Kuasa Doa

Kuasa Doa

Media Informasi Iman Katholik online

Yesus sebagai tanda pertentangan.

Renungn Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Lukas 12:49-53 dengan thema:” Yesus sebagai tanda pertentangan”. Mengapa Yesus berbicara demikian? Injil Lukas hari ini mengisahkan Yesus yang mengajar para murid-Nya. Ia mengatakan:” Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala!Aku harus menerima baptisan dan betapa susah hati-Ku sebelum hal itu berlangsung. Kalian sangka Aku datang membawa damai ke bumi?Bukan! Buakn damai, melainkan pertentangan! Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, bapa melawan puteranya, dan putera melawan bapaknya, ibu melawan puterinya, dan puterinya melawan ibunya, ibu mertua melawan menantu dan menantu melawan ibu mertuanya”.

Bagaimana memahami ajaran Yesus ini! Jika membaca sepintas, seolah Yesus seorang provokator. Pada hal selalu dikatakan bahwa Yesus adalah pembawa damai. Tentu saja kehadiran Yesus selalu membawa damai, tapi kata-kata Yesus hari ini cukup menyulitkan bagi banyak orang. Apakah itu memang kehendak Yesus untuk saling bertentangan. Karena nampaknya pertentangan itu bukan semata dengan orang lain, tetapi juga pertentangan dalam keluarga antara orang tua melawan anak dan sebaliknya, antara menantu melawan mertua dan sebaliknya.

Yesus sebagai tanda pertentangan dimaksudkan bahwa kehadiran Yesus menjadikan sebuah pertentangan, namun bukan asal pertentangan, melainkan pertentangan demi suatu kebenaran dan kebaikan. Dikatakan oleh Yesus bahwa Ia datang melempar api dan mengharapkan api itu menyala. Api adalah Roh Kudus, Roh Yesus yang membawa hikmat, pengertian, keperkasaan, pengenalan akan Allah, kesalehan dan takut Allah. Demi terwujudnya karunia Roh Kudus itu, orang bisa bersikap tegas dan hal inilah yang antara lain menimbulkan pertentangan. Oleh karena itu, bisa dipahami kalau seseorang itu marah karena demi kebenaran.

Dalam menjalani kehidupan ini, memang harus tegas menentukan pilihannya. Ketegasan itu perlu demi sebuah kebenaran. Yesus adalah kebenaran itu sendiri sebagai dikatakan:”Akulah jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Dengan kata lain, pertentangan itu merupakan perang bathin untuk memilih antara kebenaran dan kejahatan. Tentu hal ini akan berlaku untuk siapa saja termasuk di dalam kehidupan berkeluarga. Kebenaran hakiki harus dicari dan didapatkannya karena kebenaran pada diri Yesus adalah kebenaran Ilahi.

Yesus sebagai tanda pertentangan itu sudah dinubuatkan oleh Simeon ketika Yesus dipersembahkan di dalam bait Allah. Salah satu nubuatan Simeon antara lain bahwa Yesus akan menjadi tanda pertentangan bagi banyak orang (Luk 2:34).

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 23 October, 2014 Leave A Comment Permalink

Menjadi hamba yang baik.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Lukas 12:39-48 dengan thema ‘menjadi hamba yang baik’. Injil Lukas hari ini antara lain mengisahkan tentang bagaimana menjadi hamba yang baik. Hamba yang baik itu dikatakan sbb:”Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya ketika tuan itu datang. Tetapi bila itu jahat dengan memukuli hamba yang lain, pria dan wanita, dan makan minum serta mabuk, maka tuannya akan membunuh dia serta membuat dia senasib dengan orang-orang yang tidak setia. Yesus juga menambahkan dengan mengatakan:”Hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan. Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut darinya. Dan barangsiapa dipercaya banyak, lebih banyak lagi yang dituntut darinya”.

St. Yohanes Paulus II, pelayan agung.

Inspirasi bathin dari ajaran Yesus hari ini antara lain bahwa hamba yang baik bukan sekedar menunggu perintah tuannya, tetapi juga peka terhadap kebutuhan tuannya. Hamba yang baik tidak mumpung dalam artian memanfaatkan kedudukannya untuk kenikmatan dan kesenangan dirinya sendiri. Bagi seorang hamba, kebahagiaan utama adalah ketika majikan yang dilayani merasa puas akan pelayanan yang diberikannya. Yesus menegaskan semakin tinggi jabatan seseorang, makin tinggi pula tanggungjawab yang dituntut darinya. Pelayan yang baik memanfaatkan kedudukannya untuk menggembirakan tuannya.

Sebenarnya menjadi hamba yang baik tidaklah susah, jika mau. Hal yang sangat mempengaruhi dalam hidup kita yang utama adalah kemauan dan kehendak baik. Kehendak baik merupakan kehendak bebas yang dimiliki oleh setiap orang. Kehendak bebas ini pula yang menentukan apakah orang itu selamat atau binasa.

Menjadi hamba yang baik tentu saja akan mendapat ganjaran sesuai dengan fungsinya dan dilaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Menjadi hamba yang baik bagi umat beriman adalah melaksanakan kehendak Bapa di surga. Jika hal ini dilaksanakn dengan baik, maka pada suatu saat tuan kita atau majikan kita yakni Yesus Kristus Juru Selamat kita akan menyongsong kita untuk memasuki Kerajaan Allah sesuai dengan janji-Nya.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 22 October, 2014 Leave A Comment Permalink

Menanti kembalinya Sang Majikan.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Lukas 12:35-38 dengan thema ‘ Menanti kembalinya Sang majikan’. Thema ini diangkat dari kisah Yesus yang berbicara dengan para murid-Nya. Dalam ajaran-Nya, Yesus menegaskan sbb:” Hendaklah pinggangmu tetap terikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kalian seperti orang yang menanti-nantikan tuannya pulang dari pesta nikah, supaya jika tuannya datang dan mengetuk pintu, segera dapat dibukakan pintu. Berbahagilah hamba yang didapati tuannya sedang berjaga ketika ia datang…”.

Inspirasi bathin dari Injil Lukas hari ini antara lain bahwa kita semua diminta untuk terus dan tetap berjaga-jaga setiap saat. Hal ini penting sebab tak seorang pun tahu kapan hadirnya majikan (Yesus). Iman kita mengatakan bahwa Yesus pasti datang, namun tak seorang pun yang tahu. Jalan yang paling pas adalah untuk terus berjaga-jaga. Dengan cara itu, jika majikan datang, kita segera membukakan pintu masuk.

Kedatangan Yesus pada akhir jaman (parousia) akan terjadi, cuma waktunya kapan tak seorang pun tahu. Siap siaga, waspada, dan terus berjaga-jaga, itulah caranya yang paling pas. Kata-kata Yesus seharusnya menjadi inspirasi dalam kehidupan kita agar kita untuk terus berjaga-jaga. Untuk itu, kita harus menjadi pelita yang menyala.

Bagaimana kita memelihara pelita tetap menyala? Bunda Maria dari Medjugorje menegaskan bahwa ada 5 cara untuk memelihara pelita untuk tetap dapat menerangi sekelilingnya. Ke lima cara itu antara lain bahwa banyak berdoa, membaca Firman (Kitab Suci), mati raga, rekonsiliasi dan Ekaristi. Kelima cara inilah yang memungkinkan kita dapat memelihara pelita untuk tetap menyala. Sekiranya kita dapat menjaga kelima cara itu, mudah-mudahan kita selalu siap menyongsong kehadiran (kembalinya) Sang Majikan.

Apakah kita sudah memelihara pesan Bunda Maria itu? Andalah sendirlah yang tahu.

Demikianlah renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 21 October, 2014 2 Comments Permalink

Orang kaya yang miskin.

Renungan singkat Kuasa Doa hari ini diangkat dari Injil Lukas 12:13-21 dengan thema:” Orang kaya yang miskin”. Dalam pengajaran-Nya kepada orang banyak, Yesus berkata:” Berjagalah – jagalah terhadap segala ketamakan! Sebab walaupun seseorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung dari kekayaannya”. Untuk itu Yesus memberikan sebuah perumpamaan sbb:” Ada seorang kaya, tanhanya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya ‘Apakah yang harus kuperbuat, sebab aku tidak punya tempat untuk menyimpan segala hasil tanahku. Kemudian ia menambahkan ‘jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya. beristirahatlah, makanlah, minumlah, dan bersenang-senanglah”. Tetapi Allah bersabda kepadanya:” Hai orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu? Bagi siapakah nanti apa yang telah kausediakan itu?Demikianlah jadinya dengan orang yang menimbun harta bagi dirinya sendiri, tetapi ia tidak kaya di hadapan Allah”.

Inspirasi Injil Lukas hari ini antara lain bahwa orang kaya tentu saja akan membuat iri banyak orang, sedemikian kayanya sehingga tidak mempunyai tempat untuk menyimpan seluruh harta bendanya. Tetapi, orang seperti itu menurut Yesus adalah orang kaya yang bodoh, karena di tengah kekayaannya ia kehilangan hal yang sangat penting yakni kepekaan mengenai sebenarnya yang sangat penting. Ia mengira dapat mengendalikan hidupnya. Harta kekayaan memunculkan ilusi semacam itu. Orang kaya seperti itu sebenarnya miskin dihadapan Allah. Saking kayanya, ia tidak sempat berpikir mengenai kemungkinan berbagi dengan sesama. Banyak orang barangkali sering mengatakan bahwa ia sanggup menjamin keselamatan kita tanpa campur tangan dari Allah. Harta yang berlimpah seolah mengatur masa depan dan nasib kita.

Dalam hal ini, mari kita mendengarkan nasihat St. Paulus. Ia mengajak kita agar kita tidak menjadi sombong dan memegahkan diri sebab keselamatan bukanlah hasil pekerjaan kita, melainkan berkat kemurahan Allah. Keselamatan tidak dijamin oleh harta yang melimpah, tetapi oleh kasih Allah yang melimpah. Allahlah yang kaya, bukan kita. Allah yang kaya dengan rahmat telah menghidupkan kita dan tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi sombong dan memegahkan diri ketika kita berlimpah harta,tetapi tidak menjadi kaya di hadapan Allah. Prinsip hidup ini adalah saling berbagi.-

Demikian renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-

kuasa 20 October, 2014 Leave A Comment Permalink

Kewajiban untuk Allah dan negara.

Renungan Kuasa Doa hari Minggu ini diangkat dari Injil Matius 22:15-21 dengan thema :” Kewajiban untuk Allah dan negara”. Thema ini merupakan inspirasi Injil Matius ketika orang Farisi dan kelompok penganut Herodes berusaha menjerat Yesus. Dalam upaya menjerat Yesus, mereka bertanya kepada Yesus, katanya:” Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajarkan jalan Allah, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami, pendapat-Mu:’Bolehkah membayar pajak kepada kaisar atau tidak? Tetapi, Yesus mengetahui kejahatan hati mereka. Maka berkatalah Ia kepada mereka:” Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu”. Mereka membawa suatu dinar kepada Yesus. Maka Yesus bertanya kepada mereka’ gambar dan tulisan siapakah ini?’ Jawab mereka:” Gambar dan tulisan kaisar!”. Lalu Yesus berkata kepada mereka:” Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah”.

Dari Injil Matius tergambar, bahwa usaha orang Farisi dan Herodian untuk menjerat Yesus gagal. Mereka masih belum menerima dan mengerti siapakah sosok Yesus yang sejatinya. Mereka ini ibarat musang berbulu domba. Pura-pura bertanya baik-baik kepada Yesus, tetapi hati mereka busuk ingin menjebak Yesus. Mereka mendekati Yesus dengan cara membujuk tetapi juga penuh dengan kemunafikan. Kemudian mereka melemparkan pertanyaan tentang boleh dan tidak bolehnya membayar kepada kaisar. Mengapa? Orang-orang Farisi (yang sebagai orang religius menolak membayar pajak kepada pemerintahan asing) dan orang Herodian (yang mungkin mengurus sistem pajak di Palestina). Mengetahui kemunafikan mereka, Yesus menghindari jebakan mereka dengan meminta untuk memperlihatkan mata uang yang di dalamnya terdapat gambar dan nama kaisar. Dalam perdebatan mereka, Yesus berhasil mempermalukan mereka, sehingga mereka terus mencari kesempatan bagaimana menjebak Yesus dan suatu saat menangkap-Nya.

Inspirasi dari Injil Matius hari Minggu ini antara lain adalah tentang adanya dua kewajiban yang fundamental bagi kita semua. Sebagai warga negara yang baik, hukumnya wajib untuk membayar pajak kepada negara dan sebagai orang beriman (beragama), hukumnya wajib untuk bakti kepada Allah. Dengan kata lain, kewajiban untuk Allah dan kewajiban untuk negara harus dilaksanakan oleh setiap warga negara yang baik. Hal ini terjadi agar hubungan antara warga dan negara menjadi harmonis, sementara itu sebagai umat beriman, kewajiban kita adalah melaksanakan kehendak Bapa di surga yakni percaya kepada Yesus sebagai Allah dan sebagai manusia dan melaksanakan ajaran-ajaran-Nya. Jika demikian, maka kita akan memperoleh damai sejahtera. Dengan cara itu pula, maka kita sudah mencicipi Kerajaan Allah yang ada di dunia.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari Minggu ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 19 October, 2014 Leave A Comment Permalink

Tuaian banyak, tetapi pekerjanya sedikit.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Lukas 10:1-9 dengan thema:” Tuaian banyak, tetapi pekerjanya sedikit”. Thema ini diangkat dari kisah Yesus yang mengutus 70 murid-Nya untuk pergi berdua-dua mendahului Yesus, terutama ke tempat yang hendak dikunjungin-Nya. Dalam kesempatan itu Yesus berkata:” Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya”. Kemudian Yesus menambahkan:”Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerjanya untuk tuaian itu”. Dalam tugas perutusan itu, Yesus juga berpesan bahwa Ia mengutus mereka seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah:” Damai sejahtera bagi rumah ini”.

Hari ini Gereja juga merayakan pesta St. Lukas penginjil.Santo Lukas, Penginjil adalah pengarang Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (Kisah Para Rasul 1:1), dan disebutkan sebagai “tabib yang kekasih” oleh Rasul Paulus (Kolose 4:14), yang didampinginya selama tugas-tugas misionaris Santo Paulus (Kisah Para Rasul 16:10-40).

Santo Lukas Penginjil

Santo Lukas adalah orang Yunani yang menjadi Kristen, satu-satunya pengarang Injil yang bukan Yahudi. Dalam surat Kolose 4:10-14, Rasul Paulus menyebutkan sahabat-sahabat yang bersamanya dari golongan mereka yang bersunat, dengan kata lain Yahudi, dan dia tidak memasukkan Santo Lukas dalam group ini. Injil Lukas adalah satu-satunya yang menyebutkan perumpamaan “orang Samaria yang baik hati” (Lukas 10:25-37), Yesus yang memuji iman kaum non-Yahudi seperti janda di Sarfat di tanah Sidon dan Naaman orang Siria (Lukas 4:25-27), dan kisah seorang Samaria penderita kusta yang berterima kasih (Lukas 17:11-19). Hanya dari Injil Lukas kita mendapat nyanyian pujian Maria (magnificat). Menurut sejarawan Eusebius, Santo Lukas lahir di Antiokia, Siria.

Pengampunan dan belas kasih Allah kepada para pendosa juga sangat penting bagi Santo Lukas. Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar kisah tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32). Hanya dalam Injil Lukas kita mendengar wanita pendosa yang membasuh kaki Yesus dengan airmatanya (Lukas 7:36-50). Sepanjang Injil Lukas, Yesus berpihak kepada yang ingin kembali kepada kemurahan Tuhan. Membaca Injil Lukas memberi gambaran yang jelas akan sifatnya yang mengasihi orang miskin, yang menginginkan pintu Kerajaan Allah terbuka bagi semua orang, yang menghargai para wanita, yang melihat adanya harapan belaskasih Allah bagi semua orang.

Kisah Santo Lukas setelah meninggalnya Santo Paulus tidak diketahui dengan pasti. Beberapa penulis sejarah mengatakan bahwa ia menjadi martir, sementara lainnya mengatakan ia berumur panjang. Dalam dunia seni, dia digambarkan dengan seekor lembu atau domba (karena Injil karangannya dimulai dengan adegan kurban persembahan di Sinagoga/Bait Suci). Lambangnya adalah seekor lembu yang bersayap. Santo Lukas adalah santo pelindung para dokter dan ahli bedah. Dirayakan tiap tanggal 18 Oktober setia[ tahunnya.

‘Tuaian banyak, tetapi pekerjanya sedikit’, demikian thema Kuasa Doa hari ini. Artinya tugas perutusan untuk mewartakan khabar keselamatan (Injil) tetap terbuka sepanjang jaman. Gereja sebagai wakil Kristus di dunia terus menggerakkan hati umatnya untuk tak henti-hentinya mewartakan ‘Kerajaan Allah sudah dekat”, dalam artian mewartakan Kristus yang membawa damai sejahtera. Siapa pun yang mengalami damai sejahtera, berarti ia telah mencicipi Kerajaan Allah, karena ia telah menerima Kristus sebagai jalan, kebenaran dan hidup (Yoh 14:6).

Demikian renungan singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 18 October, 2014 Leave A Comment Permalink

Jauhkan dari rasa rakut.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Lukas 12:1-7 dengan thema:” Jauhkan dari rasa takut”. Injil Lukas hari ini mengajarkan tentang ‘menjadi murid tanpa takut’. Yesus mengajarkan hal ini kepada para murid-Nya di dalam pewartaan Kerajaan Allah. Dalam tugasnya, mereka akan menyaksikan bahwa akan ada perlawanan dari para pemimpin agama. Yesus mengingatkan terhadap kemunafikan orang-orang Farisi. Dalam hal ini Yesus mengajarkan bahwa kehormatan lahiriah tidak akan menyembunyikan apa yang ada di bawahnya. Semua rahasia pribadi akan terbuka pada waktu penghakiman.

Dalam kaitan ini, Yesus menegaskan bahwa para murid-Nya harus terbuka terhadap Injil, dam membuang rasa takut. Manusia hanya dapat membunuh tubuh. Satu-satunya yang harus ditakuti adalah Allah, karena Allah lah yang memutuskan hidup atau mati, anugerah atau penghukuman. Namun, ketakutan itu bukan dalam semangat seorang budak terhadap majikannya yang kejam, karena Allah adalah Bapa kita. Perhatikan, betapa Allah memelihara segala ciptaan-Nya termasuk burung pipit yang kurang berharga. Oleh karena itu, Yesus menegaskan hanya takut kepada Allah saja, yang sangat berkuasa atas hidup dan mati kita.

Santo Ignatius dari Antiokhia

Hari ini Gereja juga merayakan pesta St. Ignatius dari Anthiokia, seorang uskup dan juga seorang martir sekitar tahun 107 di Roma. Santo Ignatius mempunyai keistimewaan yakni keinginannya yang menggebu-gebu untuk segera berjumpa dan bersatu dengan Tuhan Yesus melalui jalan kemartiran. Ketika mendengar bahwa orang-orang Kristiani di Roma mengupayakan pembebasannya, St. Ignatius menulis surat kepada mereka agar mereka tidak menghalangi kemartirannya. Ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Yesus. “Lebih baik bagiku mati untuk Kristus Yesus dari pada berkuasa sampai di ujung bumi. Kucari Dia yang telah wafat bagiku: kurindukan Dia yang telah bagkit bagi kita. Izinkanlah aku meneladani penderitaan Allahku”.

Santo Ignatius sangat menghayati semangat Injil hari ini:” janganlah kalian takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh, kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi”. Kesucian dan kemartiran Santo Ignatius dapat menjadi teladan kita untuk menghayati hidup hari ini. Mungkin kita tidak dikaruniai kemartiran seperti St. Ignatius, tetapi menghayati hidup untuk memperoleh bagian yang dijanjikan yaitu persatuan dengan Tuhan Yesus tetaplah menjadi yang terpokok dalam hidup kita.

Renungan Kuasa Doa hari ini mau menambahkan bahwa yang harus dicari, diupayakan, dan dipelihara adalah Injil keselamatan, dan ini semua akan terjadi karena karunia Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Karena Roh Kudus adalah jaminan bahwa kita akan memperoleh seluruh warisan, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 17 October, 2014 Leave A Comment Permalink

Orang Yahudi berusaha menangkap Yesus.

Renungan Kuasa Doa hari diambil dari Injil Lukas 11:47-54 dengan thema:” Orang Yahudi berusaha menangkap Yesus”. Nampaknya ajaran Yesus kepada orang banyak menyebabkan orang-orang Yahudi khususnya kaum Farisi dan ahli Taurat makin terpojok. Kata-kata Yesus sangat pedas dan banyak di antara mereka yang tersinggung. Oleh karena itu mereka terus mengintai dan mengajukan dengan rupa-rupa persoalan. Tapi tujuan mereka yang utama adalah ingin menjebak dan menangkap-Nya. Kata-kata Yesus yang keras mengecam mereka:” Celakalah kamu…”, betapa Yesus sangat mengecam sikap hidup mereka. Dengan dalih agama, mereka memutarbalikkan keadaan, seolah mereka ini menjalani kehidupan keagamaan yang paling benar. Dalam menjalankan perintah agama, mereka lebih banyak memberi beban kepada orang banyak, sementara mereka sendiri tidak melakukannya. Sikap munafik inilah yang sangat dikecam Yesus. Namun mereka tidak terima sikap Yesus, dan oleh karenanya mereka berusaha menangkap Yesus dan bahkan membunuh-Nya.

Orang Farisi dan ahli Taurat makin merajuk karena pengikut Yesus makin hari makin banyak. Apalagi mereka juga merasa iri hati dan dengki bagaimana Yesus mempunyai kuasa Ilahi yang luar biasa seperti orang sakit menjadi sembuh, yang kerasukan roh jahat menjadi terbebas, dan bahkan angin ribut saja bisa ditenangkan. Kondisi inilah yang menjadikan orang Farisi dan ahli Tauratg makin geram dan berusaha terus memata-matai. Para pengikut Yesus ini adalah mereka yang berasal dari para pengikut orang Farisi dan ahli Taurat.

Setiap dari kita, orang-orang Kristiani, dipanggil untuk menjadi imam, nabi dan raja. Nabi dan rasul diutus Allah untuk mewartakan ajaran Tuhan yakni kasih.Yesus datang ke dunia untuk menjadi nabi, yang mewartakan kebenaran, karena Dia sendiri adalah kebenaran (lih. Yoh 14:6). Yesus juga datang ke dunia, sebagai imam yang menyediakan Diri-Nya sendiri sebagai Korban dan sekaligus Imam Agung dengan kematiannya di kayu salib. Yesus juga datang sebagai raja, yang memperbaharui kerajaan Daud – bukan sebagai raja di dunia ini, namun sebagai Raja di setiap hari umat manusia dan juga menjadi Raja di dalam Kerajaan Sorga. Katekismus Gereja Katolik mengatakan “Yesus Kristus diurapi oleh Bapa dengan Roh Kudus dan dijadikan “imam, nabi, dan raja“. Seluruh Umat Allah mengambil bagian dalam ketiga jabatan Kristus ini, dan bertanggung jawab untuk perutusan dan pelayanan yang keluar dari-Nya.

Karena Kristus sendiri yang mendirikan Gereja Katolik, maka tiga tugas utama ini terus dijalankan oleh Gereja Katolik. Sebagai nabi, maka Gereja Katolik harus terus mewartakan kebenaran Kristus, mewariskan harta pusaka kebenaran ini dari satu generasi ke generasi secara murni. Tugas pewartaan ini termasuk evangelisasi, katekese, dll. Tugasnya sebagai imam terutama adalah dengan terus memberikan sakramen-sakramen, sehingga Gereja dapat terus membantu umat Allah untuk senantiasa memperoleh rahmat Allah. Sedangkan tugasnya sebagai raja adalah dengan terus melayani umat dan mengatur Gereja, yang memang mempunyai dimensi hirarki dan institusional.

Oleh karena itu, tiga tugas utama Kristus, sebagai nabi, imam dan raja juga diberikan kepada umat Allah. Sebagai umat Allah, kita harus menjalankan tugas sebagai nabi dengan terus berpegang pada kebenaran dan hidup menurut kebenaran yang telah ditetapkan oleh Kristus melalui Gereja-Nya. Umat Katolik juga diajak untuk turut aktif dalam setiap karya pewartaan, baik melalui katekese, kesaksian hidup, dll.

Demikianlah renungang singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 16 October, 2014 Leave A Comment Permalink

Menyalibkan kedagingan.

Hari ini Gereja merayakan pesta Santa Theresia Avila, Perawan dan Pujangga Gereja, sementara thema Kuasa Doa hari ini adalah menyalibkan kedagingan. Di antara para wanita kudus di dalam sejarah Gereja, tak diragukan lagi St. Teresa dari Avila adalah orang yang menanggapi Kristus dengan hati yang bernyala-nyala. Ia dipanggil untuk menjadi sahabat Kristus. Teresa juga membuka jalan-jalan baru bagi kesetiaan dan pelayanan kepada Bunda Gereja yang kudus.

Teresa lahir di Avila, Spanyol pada tanggal 28 Maret 1515. Ayahnya bernama Alonso Sanchez de Cepeda. Ibunya Beatrice de Ahumada berasal dari keluarga bangsawan yang beriman teguh akan Kristus. Sejak kecil Teresa sudah mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya. Teresa memiliki seorang kakak perempuan, 4 orang kakak laki-laki dan 6 orang adik. Ibu Beatrice adalah istri ke-2. Istri pertama Alonso telah meninggal sebelum Alonso menikah dengan Ibu Beatrice, dan melahirkan 3 orang anak. Sejak kecil Teresa sering membicarakan Tuhan bersama kakaknya yang berusia 4 tahun lebih tua, yaitu Rodrigo. Keduanya sangat akrab dan memiliki hobi membaca mengenai kehidupan Santo/Santa.

Pada saat Teresa berusia kurang lebih empat belas tahun, ibunya meninggal. Dengan penuh kesedihan dia berlutut di hadapan patung Bunda Maria saat ditinggal pergi oleh ibunya. Ia memohon agar sejak saat itu Bunda Maria menjadi Bunda pelindungnya. Karena ketulusan hati dan imannya, sejak saat itu segala permohonan doanya melalui perantaraan Bunda Maria selalu dikabulkan.

Pada saat berusia 20 tahun, Teresa diterima di Biara Karmel Avila, Spanyol. Keputusan untuk memasuki biara ini begitu mantap, meskipun pada mulanya ayahnya tidak mengizinkan putri kesayangannya itu menjadi seorang biarawati. Akan tetapi, cinta Teresa bagi Tuhan tak dapat dikalahkan oleh cintanya terhadap ayah dan keluarganya.

Teresa sangat berbahagia berada di biara Karmel, dan kebahagiaan Teresa mencapai puncaknya setelah mengikrarkan kaul kebiaraannya. Sayangnya tak lama kemudian, meskipun jiwa Teresa rela mengikuti Tuhan, tubuhnya lemah. Teresa mengalami sakit keras dan menjadi lumpuh, bahkan hampir dijemput maut. Dalam penderitaan sakitnya itu Teresa semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Pada saat-saat itu ia dikaruniai banyak rahmat oleh Tuhan. Di antaranya ialah kesabaran yang tidak tergoncangkan oleh penderitaan yang dialaminya. Dia senantiasa mengucap syukur dan terimakasih kepada Tuhan dan para suster yang merawatnya. Di dalam sakit lumpuh yang dideritanya beberapa tahun itu, Teresa banyak merenungkan tulisan-tulisan St. Gregorius, ajaran-ajaran Santo Hieronimus dan juga membaca buku-buku karangan santo Agustinus. Cinta kasih kepada Tuhan dan sesamanya semakin berkobar, sehingga ia juga banyak berdoa bagi pertobatan orang-orang berdosa. Selama sakitnya itu, Teresa juga bersahabat denga pamannya, Don Pedro. Ia diberi sebuah buku tentang doa mistik: Abjad Ketiga, karangan Osuna. Buku ini membimbing Teresa kepada doa kontemplasi.

Setelah mengalami kesembuhan kesucian Teresa semakin meningkat. Dorongan yang kuat untuk lebih mengabdi Tuhan semakin berkobar dalam hatinya. Teresa senantiasa mengucap syukur atas kesembuhannya dan tidak pernah jemu mengajak orang-orang untuk menghormati keluarga suci dari Nazareth yaitu Santo Yosef dan Bunda Maria yang telah menjadi perantara doa-doa untuk kesembuhannya.

Selama hidupnya di biara, Teresa banyak menulis karangan, di antaranya riwayat hidupnya, Jalan Kesempurnaan, dan Puri Batin. Beberapa karyanya yang ia tulis merupakan buah ketaatannya kepada Bapa Pengakuannya yang meminta ia untuk menulis.

“Riwayat Hidup” mengisahkan tentang kerahiman Allah terhadap diri Teresa. Dia menceritakan kejadian-kejadian penting di masa hidupnya. Isi dari buku ini lebih ditekankan pada pembahasan tentang doa. Bagi orang yang berniat untuk belajar mengenai doa bisa sangat terbantu dengan membaca buku ini

“Puri Batin” melukiskan tentang perjalanan rohani seseorang. Di dalam buku ini, perjalanan doa diumpamakan seperti seseorang yang akan memasuki suatu puri atau istana. Banyak kesulitan dan rintangan yang harus dilaluinya sebelum sampai di ruang pusat, yaitu tempat Raja bersemayam. Maksud dari pelukisan seperti itu adalah bahwa untuk mencapai persatuan doa yang mesra dengan Allah yang melebihi segala kebahagiaan duniawi, orang harus melalui pintu doa, dengan mengatasi segala kesulitan dan rintangan. Karya ini merupakan penyempurnaan dari karangan yang sudah ditulis sebelumnya, yaitu: “Jalan Kesempurnaan”.

“Jalan Kesempurnaan” ditulis oleh Teresa bagi suster-susternya dari biara pertama, Biara Santo Yosef di Avila. Tulisan ini didasari renungan-renungannya tentang doa Bapa Kami.

Teresa meninggal pada tanggal 15 Oktober 1582. Digelarkan menjadi orang Kudus oleh Gereja tanggal 12 Maret 1622, dan juga diberi gelar Pujangga Gereja putri pertama tanggal 27 September 1970.

Bagi Anda yang mungkin saat ini sedang mengalami krisis, ketakutan, atau kecemasan karena situasi yang tak menentu di dalam kehidupan ini: marilah kita belajar dan merenungkan kehidupan Santo Yosef dan Bunda Maria yang memeluk bayi Yesus, yang tidak pernah lalai untuk mencari dan melakukan kehendak Allah dalam segala kesulitan dan penderitaan mereka, sebagaimana yang dilakukan juga oleh Teresa dari Avila.

Dalam peziarahan hidupnya, ia telah meninggalkan sifat kedagingan. Perbuatan kedagingan seperti percabulan, kecemaran, hawa napsu, pemujaan berhala, sihir, percekcokan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah dan kedengkian, kembukan, pesta pora dan sebagainya. Jika kita tidak berani meninggalkan sifat kedagingan ini, maka kita tidak akan dapat memasuki Kerajaan Allah. Sekiranya kita mau menjalani hidup dalam Roh, seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, sikap lemah lembut, penguasasaan diri, maka kita bersama para kudus untuk memasuki Kerajaan Surga. Hidup dalam Roh, berarti kita menyalibkan kedagingan kita.

Oleh karena itu, sebagai orang beriman yang setia kepada Kristus, maka hidup para kudus dapat menjadi inspirasi pegangan hidup kita.

Demikianlah renungan Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 15 October, 2014 Leave A Comment Permalink

Berikanlah sedekah.

Renungan Kuasa Doa hari ini diambil dari Injil Lukas 11:37-41 dengan thema:” Berikanlah sedekah”. Thema ini diangkat dari kisah Yesus yang diundang seorang Farisi untuk makan dan minum. Ketika Yesus hendak makan, orang Farisi itu heran mengapa Yesus tidak mencuci tangan sebelum makan. Keheran orang Farisi itu menyebabkan Yesus berkata kepadanya:” Hai orang-orang Farisi, kalian membersihkan cawan dan pinggan bagian luar, tetapi bagian dalam dirimu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah yang menjadikan bagian luar, Dialah juga yang menjadikan bagian dalam? Maka, berikanlah isinya sebagai sedekah, dan semuanya akan menjadi bersih bagimu”.

Apakah makna ini semuanya. Membasuh tangan sebelum makan merupakan kebiasaan orang Yahudi sebelum makan. Adat kebiasaan adalah tradisi, dan bukan diharuskan oleh hukum. Masalahnya bukan pada hal-hal yang bersifat lahiriah, tetapi lebih dari itu. Yesus sebenarnya mengecam sikap orang Farisi yang menekankan hal-hal yang bersifat lahiriah, sementara sikap bathin dan perbuatannya tidak menunjukkan sikap yang religius. Oleh karena itu, Yesus mempersalahkan orang-orang Farisi yang menekankan agama lahiriah, sementara tidak memperhatikan kelakuan sendiri yang melanggar hal-hal hakiki.

Orang Farisi melaksanakan keagamaan yang bersifat lahiriah, sementara sikap bathinnya penuh dengan rampasan atau keserakahan serta kejahatan. Untuk itu, Yesus mengatakan bahwa Tuhan itu telah mencipatakan tidak hanya bagian luar saja, tetapi juga bagian dalam.

Tentang hal sedekah, Yesus mengatakan:” Berikanlah isinya sebagai sedekah, dan semuanya akan menjadi bersih bagimu”. Hal ini dimaksudkan berkaitan memberikan derma. Yesus tidak melarang seseorang menjadi kaya, tetapi Yesus akan mengutuk orang kaya yang tidak peduli kepada orang lain yang membutuhkan. Atau Yesus mengutuk orang yang memperbudak orang lain.

Hal penting yang dapat menjadi inspirasi bathin kita antara lain bahwa kita ahrus memiliki kemerdekaan hidup secara jelas, artinya menjalani hidup keagamaan yang orginial, bukan hanya bersifat lahiriah saja, tetapi adanya harmoni antara lahiriah dan bathiniah. Memberikan sedekah merupakan bagian menjalani hidup ini dengan peduli kepada sesama.

Demikianlah refleksi singkat Kuasa Doa hari ini, Tuhan memberkati.-***

kuasa 14 October, 2014 Leave A Comment Permalink