang satu, berikanlah pipimu yang lain…”. Ini semua adalah tindakan nyata dari hukum kasih sebagaimana Yesus sarankan kepada pengikut-Nya.

Sementara orang dunia lebih menyukai hukum “mata ganti mata, atau gigi ganti” ( hukum balas dendam). Hukum kasih bertentangan dengan hukum balas dendam. Hukum kasih bersifat ‘Ilahi’, sementara ‘hukum balas dendam ‘ bersifat ‘duniawi’.

Jadi untuk menerapkan kasih, kita dituntut untuk menunjukkan kasih mulai dari diri kita sendiri, yaitu mengasihi Tuhan lebih daripada apapun di dunia ini. Dari situ kita dikuatkan oleh Tuhan untuk mengasihi sesama kita. Kita mulai dari yang terdekat di sekitar kita, seperti keluarga, saudara-saudara kita, teman-teman di kampus, komunitas di sekitarnya, dll. Namun semua penerapan kasih bersumber pada kasih kita kepada Yesus.

Hal yang paling nyata untuk menerapkan kasih adalah dengan hidup kudus. Karena kekudusan ini menjadi refleksi dari Yesus sendiri. Kita percaya bahwa kebaikan akan menyebar dengan sendirinya atau “bonum diffusivum sui“. Dengan kita hidup kudus, maka orang akan melihat apa yang mendasari sikap hidup kita, yang pada akhirnya akan membawa orang kepada Sang Kebenaran, yaitu Kristus.

Kita juga jangan menunggu untuk melakukan sesuatu yang besar, namun mulailah dari hal-hal yang kecil. Seperti Santa Teresia kanak-kanak Yesus mengatakan bahwa lakukanlah hal-hal yang kecil namun dengan didasari kasih yang besar kepada Yesus. Lihatlah dalam keluarga kita masing-masing, teman-teman kita, mungkin ada yang sedih, marah, kesepian, dll. Kesepian adalah kemiskinan yang lebih parah daripada kemiskinan jasmani. Hiburlah mereka, luangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah mereka, bawa mereka dalam doa harian, dll.

Oleh karena itu, dengan semakin mendasarkan kasih kita kepada Yesus dan iman Kekatolikan kita, maka kita akan semakin dapat menerapkan kasih kepada sesama kita walaupun dalam masyarakat yang heterogen. Tanpa dasar kasih kita kepada Tuhan, maka apa yang kita lakukan adalah hanyalah suatu kerja atau karya sosial, yang tidak mempunyai karakter supernatural. Dan pada akhirnya, perbuatan kasih yang kita lakukan akan membawa orang kepada Sang Sumber Kasih itu sendiri, Yesus.

Bagaimana anda, andalah yang tahu. Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 11 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Sabda Bahagia.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Lukas 6:20-26 dengan thema:” Sabda bahagia”. Apa yang menjadi kebahagiaan anda? Yang pasti kebahagiaan itu tidak semata diukur dengan kuantitas harta duniawi yang dimilikinya. Tentu saja ukuran satu dengan yang lain tidak sama.

Semua orang, baik dewasa maupun anak-anak, ingin bahagia. Kebahagiaan diartikan sebagai pemenuhan semua keinginan hati kita. Jika kita perhatikan, pemenuhan kebahagiaan itu bergeser terus, manusia cenderung menginginkan sesuatu yang ‘lebih’: ingin lebih pandai, lebih sukses, lebih baik. Semua itu disebabkan karena di dalam diri kita ada keinginan untuk mencapai kesempurnaan akhir seperti halnya seorang atlet yang terus berjuang mencapai garis finish. Nah, masalahnya apa yang dicapai setelah garis akhir itu? Memang bagi kita yang masih hidup di dunia, titik akhir itu tidak dapat kita gambarkan secara persis. Tak heran, walaupun semua orang ingin bahagia, umumnya orang tidak tahu secara persis macam kehidupan seperti apa yang dapat menghantar kita ke sana. Akibatnya tiap-tiap orang mengejar hal yang berbeda-beda untuk mencapai kebahagiaan itu.

Banyak orang ingin mencari uang sebanyak-banyaknya agar bahagia. Namun jika kita renungkan, uang dan kekayaan merupakan sesuatu yang lebih rendah daripada manusia itu sendiri. Uang dan kekayaan bersifat sementara: dapat mudah diperoleh, tetapi juga mudah hilang. Uang bukan tujuan, karena ia hanya alat untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Uang memang diperlukan untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang kita perlukan, namun semua kebutuhan kita itu ada umurnya. Tidak ada yang tetap selamanya.

Filsuf kuno (Stoa) menganggap bahwa kebahagiaan manusia ada dalam pencapaian kebajikan moral dan intelektual. Kelihatannya hal ini lebih mulia dari hal-hal di atas, namun jika kita teliti, kebajikan juga bersifat sementara -misalnya hari ini kita bisa sabar, besok tidak demikian- dan karenanya tidak sempurna. Padahal, manusia selalu mencari sesuatu yang tetap dan sempurna. Kebajikan hanya merupakan alat bagi manusia untuk mencapai tujuan yang lebih mulia, yaitu: dikasihi secara sempurna dan mengasihi dengan sempurna. Selanjutnya, pertanyaannya adalah: siapa yang dapat mengasihi kita dengan sempurna dan dapat kita kasihi dengan sempurna?
Kebahagiaan kita adalah persatuan dengan Tuhan

Pertanyaan demikian menghantar kita pada suatu kebenaran yang lain, yaitu bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26). Ini membawa suatu akibat yang sangat luar biasa, manusia sebagai gambaran Allah (imago Dei) ini menjadi mampu untuk menerima rahmat Allah yang terbesar, yaitu Allah sendiri (capax Dei). Maka, walaupun ‘gambaran Allah’ dalam diri kita dirusak oleh dosa, tidak berarti bahwa kita sama sekali tidak berharga. Malah sebaliknya, Allah mengangkat kita dengan mengutus Kristus Putera-Nya ke dunia. Rasul Yohanes mengatakan, “Karena besarnya kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Tuhan mengutus Kristus, agar kita dapat kembali bersahabat dengan Allah, dan kemuliaan ‘gambaran-Nya’ di dalam kita dapat dipulihkan seperti keadaan aslinya. Jadi untuk persahabatan dengan Allah ini, kita diciptakan olehNya.

Namun, bukan itu saja: Penjelmaan Yesus menjadi manusia juga menunjukkan kepada kita bagaimana caranya hidup agar kita bahagia. Yesus mengajarkan kita Delapan Sabda Bahagia (Mat 5: 1-12), dan hidupNya sendiri adalah pemenuhan Sabda Bahagia tersebut. Dan semasa hidupNya di dunia, Ia adalah manusia yang paling berbahagia, karena satu hal ini: Ia memberikan Diri-Nya seutuhnya kepada Allah Bapa dan kepada manusia. Salib Kristus adalah puncak dan bukti yang sungguh nyata akan hal ini. Pandanglah salib Kristus, dan kita akan menemukan jawaban akan pertanyaan, “apa yang harus kulakukan agar hidup bahagia?” Sebab di sana, di dalam keheningan Kristus akan menjawab kita, “Mari, ikutlah Aku… berikanlah dirimu kepada Tuhan dan sesama….”

Mungkin kita bertanya, bagaimana mungkin pengorbanan dapat membuat kita bahagia? Ini memang merupakan misteri kasih Allah yang dinyatakan oleh Kristus kepada kita, dan kitapun diundang untuk melakukan yang sama, karena memang hakekat kasih adalah pengorbanan.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, tuhan memberkati.-***

kuasa 10 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Doa sebagai sumber kekuatan.

Hari ini Gereja mengajarkan kepada kita bahwa doa merupakan sumber kekuatan. Bagaimana kita memaknainya? Injil Lukas 6:12-19 mengisahkan bagaimana Yesus berdoa semalaman kepada Allah sebelum menetapkan 12 rasul-Nya. Dalam hal ini, Yesus memperlihatkan kepada kita semua betapa tidak mudah mengambil suatu keputusan untuk memilih sejumlah orang dari sekian banyak orang untuk menjadi orang-orang pilihan-Nya yang disebut rasul. Dikisahkan dalam Injil hari ini, Yesus pergi ke sebuah bukit untuk berdoa semalam-malaman kepada Allah. Betapa seriusnya Yesus berdoa semalam-malaman, yang tentu saja menguras seluruh tenaga-Nya sebelum mengambil keputusan yang tepat untuk memilih para rasul-Nya. Dengan kata lain, dalam doa itu, Ia mohon petunjuk dari Bapa-Nya dalam menentukan siapa sajakah yang layak dilibatkan dalam karya yang akan dijalankan-Nya yaitu rasul-rasul yang akan bertanggungnjawab penuh dan siap diutus untuk mewartakan khabar Gembira tentang Kerajaan Allah.

Dikisahkan Yesus berdoa semalaman. Tentu sangat sulit bagi kita meneladani sikap seperti apa yang dikerjakan untuk sempurna seperti Yesus. Keteladanan Yesus berdoa (semalaman) seharusnya memberikan inspirasi kepada kita semua betapa sebuah doa itu menjadi suatu yang sangat penting. Mungkin kita tidak mampu untuk berdoa semalaman dalam mengambil suatu keputusan. Namun dari sejumlah kesaksian hidup, ada saja yang orang sukses mengambil suatu keputusan setelah sungguh-sungguh berdoa, dan doanya sungguh dikabulkan oleh Tuhan. Dari pengalaman ini, maka doa adalah sebuah sumber kekuatan utama dalam mengambil suatu keputusan.

Injil Lukas hari ini menginspirasi dan pegangan untuk hidup kita betapa doa itu merupakan sarana untuk menimba kekuatan dari Allah dalam mengambil suatu keputusan. Oleh karena itu, kita perlu berdoa dan memohon hikmat dari Tuhan ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan agar pilihan kita bukan karena mengikuti kehendak pribadi, melainkan sejalan dengan kehendak Allah.

APA ITU DOA?
“Bagiku doa adalah ayunan hati, satu pandangan sederhana ke surga, satu seruan syukur dan cinta kasih di tengah percobaan dan di tengah kegembiraan” (Teresia dari Anak Yesus, ms. autob. 25r).

KGK 2559 “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik” (Yohanes dari Damaskus, f.o.3,24). Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis (Bdk.Agusfinus, serm. 56,6,9.. 2613, 2736).

Demikian renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 9 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Sejarah Keselamatan.

Kuasa Doa hadir kembali setelah 3 hari retret di Rawaseneng (4-7September 2014). Hari ini Kuasa Doa mencoba menyusun kekuatan kembali untuk hadir di tengah para pembacanya.

Gereja hari ini memperingati Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria, bunda Yesus sekaligus juga bunda Allah. Maria sebagai Bunda Allah barangkali menggelikan banyak orang khsususnya dengan mereka yang tidak sepandangan dengan iman Kristiani. Pandangan mereka antara lain bagaimana mungkin Maria diberi gelar Bunda Allah. Bagaimana mungkin Allah punya ibu, dan siapa Bapak-Nya? Umat beriman seringkali terjebak atas pertanyaan ini sehingga tidak berani berargumentasi dengan orang lain.

Pada hal semua pertanyaan-pertanyaan ini bisa dijelaskan dengan baik, kalau penyanggah juga mau membuka hati. Sejarah keselamatan Allah melibatkan begitu banyak orang. Di antara mereka adalah para nabi, para utusan Allah, dan yang paling akhir adalah Maria. Melalui Maria, sejarah keselamatan ini dinyatakan. Firman Tuhan melalui nabi (Yesaya?) mengatakan:” Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamai Dia Immanuel” yang berarti :” Allah menyertai kita”.

Keterleibatan Maria dalam sejarah keselamatan manusia adalah prakarsa Allah sendiri. Maria telah dipilih secara khusus di antara semua wanita yang lahir di dunia ini. Pikiran ini tentu saja tidak terjankau oleh otak manusia yang sebesar ‘bakpau’ ini. Kehadiran Yesus melalui Maria membuka peluang bagi banyak orang untuk bertobat. Keselamatan Allah terbuka bagi siapa saja dan tidak membedakan suku, golongan, ras, atau siapa pun. Melalui Maria, terlahir “Immanuel”, artinya : Allah menyertai kita.

Dalam Perjanjian Lama, Allah itu dirasakan sangat jauh dan Allah itu ditengarai sebagai Allah yang penuh otoriter dan penghukum, namun kehadiran Yesus menyatakan bahwa Allah itu dekat. Allah itu begitu mengasihi manusia, dan Allah itu terus-menerus menyertai kita. Allah menyertai kita, berarti Allah itu dekat sekali. Allah yang dekat menjadikan manusia lebih mudah berinteraksi
dengan-Nya, dan dapat dialami secara nyata.

Kedekatan dengan Allah itu dapat dirasakan kalau sendiri selalu teruds mencoba bertegur sapa dengan Allah melalui Yesus. Mengapa Yesus? Santo Paulus mengatakaan:” Yesus itu adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang terslulung di antara segala ciptaan” (Kolose 1:15). Dengan kata lain, kita semua akan paham dan mengerti tentang Allah, kalau kita mengenal Yesus dengan lebih baik. Oleh karena itu kata-kata Yesus:”Aku jalan, kebenaran dan hidup”, memberikan arti bahwa melalui Yesuslah orang dapat mengerti tentang Allah yang oleh Yesus disebut sebagai Bapa-Nya.

Kalau Gereja memperingati Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria hari ini, karena Gereja menilai bahwa peran Maria dalam sejarah keselamatan menjadi sangat penting. Begitu pentingnya sehingga Gereja menentukan hari ini sebagai pesta kelahiran Santa Maria.

Semoga pesta kelahiran Santa Perawan Maria makin memberikan inspirasi dalam hidup ini dan makin mencoba memahami karya Allah untuk menyalamatkan manusia melalui Santa Perawan Maria (Per Mariam ad Jesum). Itulah sebabnya kita sangat menghormati Bunda Maria sebagai perantara kita kepada Yesus Putera-Nya.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 8 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Duc in altum.

“Duc in altum”, demikian thema Kuasa Doa hari ini, yang merupakan inspirasi dari Injil Lukas 5:1-11. Duc in altum adalah suatu istilah dalam bahasa Latin yang artinya “Tebarkanlah ke tempat yang dalam”. Menurut Injil Lukas hari ini antara lain dikisahkan bagaimana Yesus memerintahkan Simon supaya menolakkan perahu sedikit lebih jauh dari pantai. Setelah mengajar, kemudian Ia berkata kepada Simon:” Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”. Simon pun menjawab:” Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi atas perintah-Mu, aku akan menebarkan jala itu juga”. Hasilnya, luar biasa. Simon memperoleh ikan yang sedemikian banyak yang hampir merobekkan jalanya. Simon lalu memberi isyarat kepada teman-teman untuk membantunya. Menyaksikan peristiwa itu, Simon tersungkur di depan Yesus dan berakta:” Tuhan, tinggalkanlah aku, karena aku ini orang berdoa”. Mereka takjub akan banyaknya ikan yang ditangkapnya. Kemudian Yesus berkata kepada mereka:”Jangan takut. Mulai sekarang engkau akan menjadi penjala manusia”. Demikian antara lain ‘inti kisah Injil Lukas hari ini”.

“Duc in altum’ demikian thema Kuasa Doa hari ini ‘Tebarkanlah jalamu ke tempat yang dalam”. Simon percaya akan Sabda Yesus, dan ia pun melaksakannya. Pada hal sudah semalaman ia mencari ikan, dan tak seekor pun didapatkannya. Namun, ia percaya akan Sabda Yesus yang penuh kuasa. Ia melaksanakan perintah Yesus, dan hasilnya memang luar biasa.

“Duc in altum”, dapat dimaknai pula, bahwa jika kalau kita mempelajari Firman lebih dalam, maka hasilnya juga luar biasa. Iman Simon kepada Yesus adalah salah satu contohnya. Dengan cara itu pula, sekiranya hidup kita selalu terisnpirasi oleh Firman, maka hasil utamanya antara lain adalah pengalaman rohani yang menjadikan dirinya damai sejahtera. Seperti diketahui bahwa iman dari jawaban Simon menjadikan dirinya sebagai batu karang tempat Gereja dibangun.

Simon Petrus menyadari jarak antara dirinya sebagai pendosa dan Yesus selain Guru tapi juga sebagai Tuhan. Inilah pertama kalinya Simon yang semula menyebut-Nya Guru, tetapi kemudian lebih tinggi lagi yakni Tuhan. Kekudusan Ilahi terlalu besar antara Simon sebagai pendosa, dan Yesus sebagai Tuhan. Tetapi, Yesus datang bukan untuk mengusir orang-orang berdosa, tapi justru Ia bergaul dengan para pendosa. “Blusukan” Yesus ini adalah untuk mewartakan khabar tentang Kerajaan Allah kepada segala makluk.

Kesimpulan dari bacaan Injil Lukas hari ini antara lain’pelajarilah Firman Tuhan dengan baik, maka anda akan memperoleh hasilnya yakni hidup benar, dan akan mengalami damai sejahtera”.

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 4 September, 2014 Leave A Comment Permalink