Kuasa Doa

Kuasa Doa

Media Informasi Iman Katholik online

Yesus Menghardik Iblis

Kuasa Doa hari ini menyajikan renungan pendek yang berthemakan:” Yesus menghardik iblis”. Thema ini diambil dari bacaan Injil Lukas 4:31-37. Seperti biasanya, setiap hari Sabat Ia mengajar. Para pendengar-Nya sangat takjub, karena pengajaran-Nya penuh dengan kuasa. Waktu itu di antara pendengar-Nya, ada seorang yang kerasukan setan, dan berteriak-teriak katanya:” Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau hendak membinasakan kami?Aku tahu siapa Engkau. Engkaulah yang kudus dari Allah”. Namun Yesus menghardiknya, kata-Nya:”Diam, keluarlah dari padanya”. Iblis pun keluar dari padanya dengan menghempaskan badan orang itu di tengah orang banyak. Semua orang takjub, dan berkata satu sama lain:” Alangkah hebatnya perkataan ini! Dengan penuh wibawa dan kuasa, Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat, dan mereka pun keluar”.

Selain menghardik iblis, namun sabda Yesus dalam pengajaran-Nya sangat penuh kuasa dan wibawa. Bahkan iblis tahu persis siapa sosok Yesus. Bahwa Yesus lah yang punya kuasa membinasakan iblis dan roh-roh jahat. Oleh karena itu, kita juga dapat berbuat yang sama untuk mengusir roh-roh jahat dalam Nama Yesus. Manusia tidak mungkin mengusir roh-roh jahat dengan kekuatan sendiri, oleh karena itu dengan pertolongan Yesus kita dapat mengusir Iblis dan roh-roh jahat. Ketika iblis mengatakan:” Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami?Engkau datang membinasakan kami?Aku tahu siapa Engkau. Engkaulah yang kudus dari Allah”.

Dengan kata lain, Iblis tahu persis siapa sosok Yesus sebagai Yang Kudus dari Allah, dan bahkan iblis juga tahu bahwa Yesuslah yang punya kuasa yang akan membinasakan mereka khususnya pada akhir zaman, sehingga wajarlah kalau iblis takut akan Dia. Untuk itu pula, bahwa Yesus bukannya sekedar Anak Manusia dari Maria dan Yusuf, tapi Dialah yang kudus dari Allah, yang punya kuasa untuk membinasakan iblis dan roh-roh jahat lainnya serta nasib dari seluruh ciptaan-Nya.

Reaksi pendengar sewaktu Yesus mengajar sebagaimana disampaikan dalam Injil hari ini adalah pengajaran yang penuh wibawa dan kuasa. Pengajaran-Nya sungguh berbeda dari pada orang Farisi dan ahli Taurat. Kedua kelompok ini dikenal sebagai orang-orang munafik, yang lebih banyak mencari penghormatan dan punjian dari dunia.

Sebaliknya Yesus telah memberikan pengajaran yang berbeda dengan mereka ini, bahkan pengajaran-Nya penuh dan wibawa. Kata-katanya indah.

Namun yang tak kalah menarik dan penting adalah Yesus punya kuasa atas kehidupan ini termasuk atas nasib iblis dan roh-roh jahat lainnya, walau hal ini banyak orang yang menolak ajaran-Nya.

Sebagai pengikut Kristus, hidup kita pun seharusnya juga memancarkan kewibawaan sebagai anak-anak Allah. Sebagai sebagai anak-anak Allah, maka hidup kita memang harus tampil beda dengan orang lain. Cara hidup yang santun dan lemah lebuh dan rendah hati, memiliki kepribadian yang handal, serta sikap hidup yang menghargai orang lain seharunya menjadi kesaksian bagi orang lain.

Demikian pesan Kuasa Doa melalui renungan singkat hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 2 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Yesus ditolak di kampung halaman-Nya.

Hari ini Kuasa Doa mencoba membuka renungannya yang bersumber pada bacaan Injil Lukas 4:16-30 dengan thema:” Yesus ditolak di kampung halaman-Nya”. Mengapa Ia ditolak? Inilah kisahnya. Ketika Yesus pulang ke kampung halaman-Nya, seperti biasa Ia mengajar di rumah ibadat pada hari Sabat. Ketika Ia membacakan teks Kitab Suci Nabi Yesaya, Ia membacakan ayat-ayat berikut:” Roh Tuhan ada pada-Ku. Sebab Aku diurapi-Nya untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dan Aku diutus-Nya untuk memberitahukan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang”. Kemudian Ia menutup Kitab Suci, dan mulailah Ia mengajar.

Komentar para pendengar-Nya antara lain bahwa Yesus mengajar dengan penuh kuasa dan kata-kata-Nya indah. Sementara yang lain mencela dengan mengatakan:” Bukankah Dia itu anak Yusuf?”. Dengan kata lain mereka kecewa atas Yesus yang adalah anak Yusuf tukang kayu dari Nazareth.

Dalam kehidupan nyata sehari-hari, kita juga sering bertindak seperti para pendengar yang mencela Yesus sebagai anak tukang kayu. Kita sering melihat seseorang dari kulit (luarnya) saja. Penghakiman itu sering dijatuhkan kepada siapa saja yang sekiranya kurang pas di matanya.

Penolakan Yesus tidak hanya terjadi di kampung halaman-Nya tetapi juga oleh banyak orang termasuk orang Farisi dan ahli Taurat. Mereka menolak Yesus karena memberikan pengajaran yang sangat berbeda dengan ajaran para ahli kitab dan orang Farisi, walau pun bersumber pada Kitab Suci yang sama.

Penolakan Yesus tidak hanya terjadi pada waktu itu, pada zaman moderen pun penolakan Yesus terus meningkat. Mengapa? Ajaran Yesus sangat bersifat rohani, sementara dunia lebih menyukai hal-hal yang bersifat duniawi. Namun penolakakan Yesus lebih berpusat karena Yesus dianggap Mesias, Anak Allah, atau bahkan Allah itu sendiri. Inilah sumber utama penolakannya, yang kemudian tentu saja akan merambah kepada ajaran-ajaran lainnya.

Sebagai pengikut Yesus, seharusnya kita mengikuti saran-saran St. Paulus yang mengatakan:”Saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan, jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 2:4).

Nasihat yang harus kita jalankan antara lain adalah janganlah begitu mudah menolak orang lain dari sisi luarnya saja. Dan janganlah suka menghakimi orang lain, kalau dirinya tidak suka dihakimi.

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 1 September, 2014 Leave A Comment Permalink

Hal Mengikuti Kristus

Renungan Kuasa Doa hari Minggu ini diangkat dari bacaan Injil Matius 16:21-27 dengan thema:” Hal mengikuti Yesus”. Yesus hari ini menegaskan kepada para pengikut-Nya dengan cara yang berbeda. Yang mana itu? Yesus berkata:” Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku. Karena barangsiapa ingin menyalamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nayawanya. Tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya bagi seseorang jika ia memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?”.

Dari ungkapan di atas, ternyata mengikuti Yesus tidak seperti mengikuti para pemimpin pada umumnya. Jadi wajarlah kalau tidak semua orang dapat mengikuti-Nya dengan baik. Syarat seperti harus menyangkal diri dan memanggul salibnya adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi. Sebenarnya syarat yang diajukan Yesus itu juga menggambarkan diri-Nya bagaimana Ia harus meniti kehidupan-Nya sampai akhirnya harus mati dikayu salib.

Oleh karena itu wajarlah kalau syarat yang diajukan Yesus untuk mengikuti-Nya tidak menarik banyak orang dan cenderung menolak-Nya.

Menjadi murid dan pengikut Yesus adalah predikat kita sebagai umat Katolik. Menjadi murid sekaligus pengikut Kristus artinya mengikuti atau berjalan di belakang Yesus. Bahkan bukan hanya sekedar berjalan di belakang-Nya, tetapi menjadi seperti Yesus dalam segalanya (Imitatio Christi). Menjadi pengikut Kristus berarti menggunakan pikiran, perasaan, dan kerja seperti Yesus. Dengan kata lain, menjadi pribadi murid Yesus semakin menyerupai pribadi Yesus sendiri.

Inilah sebuah tantangan bagi semua pengikutnya agar menjadi serupa dengan Yesus. Untuk menjadi serupa seperti Kristus, maka jalan penderitaan sebagai suatu jalan yang tak bisa dihindarkan lagi.

Apakah kita sudah menyerupai seperti Yesus? Andalah yang tahu.

Demikianlah renungan Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 31 August, 2014 Leave A Comment Permalink

Anugerah talenta.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari bacaan Injil Matius 25:14-30 dengan thema:” Anugerah talenta”. Yesus sering berbicara tentang hal Kerajaan Surga. Tentang Kerajaan Surga Yesus memberikan perumpamaan sbb:” Hal Kerajaan Surga itu seperti seorang majikan yang mau bepergian ke luar negeri yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberinya 5 talenta, yang seorang lagi dua, dan seorang lain lagi satu talenta, masing-masing menurut kemampuannya. Lalu ia pun berangkat.

Setelah menerima talenta, masing-masing pergi dan menjalankan talentanya masing-masing. Setelah itu majikannya kembali dan mengadakan perhitungan dengan masing-masing hambanya. Pertama, dipanggillah yang menerima 5 talenta. Majikan itu memujinya karena ia dapat mempertanggungjawabkankan talentanya dengan baik. Ia menerima lama sebnayak 5 talenta. Tuannya senang karena ia telah setia dalam perkara yang kecil dan akan memberikannya tanggung jawab dalam perkara yang besar. Bahkan majikan itu akan mengajaknya untuk ikut dalam kebahagiaan di dalam Kerajaan Surga. Datanglah hamba yang menerima dua talenta. Ia mengatakan bahwa dua telenta yang telah diberikan telah dikembangkan menjadi berlipat dua kali. Majikannya pun memujinya. Lalu datanglah hamba yang menerima satu talenta. Ia merasa tidak senang dan bahkan mengumpat katanya:” Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah manusia kejam, yang menuai di tempat Tuan tidak menabur, dan memungut di tempat Tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan di dalam tanah. Ini, terimalah milik Tuan!”Maka tuannya pun menjawab:” Hai engkau hamba yang jahat dan malas. Engkau tahu bahwa aku menuai di tempat aku tidak menabur dan memungut di tempat aku tidak menanam…”.

Dari gambaran kisah di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa masing-masing di antara kita telah diberikan anugerah sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Dan setiap anugerah yang kita terima itu harus dipertanggungjawabkan berapa pun jumlahnya. Jika kita mempertanggungjawabkan atas karunia tadi, maka majikan (Allah) akan sangat mengharagainya dan bahkan boleh ikut dalam kebahagiaan abadi di surga.

Sebaliknya bagi mereka yang tidak mempertanggungjawabkan kasih karunianya, maka nasib orang seperti ini akan kena murka Allah, karena Allah menganggap orang-orang itu adalah malas dan tidak setia. Oleh karena itu Allah lebih baik merampas anugerah tadi dan memberikan kepada mereka yang memiliki lebih.

Apakah anda termasuk hamba yang malas dan tidak setia? Andalah yang tahu>

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 30 August, 2014 Leave A Comment Permalink

Yohanes Pembaptis Seorang Martir.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari bacaan Injil Markus 6:17-29 dengan thema:” Yohanes Pembaptis seorang martir”. Gereja hari ini memperingati wafatnya Yohanes Pembaptis sebagai seorang martir. Kita mengenal Yohanes Pembaptis adalah anak Elisabeth dan Zakaria. Yohanes Pembaptis adalah sosok yang dipersiapkan Allah untuk mewartakan kedatangan Mesias. Namun pewartaan Mesias tidak berjalan mulus, karena ia keburu ditangkap oleh para penjaga raja Herodes. Ia ditangkap gara-gara masalah yang sepele yakni menegur Herodes dengan mengatakan:” Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu”. Kata-kata ini telah merusak hubungan antara Yohanes dan Herodes. Kata-kata Yohanes itu telah menyebabkan Herodes sakit hati. Pada dasarnya Herodes juga mengagumi Yohanes, karena ia dikenal oleh banyak orang bahkan ia menyebut Yohanes adalah seorang benar dan suci. Namun demikian dendam kesumat atas kata-kata Yohanes atas dirinya terus mengiang di dalam hatinya. Oleh karena itu Herodes bermaksud untuk menghabisi nyawa Yohanes.

Pada suatu hari, Herodes mengadakan suatu perjamuan dengan mengundang tamu-tamu kehormatan. Pada kesempatan itu, puteri Herodes telah mempertontonkan kebolehannya dalam menari, dan apa yang diperbuat puterinya sangat mengagumkan. Herodes pun bersumpah akan memberikan hadiah yang terbaik termasuk sebagian dari wilayah kekuasaannya. Atas janji ayahnya itu, puteri Herodes itu lalu menghadap ibunya tentang janji ayahnya yang akan memberikan hadiahnya. Ibunya membisikkan untuk meminta kepala Yohanes Pembaptis. Herodes pun terkejut tetapi karena sumpahnya, ia pun harus menuruti sumpahnya. Akhirnya dipenggalah kepala Yohanes dan dibawa di antara tamu-tamu yang hadir.

Yohanes Pembaptis mempersiapkan kedatangan Mesias, namun nasibnya harus tersandung pada penguasa karena tegurannya. Pada zaman moderen ini pun, banyak penguasa yang tidak tahan dengan kritik atas teguran orang lain. Orang-orang yang mudah tersinggung itu umumnya para penguasa, karena dengan kekuasaannya ia dapat berbuat apa saja terhadap lawan-lawannya.

Nasib orang benar dan bahkan orang baik seperti Yohanes masih ada di jaman ini, tetapi selalu saja mereka ini kandas di tengah jalan. Hidup dunia ini penuh dengan kekejaman, bahkan cenderung brutal. Kekejaman atau kebrutalan itu akibat dosa manusia, yang makin jauh dari sumberkasih yakni Allah. Bisa saja mereka mengaku beragama, tetapi tidak mengenal Allah dengan baik. Nama Allah selalu disebut, tetapi tindakannya bertentangan dengan kehendak Allah sendiri yakni untuk saling mengasihi antara yang satu dengan yang lain.

Yohanes Pembaptis adalah kurban kebrutalan penguasa yang rakus akan kekuasaan, sehingga ia harus mati di tangan seorang penguasa. Sebenarnya apa yang dialami oleh Yohanes Pembaptis, akan dialami oleh Yesus sendiri. Yesus pun juga harus menderita dan harus mati di kayu salib.

Apa yang menarik dari Injil Markus hari ini? Kematian Yohanes Pembaptis seharusnya menjadi inspirasi dalam hidup kita bahwa menjadi orang benar apalagi mempersiapkan menjadi orang kudus sungguh berat tantangannya. Godaan dan bahaya terus mengancam hidup kita. Oleh karena itu kerjasama dengan Tuhan melalui curahan rahmat-Nya akan memberi kekuatan dalam hidup ini. Santo Paulus mengatakan kepada jemaat di Efesus bahwa sarana untuk melawan godaan adalah Firman Tuhan. Dengan kata lain, Firman Tuhan seharusnya menjadi inspirasi dan pegangan hidup kita. Masalahnya adalah apakah kita selalu berbicara atau mendengarkan Tuhan dengan membaca Firman-Nya. Andalah yang tahu.

Demikian renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 29 August, 2014 Leave A Comment Permalink

Berjaga-jagalah!!!

Renungan singkat Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Matius 24:42-51, dengan thema:” Berjaga-jagalah!!! “. Injil Matius hari ini mengajak kita semua untuk terus berjaga-jaga, dan untuk terus tekun dan setia kepada Tuhan. Yesus hari ini memberikan gambaran bagaimana harus berjaga-jaga, dengan mengatakan:” Berjaga-jagalah, sebab kalian tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika Tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga-jaga dan tidak membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu hendaklah kalian selalu siap siaga, sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kalian duga”.

Firman di atas menasihatkan kepada kita agar kita siap siaga kapan saja, di mana saja, dengan catatan jika sewaktu-waktu Yesus (Anak Manusia) datang, kita siap menyambut kedatangan-Nya. Hal ini perlu diingatkan karena manusia itu pada dasarnya lemah. Dengan mengakui segala kelemahan itu menunjukkan bahwa manusia masih membutuhkan Tuhan sebagai Sang Pencipta yang berkuasa atas diri manusia. Namun demikian, manusia sering lengah dan cenderung melupakan kuasa Tuhan. Manusia itu cenderung sombong dan menganggap Tuhan itu tidak ada, karena ia lebih mengandalkan kekuatannya sendiri. Kesombongan ini yang menjatuhkan manusia jauh dari Sang Pencipta sebagai Sumber Kasih. Banyak orang dewasa ini sudah tidak terpengaruh oleh ajaran kebenaran, tetapi lebih memilih pada kemampuan dirinya. Orang yang sombong selain menjauhkan dirinya dari Allah, sadar atau tidak, bahwa makin manusia menjauhkan dari Allah, maka manusia akan jatuh ke dalam dosa. Kelemahan manusia itu terutama berpangkal pada penolakannya terhadap rahmat Tuhan.

Kerjasama manusia dengan Tuhan melalui curahan rahmat kepada manusia agar manusia kuat melawan godaan terhadap manusia. Oleh karena itu, untuk melawan godaan, St. Paulus menasehatkan kepada kita agar selalu berpegang pada ajaran Yesus yakni untuk terus berpegang pada Firman Tuhan. Dengan cara itu maka kita berusaha untuk melawan godaan dalam hidup ini.

Hari ini Gereja juga merayakan pesta St. Agustinus, seorang pujangga Gereja yang hebat. Ia adalah anak bandel dari St. Monika yang perayaannya dirayakan kemarin. Gambaran St. Monika terus berdoa untuk anaknya yakni Agustinus menggambarkan St. Monika terus berkomunikasi dengan Tuhan agar Tuhan mengabulkan doanya. Terkabulnya doa St. Monika menjadikan Agustinus seorang anak yang bandel dan menjadi anak yang patuh serta menjadi anak yang baik, bahkan menjadi seorang pujangga Gereja yang luar biasa.

“Berjaga-jagalah” demikian thema Kuasa Doa hari ini dimaksudkan untuk mengingatkan kepada kita semua untuk selalu awas dan siap sedia dalam setiap kesempatan, kapan dan di mana saja kita berada. Kehadiran Tuhan di dalam hidup kita menjadikan diri kita selalu mengalami damai sejahtera bersama Tuhan. Penghayatan akan kehadiran Tuhan dalam diri kita tentu saja tidak serta merta omomatis, tetapi harus melalui latihan rohani yang terus menerus. Dengan cara inilah, kita terus belajar bagaimana kita mengahayati kehadiran-Nya. Dalam kondisi inilah, kita siap menyongsong kehadiran Tuhan dengan damai, sejahtgera.

Demikian renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 28 August, 2014 Leave A Comment Permalink

Allah telah melawat umat-Nya.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari bacaan Injil Lukas 7:11-17, dengan thema:” Allah telah melawat umat-Nya”. Apa maksud ‘Allah telah melawat umat-Nya’? Mari kita coba memahaminya. Melawat berarti hadir. Injil Lukas hari ini menggambarkan Allah hadir pada salah satu keluarga di Naim, ketika Yesus membangkitkan anak laki-laki seorang janda dari Naim. Yesus tergerak hati-Nya oleh belas kasihan dengan menyentuh peti jenazah. Yesus pun bersabda:” Hai, anak muda, bangkitlah. Anak itu pun bangun dan mulai berkata-kata. Menyaksikan peristiwa itu, banyak orang mengatakan: ” Seorang Nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita, dan Allah telah melawat umat-Nya”.

Santa MonikaHari ini Gereja juga merayakan pesta Santa Monika, yang merupakan ibunda Santo Agustinus. Santa Monika memang istimewa. Walau ia seorang ibu rumah tangga, tapi tetap tidak tertutup kemungkinan menjadi seorang kudus. Kita melihat bahwa Santo Monika adalah seorang ibu yang gigih. Bertahun-tahun ia bertekun dalam doa yang sepertinya tidak direspons oleh Allah. Apa saja ketekunan dalam doanya? Ia berdoa untuk pertobatan suaminya yang bernama Patrisius dan anaknya yang bernama Agustinus. Konon Santa Monika berdoa untuk suaminya selama 32 tahun agar suaminya bertobat, sementara ia juga berdoa untuk Agustinus selama 12 tahun, karena sewaktu remajanya Agustinus dikenal sebagai anak bandel. Doa Santa Monika selalu diiringi dengan air mata. Dari manakah kekuatan Santa Monika? Yaitu dari apa yang oleh Santo Paulus disebut kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita. Kasih karunia Allah adalah anugerah Ilahi untuk murid Kristus yang mau terbuka dan dibimbing untuk bertekun dalam doa, juga apabila doa kita sepertinya tidak segera terkabul. Kasih karunia ini dilimpahkan dan tampak dalam daya tahan dan ketekunan seperti pada Santa Monika. Terkabulnya doa Santa Monika ini berarti ‘Allah telah melawat umat-Nya” (dalam arti secara rohani).

Apa yang dapat kita petik dari pesta Santa Monika hari ini? Tentu saja keteladanan untuk bertekun dalam doa, meski doa itu belum juga direspons oleh Tuhan. Kasih karunia rahmat Tuhan itulah yang menjadikan seseorang itu bertekun khususnya dalam doa.

“Allah telah melawat umat-Nya”, demikian thema Kuasa Doa hari ini. Sekiranya hidup kita selalu terbuka untuk kehadiran Tuhan, maka hal ini juga dapat dimengerti bahwa Allah pada dasarnya telah melawat umatnya semata karena terkabulnya suatu doa, tetapi dengan ucapan syukur dan terimakasih kepada-Nya juga menggambarkan ‘Allah telah melawat umat-Nya’.

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 27 August, 2014 Leave A Comment Permalink

Munafik!!!

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil Injil Matius 23:23-26, dengan thema:” Munafik”. Injil hari ini masih berkaitan dengan Injil kemarin tentang sabda ‘celaka’ yang merupakan kritik pedas Yesus kepada orang farisi dan ahli taurat. Yesus menyampaikan 7 (tujuh) sabda celaka terhadap lawan-lawan-Nya terhadap cara hidup mereka yang penuh kemunafikan. Injil Matius hari ini berbicara tentang sabda celaka keempat di mana Yesus mengritik para lawan karena melalaikan perhatian yang paling penting mengenai hukum ( (keadilan, belas kasih, dan kesetiaan) demi hasrat mereka mengumpulkan pajak religius yang harus dibayar atas sayuran dan rempah-rempah. Perhatian besar atas hal-hal kecil menyebabkan mereka melupakan hal-hal yang besar. Kritik pedas Yesus yang berikutnya terhadap para lawan-lawan Yesus mengenai kebersihan ritual seperti kebersihan cangkir dan piring yang dipergunakan dalam perjamuan makan, tidak sesuai dengan usaha mereka atas kesucian moral. Ada kesenjangan yang begitu lebar antara penampilan lahiriah dan kenyataan bathiniah.

Yesus kembali mengritik bahwa para lawan itu mengabaikan keadilan, belas kasih dan kesetiaan.Tanpa kedailan, belas kasih dan kesetiaan, maka urusan keagamaan akan lebih bersifat birokratis dan tanpa ‘roh’. Akibatnya, orang tidak lagi melihat nilai yang baik dan spiritual dari pelayanan dan tugas-tugaas tersebut.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dikecam karena menerapkan tata aturan secara berlebihan demi mengejar keuntungan. Penerapan aturan semacam ini menyebabkan mereka lupa akan rasa kedailan, belas kasih dan kesetiaan iman. Yesus menghendaki agar mereka menyadari akan kekeliruan mereka.

Bersih di luar (indah di luar) tetapi tidak bersih (busuk) di dalam (Mat.23: 25-26). Mereka diluar kelihatan suci, putih seperti salju, lembut seperti embun dan tulus seperti merpati ternyata mereka merampas apa yang menjadi haknya Tuhan dan sesamanya serta rakus dalam banyak bidang.

Munafik sebagaimana digambarkan oleh Yesus dalam Injil Matius hari menggambarkan ada begitu banyak orang munafik dalam zaman moderan termasuk dalam diri kita. Kemunafikan itu kita jumpai di mana-mana. Oleh karena itu Yesus menekankan tiga unsur kesalehan dalam hidup Kristiani yakni keadilan, belas kasih dan kesetiaan. Ketiga unsur itu adalah landasan kesalehan hidup Kristiani.

Bagaimana anda? Demikian renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 26 August, 2014 Leave A Comment Permalink

Kritik Pedas Untuk Orang Farisi dan Ahli Kitab.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari bacaan Injil Matius 23:13-22, dengan thema:” Kritik pedas untuk orang Farisi dan ahli kitab “. Kembali hari ini Yesus mengritik pedas terhadap orang Farisi dan ahli kitab? Mengapa? Bukankah mereka ini termasuk dalam kelompok masyarakat yang eksklusif, yang bahkan hidupnya seharusnya menjadi contoh orang banyak. Mengapa justru mereka ini menjadi sasaran tembak Yesus dalam bentuk kritik pedas terhadapa cara hidup mereka?

Seperti diketahui bahwa ahli Taurat dan orang Farisi adalah keompok tokoh agama terkemuka. Ahli Taurat tahu banyak mengenai hukum dan aturan agama yang mesti diindahkan dan ditaati oleh masyrakat Yahudi. Kaum Farisi selain menaati aturan dan hukum agama, masih memelihara tradisi dan berusaha untuk melaksanakannya secara teliti; tidak boleh melalaikan satu aturan atau adat kebiasaan pun.

Karena kedua kelompok ini hidup ekslusif, bahkan cenderung tidak jujur dengan dirinya sendiri. Ucapan “celakalah”, yang ditujukan kepada seseorang atau suatu kelompok mengungkapkan kesedihan atas keadaan mereka yang buruk serta peringatan terhadap akibat buruk yang akan mengikutinya. Sebenarnya Yesus menyampaikan tujuh sabda “calaka”, tetapi dalam perikop ini mengungkapkan 4 sabda celaka. Sabda pertama dari tujuh celaka yang ditujukan kepada orang farisi dan ahli kitab, karena mereka menghalangi orang masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan perlawanan mereka terhadap Yesus dan para murid-Nya. Sabda celaka kedua, Yesus mempersalahkan mereka karena usaha mereka karena usaha misioner mereka untuk mempertobatkan orang ternyata merugikan kerohanian orang. Sabda celaka ketiga dan keempat menunjuk kepada usaha orang Farisi menakuti orang-orang yang mengucapkan sumpah atas barang-barang yang paling suci (mezbah, Bait Allah, dan Allah), Yesus menolak usaha ini sebagai kasus yang menggelikan.

Yesus mengritik pedas para ahli Taurat dan kaum Farisi itu justru karena pelaksanaan yang tidak tepat atas hukum dan aturan. Pelaksanaan atas aturan dan hukum secara ketat tidak mengubah sikap dan perilaku, baik relasi dengan Tuhan mau pun sesama. Seharusnya pelaksanaan hukum dan aturan agama makin mengembangkan bagaimana menjalin relasi dengan Tuhan dan sesama, bukan sebaliknya. Mereka sebagai kelompok elit tidak memberikan keteladanan hidup seperti menegakkan keadilan, mengembangkan belas kasih, atau keadilan. Mereka justru mengambil keuntungan dari kelemahan masyarakat. Kata-kata “menelan rumah janda-janda” merupakan ungkapan jelas mengenai hal itu. Doa bukan jalan untuk lebih mendekatkan diri pada Allah, melainkan sebagai sarana untuk mendapatkan keuntungan termasuk keuntungan material.

Kritik pedas kepada sikap mereka ini sebenarnya juga berlaku untuk zaman ini. Siapakah orang Farisi dan ahli Taurat (kitab) pada jaman ini. Barangkali anda dapat menyaksikan hal ini dalam kehidupan ini. Paling tidak, kritik Yesus itu menjadi inspirasi dalam hidup kita agar kita tidak masuk dalam kelompok yang eksklusif. Hidup kita harus meneladani ajaran Yesus agar kita semua memiliki voucher untuk memasuki Kerajaan Surga.

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 25 August, 2014 Leave A Comment Permalink

Kritik terhadap kemunafikan hidup.

Renungan Kuasa Doa hari diangkat dari bacaan Injil Matius 23:1-12 dengan thema:” Kritik terhadap kemunafikan hidup “. Hari ini Yesus mengritik sikap dan cara hidup orang Yahudi khususnya kelompok orang Farisi dan ahli Kitab. Bagaimana kisahnya? Sekali peristiwa, berkatalah Yesus kepada orang banyak dan murid-murid-Nya. Kata-Nya:” Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kau turuti perbuatan mereka, karena mereka mengajarkan , tetapi tidak melakukannya”. Kemudian Yesus menambahkan:” Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang. Mereka mengenakan tali sembahyang yang lebar dan jumbai panjang. Mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi”

Para ahli kitab adalah kaum intelek yang religius, ahli dalam menapsirkan Perjanjian Lama dan menerapkannya dallam hidup sehari-hari. Orang Farisi termasuk dalam persekutuan persaudaraan yang mengungkapkan keakraban mereka dengan makan bersama dan membanggakan diri karena menaati hukum dengan sebaik-baiknya. Tidak setiap ahli kitab adalah orang Farisi. Dikatakan bahwa para ahli kitab dan orang farisi telah menduduki kursi Musa, suatu gambaran untuk melukiskan kursi kehormatan dalam rumah ibadat dari mana seorang guru menyampaikan ajarannya. Para pendengar didesak untuk mendengarkan ajaran mereka, tetapi mereka sendiri tidak melakukannya.

Mereka suka meletakkan beban berat kepada orang lain, tetapi mereka sendiri tidak melaksanakannya. Dengan kata lain, para lawan-lawan Yesus ini hidup penuh dengan kemunafikan. Mereka maunya disebut pemimpin, guru, atau rabi, atau pun gelar lainnya, namun semuanya itu agar dipuji oleh orang lain. Kemunafikan itu tercermin dalam perbuatan mereka. Oleh karena itu Yesus mengritik perbuatan mereka, dan tidak perlu mencontoh hidup mereka yang sarat kemunafikan itu. Perkataan dan perbuatan mereka tidak sejalan.

Kritik pedas Yesus kepada cara hidup mereka juga berlaku untuk saat ini. Banyak orang dalam hidupnya suka mencari penghormatan, pujian dari orang lain, namun mereka itu sebenarnya tidak melakukannya. Itulah contoh kemunafikan hidup. Yesus tidak menghendaki cara hidup mereka. Perhatikan kata-kata Yesus:” Siapa pun yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan”. Tentu saja apa yang disampaikan Yesus ini berkaitan dengan tujuan akhir hidup manusia (ekskatologis).

Demikian renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan beserta kita.-***

kuasa 23 August, 2014 Leave A Comment Permalink